Loading...
Di Tengah Kebisingan Dunia
13/02/2026 Admin Yayasan Bagikan:


Puisi Esai

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

 

Dunia tidak pernah benar-benar sunyi.

Ia berisik oleh pidato,

oleh klaim,

oleh janji yang berhamburan di udara,

oleh angka-angka yang diperdebatkan

seakan-akan surga dan neraka bergantung pada statistik.

Di layar-layar kecil,

kata-kata saling bertabrakan.

Komentar bersahut-sahutan.

Benar dan salah berkelahi

tanpa jeda untuk bernapas.

Dan di tengah semua itu,

ada jiwa-jiwa yang diam-diam lelah.

Bukan karena tak peduli.

Bukan karena tak punya sikap.

Tapi karena terlalu sering hati dipaksa

menjadi arena pertarungan

yang tak pernah selesai.

Kita hidup di zaman

di mana opini lebih cepat dari perenungan,

reaksi lebih deras dari refleksi,

dan kebisingan dianggap tanda kepedulian.

Padahal, tidak semua suara harus diikuti.

Tidak semua pernyataan harus dijawab.

Tidak semua provokasi layak menjadi santapan batin.

Ada saatnya jiwa berkata:

cukup.

Cukup menjadi penonton kegaduhan.

Cukup menimbang setiap kata yang dilemparkan angin.

Cukup mengunyah isu-isu yang tidak pernah benar-benar selesai.

Sebab hati juga punya hak untuk beristirahat.

Lelah itu bukan kelemahan.

Ia adalah tanda bahwa jiwa masih hidup.

Masih peka.

Masih peduli.

Yang mati justru mereka

yang tak lagi terusik oleh apa pun,

yang tak lagi merasa sesak oleh kebohongan,

yang tak lagi gelisah oleh ketidakadilan.

Tetapi bahkan kepedulian pun

butuh jeda.

Seperti siang yang perlu malam,

seperti ombak yang perlu surut,

seperti dada yang perlu hening

agar bisa kembali lapang.

Kebisingan duniawiah

sering menyamar sebagai kewajiban moral.

“Kau harus bicara.”

“Kau harus menanggapi.”

“Kau harus berada di barisan ini atau itu.”

Seakan-akan diam adalah dosa.

Seakan-akan rehat adalah pengkhianatan.

Padahal dalam sunyi

ada kebijaksanaan yang tak terdengar

oleh telinga yang terbiasa ribut.

Dalam diam,

akal kembali jernih.

Dalam sepi,

niat diperiksa ulang.

Dalam hening,

kita bertanya pada diri sendiri:

Apakah ini perjuangan,

atau sekadar kebiasaan berdebat?

Jiwa-jiwa yang lelah

tidak membutuhkan lebih banyak argumen.

Ia membutuhkan makna.

Ia rindu pada percakapan yang tidak berteriak.

Rindu pada kata-kata yang tidak memaksa.

Rindu pada ruang di mana perbedaan

tidak selalu berubah menjadi permusuhan.

Mungkin kita terlalu lama

menjadi prajurit dalam perang kata-kata.

Dan lupa bahwa kita juga hamba

yang membutuhkan ketenangan.

Bukankah dunia ini hanya persinggahan?

Hanya mampir “ngombe”.

Bukankah hiruk-pikuk ini hanya bayangan

yang suatu hari akan hilang

ditelan waktu?

Maka, jika hari ini engkau merasa lelah,

itu bukan tanda menyerah.

Itu tanda bahwa jiwamu meminta pulang.

Pulang kepada kesunyian yang menenangkan.

Pulang kepada doa yang tak perlu diperdebatkan.

Pulang kepada Tuhan

yang tidak pernah gaduh.

Biarkan dunia berbicara dengan segala kebisingannya.

Biarkan angka-angka saling beradu.

Biarkan opini berkejaran tanpa ujung.

Engkau tidak wajib hadir di setiap keramaian.

Kadang, menjaga kewarasan

adalah bentuk perjuangan yang paling sunyi.

Dan mungkin,

yang paling diridhai.

Jiwa suci itu

pelan-pelan merasa asing

di tengah gemuruh yang tak pernah reda.

Ia pernah ikut bersuara,

pernah ikut berlari

di antara kerumunan yang saling menyalahkan.

Namun semakin jauh melangkah,

semakin ia sadar—

bukan di sana rumahnya.

Ada rindu yang tak bisa dijelaskan

oleh argumentasi.

Ada panggilan yang tak terdengar

oleh telinga yang sibuk berdebat.

Rindu itu sederhana:

ingin kembali kepada Rabbil ‘Ālamīn,

dengan langkah yang ringan,

tanpa membawa dendam,

tanpa memikul kesombongan.

Ia ingin kembali

sebagai jiwa yang rāiyyah—

yang ridha atas takdir,

yang tenang dalam kehilangan,

yang lapang dalam ketidakmengertian.

Dan lebih dari itu,

ia berharap menjadi mariyyah

jiwa yang diridhai,

yang dipanggil dengan kelembutan,

bukan dengan teguran.

Maka setiap lelah

bukan lagi keluhan.

Setiap diam

bukan lagi kekalahan.

Semua adalah tanda

bahwa hati sedang diarahkan pulang—

menuju cahaya

yang tidak pernah gaduh,

menuju kasih

yang tidak pernah meninggalkan.

Di sanalah jiwa itu ingin berlabuh.

Tenang.

Utuh.

Dan diterima.

 

 

Gresik , 13 Februari 2026

Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik