Loading...
Bisakah Orang yang Telah Wafat Memonitor Keadaan Dunia?
14/06/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy 


Belakangan ini muncul pernyataan yang mengundang perbincangan publik tentang kemungkinan seseorang tetap "memonitor" keadaan bangsa setelah dirinya wafat. Pernyataan semacam ini menarik untuk dikaji dari perspektif akidah dan tasawuf Ahlus Sunnah wal Jamaah. Benarkah orang yang telah meninggal masih dapat mengetahui keadaan dunia? Apakah para wali Allah memiliki hubungan tertentu dengan murid-muridnya setelah wafat? Dan di manakah batas antara keyakinan terhadap karamah para waliyullah dengan klaim yang berpotensi melampaui batas-batas tawadhu' seorang hamba di hadapan Allah SWT?

 Pertanyaan-pertanyaan inilah yang perlu dijawab secara jernih agar umat tidak terjebak pada sikap menolak seluruh tradisi tasawuf, tetapi juga tidak terjatuh pada pengagungan yang berlebihan terhadap manusia.

قال الشيخ السيد عبد الله بن علوي الحداد رضي الله  عنه : ان الأخيار اذا ماتوا لم تفقد منهم الا أعيانهم وصوارهم واما حقائقهم فموجودة فهم أحياء في قبورهم , واذا كان الولى حيا في قبره فإنه لم يفقد شيأ من علمه وعقله وقواة الرحانية بل تزداد أرواحهم بعد الموت بصيرة وعلما وحياة الرحانية وتوجها إلى الله , فإذا توجهت أرواحهم إلى الله تعالى في شيء قضاه سبحانه وتعالى وأجراه إكراما لهم.

سراج الطالبين للشيخ إحسان بن محمد

دحلان الجمفسي الكديري ج 1 ص 466.


Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad رضي الله عنه berkata:

"Sesungguhnya orang-orang saleh (al-akhyār) apabila wafat, yang hilang dari mereka hanyalah jasad dan rupa lahiriah mereka. Adapun hakikat mereka tetap ada. Mereka hidup di dalam kuburnya. Jika seorang wali hidup di dalam kuburnya, maka ia tidak kehilangan ilmu, akal, dan kekuatan ruhaniahnya. Bahkan ruh mereka setelah kematian bertambah tajam pandangannya, ilmunya, kehidupan ruhaniahnya, serta perhatiannya kepada Allah SWT. Maka apabila ruh mereka menghadap kepada Allah SWT dalam suatu perkara, Allah Yang Maha Suci-lah yang memutuskan dan menjalankannya sebagai bentuk pemuliaan kepada mereka."

(Dikutip dalam Sirāj ath-Thālibīn, Juz 1, hlm. 466)

Dari kutipan ini, para ulama tasawuf ingin menegaskan bahwa para wali memiliki kehidupan barzakh yang mulia dan ruh mereka tetap hidup dengan kehidupan yang khusus. 

Namun, penting dicatat bahwa teks tersebut tidak menyatakan para wali mengetahui segala sesuatu secara mutlak, dan tidak pula menyamakan mereka dengan sifat-sifat Allah  SWT. Semua yang terjadi tetap bergantung pada kehendak Allah SWT.

Karena itu, jika ada yang mengatakan:

"Para wali Allah SWT yang telah wafat masih memperhatikan murid-muridnya dengan izin Allah SWT" ; maka ungkapan seperti ini memiliki pijakan dalam sebagian literatur tasawuf Ahlus Sunnah.

Tetapi jika dikatakan:

"Saya nanti setelah wafat akan memonitor seluruh bangsa Indonesia"; maka itu adalah pernyataan yang berbeda konteksnya. Dalam tradisi para ulama dan wali, pembicaraan tentang kehidupan ruhani setelah wafat biasanya selalu dikaitkan dengan karamah, izin Allah SWT, dan kemuliaan yang Allah SWT berikan, bukan sebagai klaim kemampuan pribadi.

Maka kritik yang mungkin muncul bukan pada keyakinan adanya kehidupan ruhani para wali setelah wafat, melainkan pada kesan terlalu percaya diri (overclaim) ketika seseorang --sekalipun dia Presiden-- berbicara seolah-olah memiliki kemampuan mengawasi sebuah bangsa setelah meninggal dunia.

Wallāhu a‘lam.