Loading...
DUA MENTALITAS DALAM PERANG: RAKYAT ISRAEL DAN RAKYAT IRAN
10/03/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy 


عِشْ كَرِيمًا او مُتْ شَهِيدًا


‘Ish karīman aw mut shahīdan

“Hiduplah dengan mulia, dan jika harus mati maka matilah sebagai syahid.”

Kalimat ini sering dianggap sekadar slogan. Tetapi dalam situasi perang, ia berubah menjadi cara pandang hidup sebuah bangsa.

Hari ini kita menyaksikan dua pemandangan yang kontras.

Di Israel, sebagian warga yang masih bertahan memilih masuk ke bunker. Sebagian yang lain berusaha meninggalkan negeri itu. Bandara rusak, jalur transportasi terganggu, dan ribuan orang mencoba keluar menuju perbatasan Jordania atau negara lain yang dianggap lebih aman.

Naluri manusiawi tentu ingin selamat. Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi dalam kondisi seperti ini tampak satu hal yang menarik: ketika tanah menjadi medan perang, banyak yang memilih menjauh dari tanahnya sendiri.

Sebaliknya, dari Iran muncul pemandangan yang berbeda.

Alih-alih menjauh, banyak warga Iran yang berada di luar negeri justru ingin kembali. Padahal mereka sedang berada di negara yang relatif aman. Tetapi bagi sebagian dari mereka, tanah air bukan sekadar tempat tinggal, melainkan harga diri yang tidak bisa ditinggalkan saat sedang diuji.

Seorang pesepakbola Iran, Mehdi Terani, bahkan dikabarkan meninggalkan klubnya di Eropa untuk kembali ke Iran.

“Saat ini negara dan tanah air membutuhkan saya,” ujarnya.

Di dalam negeri, jutaan orang turun ke jalan menyatakan dukungan kepada kepemimpinan baru dan menunjukkan solidaritas nasional di tengah ancaman serangan.

Di sinilah perang tidak hanya menjadi pertarungan rudal dan teknologi militer.

Perang juga memperlihatkan mentalitas sebuah bangsa.

Ada bangsa yang dibentuk oleh logika kenyamanan hidup. Selama hidup aman dan makmur, semuanya terasa baik-baik saja.

Ada pula bangsa yang dibentuk oleh narasi kehormatan, pengorbanan, dan syahadah. Bagi mereka, hidup tanpa martabat tidak lebih berharga daripada kematian yang bermakna.

Sejarah sering menunjukkan satu pelajaran:

dalam perang panjang, yang menentukan bukan hanya senjata, tetapi daya tahan jiwa sebuah masyarakat.

Dua bangsa hari ini memperlihatkan dua cara pandang yang berbeda tentang tanah airnya.

Yang satu ingin selamat dari perang.

Yang satunya lagi ingin tetap berdiri di tengah perang.


Gresik, 21 Ramadhan 1447H/10 Maret 2026