Loading...
Cermin Kepemimpinan Buruk dalam Peringatan Rasulullah Saw
07/03/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Rasulullah Saw pernah memberikan peringatan yang sangat tajam tentang kemungkinan munculnya kepemimpinan yang buruk di tengah umat. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

سَتَكُونُ عَلَيْكُمْ أَئِمَّةٌ يَمْلِكُونَ أَرْزَاقَكُمْ، يُحَدِّثُونَكُمْ فَيَكْذِبُونَكُمْ، وَيَعْمَلُونَ فَيُسِيئُونَ الْعَمَلَ، لَا يَرْضَوْنَ مِنْكُمْ حَتَّى تُحَسِّنُوا قَبِيحَهُمْ وَتُصَدِّقُوا كَذِبَهُمْ، فَأَعْطُوهُمُ الْحَقَّ مَا رَضُوا بِهِ، فَإِذَا تَجَاوَزُوا فَمَنْ قُتِلَ عَلَى ذَلِكَ فَهُوَ شَهِيدٌ. رواه الطبرانى فى المعجم الكبير

Artinya: “Akan ada atas kalian para pemimpin yang menguasai rezeki kalian. Mereka berbicara kepada kalian lalu mereka berdusta. Mereka bekerja namun pekerjaan mereka buruk. Mereka tidak ridha kepada kalian sampai kalian menganggap baik keburukan mereka dan membenarkan kebohongan mereka. Maka berikanlah kepada mereka hak mereka selama mereka ridha dengan itu. Namun jika mereka melampaui batas, maka siapa yang terbunuh karena (menolak kezaliman itu) maka ia syahid.”(HR. Thabrani)

Hadits ini mengandung gambaran yang sangat jelas tentang karakter kepemimpinan yang rusak. Pertama, pemimpin seperti ini memiliki kekuasaan besar atas sumber-sumber kehidupan masyarakat. Mereka dapat menentukan arah ekonomi, kebijakan, bahkan masa depan rakyatnya. Namun kekuasaan itu tidak disertai dengan kejujuran dan tanggung jawab.

Rasulullah Saw  menggambarkan mereka sebagai pemimpin yang “berbicara lalu berdusta”. Artinya janji-janji mereka sering tidak sejalan dengan kenyataan. Dalam ruang publik mereka menyampaikan berbagai harapan, visi, dan komitmen, tetapi realitas kebijakan yang dijalankan justru menunjukkan hal sebaliknya.

Lebih dari itu, hadits ini juga menyebut bahwa mereka “bekerja namun pekerjaan mereka buruk”. Ini menggambarkan kebijakan yang tidak membawa maslahat bagi masyarakat. Kebijakan dibuat, program dijalankan, tetapi hasilnya justru menimbulkan kerusakan sosial, ketimpangan, atau penderitaan rakyat.

Namun yang paling berbahaya dari karakter pemimpin semacam ini adalah tuntutan legitimasi moral dari masyarakat. Nabi Saw menyebut bahwa mereka tidak akan ridha kepada rakyat sampai rakyat itu “memperindah keburukan mereka dan membenarkan kebohongan mereka.” Dengan kata lain, mereka tidak hanya ingin berkuasa, tetapi juga ingin dipuji meskipun melakukan kesalahan.

Di sinilah sering muncul budaya penjilatan kekuasaan. Kritik dianggap permusuhan, sementara pujian meskipun tidak jujur dianggap sebagai loyalitas. Akibatnya ruang publik menjadi tidak sehat, karena kebenaran sering dikalahkan oleh kepentingan politik dan kekuasaan.

Hadits ini sekaligus memberikan panduan sikap kepada masyarakat. Nabi Saw tidak mendorong kekacauan atau pemberontakan yang merusak stabilitas sosial. Selama pemimpin masih berada dalam batas tertentu, masyarakat diperintahkan untuk tetap menunaikan kewajiban mereka, seperti memberikan hak-hak yang menjadi kewenangan negara.

Namun batas itu tetap ada. Ketika kezaliman sudah melampaui batas—merampas hak dasar manusia, menumpahkan darah, atau menghancurkan kehormatan masyarakat—maka mempertahankan diri dan menolak kezaliman menjadi sesuatu yang dibenarkan. Bahkan Nabi Saw menyebut bahwa orang yang terbunuh dalam perjuangan mempertahankan hak tersebut termasuk mati syahid.

Pesan moral dari hadits ini sangat relevan bagi setiap zaman. Kekuasaan selalu memiliki potensi untuk disalahgunakan jika tidak dikawal oleh nilai moral dan keadilan. Karena itu masyarakat tidak boleh kehilangan keberanian untuk menjaga kebenaran.

Kepemimpinan yang baik bukanlah kepemimpinan yang menuntut pujian, melainkan kepemimpinan yang siap menerima kritik. Sebab kritik yang jujur sering kali menjadi jalan bagi lahirnya kebijakan yang lebih adil dan lebih berpihak kepada kemaslahatan rakyat.


Gresik,  17 Ramadhan 1447 H/7 Maret  2026 M.