Loading...
AI DAN PENDIDIKAN
26/09/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Kolom 

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy


Kehadiran kecerdasan buatan (AI) di dunia pendidikan sepertinya sudah tidak mungkin dibendung. Dulu, ketika seorang siswa mendapat tugas, ia mencari jawaban di buku, bertanya kepada guru, atau pergi ke perpustakaan. Kini, cukup mengetik beberapa kalimat di layar telepon, jawaban bisa muncul dalam hitungan detik. Bahkan bukan hanya jawaban. AI dapat membantu membuat rangkuman, menyusun tulisan, menerjemahkan bahasa, menjelaskan pelajaran, sampai memberikan berbagai alternatif pemecahan masalah.


Pertanyaannya kemudian bukan lagi: bolehkah siswa menggunakan AI? Pertanyaan yang lebih penting adalah: untuk apa AI digunakan dalam pendidikan?

Sebab teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Pisau dapat digunakan untuk memasak, tetapi juga dapat digunakan untuk melukai. Demikian pula AI. Ia dapat menjadi asisten belajar yang luar biasa, tetapi juga dapat menjadi jalan pintas yang mematikan proses berpikir.

Di sinilah pendidikan menghadapi persoalan yang lebih serius daripada sekadar hadirnya teknologi baru.

Saya membayangkan seorang santri mendapat tugas menulis artikel. Ia kemudian meminta AI menyelesaikan seluruh tulisan. Beberapa detik kemudian, sebuah tulisan rapi sudah tersedia. Bahasanya bagus, strukturnya teratur, bahkan argumentasinya tampak meyakinkan. Tugas selesai.

Tetapi apakah santrinya belajar menulis?

Belum tentu.

Ia mungkin berhasil menyelesaikan tugas, tetapi belum tentu mengalami proses berpikir yang diperlukan untuk menjadi penulis. Padahal pendidikan bukan sekadar menghasilkan jawaban benar. Pendidikan juga membentuk kemampuan manusia untuk bertanya, mempertimbangkan, meragukan, mencari bukti, menyusun argumentasi, dan mengambil kesimpulan.

Karena itu, menurut saya, yang perlu diubah bukan hanya cara siswa menggunakan AI, tetapi juga cara guru memberikan tugas.

Kalau tugas hanya berbunyi, "Tulislah esai tentang pendidikan Islam", AI akan sangat mudah mengambil alih. Tetapi jika guru meminta siswa mengamati kehidupan di pesantrennya sendiri, mewawancarai seorang ustaz, mencatat persoalan yang ditemukan, kemudian menulis refleksi berdasarkan pengalaman tersebut, AI tidak dapat menggantikan seluruh proses itu.

Di sinilah pendidikan justru mempunyai kesempatan untuk naik kelas.

Guru tidak harus menjadi polisi yang sibuk mencari apakah pekerjaan murid dibuat oleh AI atau tidak. Guru lebih baik menjadi pembimbing yang mengajarkan bagaimana AI digunakan secara bertanggung jawab. Siswa boleh bertanya kepada AI, tetapi harus belajar memeriksa jawabannya. Siswa boleh meminta bantuan menyusun gagasan, tetapi tetap harus mempunyai gagasan sendiri. Siswa boleh menggunakan AI untuk memperbaiki bahasa, tetapi jangan sampai kehilangan suara pribadinya.

Sebab ada sesuatu yang tidak boleh diserahkan kepada mesin: proses menjadi manusia.

AI dapat membantu kita berpikir, tetapi pendidikan harus tetap mengajarkan manusia untuk berpikir. AI dapat menghasilkan kalimat, tetapi pendidikan harus membuat seseorang mempunyai sesuatu yang layak dikatakan.

Mungkin inilah tantangan terbesar pendidikan di era AI. Bukan bagaimana mengalahkan mesin, melainkan bagaimana memastikan manusia tidak menjadi malas berpikir karena terlalu nyaman dibantu mesin.

Sebab sekolah dan pesantren tidak didirikan hanya untuk menghasilkan orang yang mampu menjawab pertanyaan. Lebih dari itu, pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu mengajukan pertanyaan yang tepat—dan berani mencari jawabannya dengan akal, ilmu, pengalaman, serta tanggung jawabnya sendiri.


Gresik,  26 September 2026

AHMAD CHUVAV IBRIY 

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM