Ada satu hal menarik dalam sejarah Nabi Muhammad ﷺ: kebesaran beliau tidak hanya dirasakan oleh orang-orang yang beriman kepadanya. Bahkan sejumlah pemikir, sejarawan dan penulis non-Muslim, setelah membaca perjalanan hidup beliau, memberikan kesaksian tentang keteguhan, ketulusan, kepemimpinan dan pengaruhnya yang luar biasa.
Tentu, kesaksian mereka bukanlah dalil kenabian. Seorang Muslim tidak membutuhkan pengakuan seorang Barat untuk meyakini bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah. Al-Qur'an telah menegaskan:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiya': 107).
Namun, kesaksian orang-orang di luar Islam menjadi menarik karena ia menunjukkan bahwa kebesaran Rasulullah ﷺ dapat terbaca bahkan dari kacamata sejarah manusia.
Salah satu yang paling terkenal adalah Michael H. Hart, seorang penulis dan peneliti Amerika. Dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, Hart menempatkan Muhammad ﷺ di posisi pertama tokoh paling berpengaruh dalam sejarah.
Hart menulis bahwa pilihannya mungkin mengejutkan sebagian pembaca. Alasannya sederhana tetapi sangat kuat: Muhammad ﷺ, menurut Hart, adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil secara luar biasa pada tingkat keagamaan sekaligus duniawi. Beliau adalah pendiri agama besar sekaligus pemimpin politik yang sangat efektif.
Ini menarik.
Sebab Hart tidak sedang menulis kitab sirah untuk kaum Muslimin. Ia sedang menyusun daftar tokoh yang paling memengaruhi perjalanan sejarah manusia. Dan Nabi Muhammad ﷺ ditempatkan di atas Newton, Yesus, Buddha, Confucius, Gutenberg, Einstein dan tokoh-tokoh besar lainnya.
Dengan kata lain, dari perspektif sejarah, pengaruh Nabi Muhammad ﷺ bukanlah pengaruh kecil.
Lebih dari satu miliar manusia hari ini mengikuti agama yang dibawa beliau. Bahasa Arab menjadi bahasa Al-Qur'an dan salah satu bahasa peradaban dunia. Nilai-nilai yang beliau bawa membentuk masyarakat, hukum, kebudayaan dan peradaban yang bertahan lebih dari empat belas abad.
Tetapi kesaksian yang lebih menarik datang dari Thomas Carlyle, sejarawan dan filsuf Skotlandia.
Pada 1840, Carlyle memberikan kuliah tentang “The Hero as Prophet” dan memilih Muhammad sebagai figur yang dibahasnya. Ia secara tegas menolak gambaran bahwa Muhammad adalah seorang penipu. Carlyle menyebut anggapan tersebut sebagai pandangan yang sudah tidak dapat dipertahankan. Ia bahkan menyatakan bahwa dirinya memandang Muhammad sebagai seorang nabi yang benar.
Carlyle juga melihat sesuatu yang sangat manusiawi dalam diri Nabi Muhammad ﷺ.
Ia menggambarkan kehidupan beliau yang sederhana: makanan yang bersahaja, rumah tangga yang tidak bermewah-mewah, bahkan memperbaiki sendiri sandal dan pakaiannya. Bagi Carlyle, gambaran seorang manusia yang mengejar kenikmatan dunia tidak cocok dengan kehidupan Muhammad ﷺ yang justru penuh kesederhanaan dan pengabdian.
Di sinilah kita menemukan sisi yang sering luput.
Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya seorang tokoh yang menang ketika memiliki kekuasaan. Beliau telah menunjukkan akhlak sebelum memiliki kekuasaan. Beliau dikenal sebagai al-Amîn, orang yang terpercaya, jauh sebelum menerima wahyu.
Ketika menjadi pemimpin Madinah, beliau tidak berubah menjadi manusia yang hidup dalam kemewahan. Ketika berada dalam posisi paling kuat di Makkah, beliau justru memilih memaafkan banyak orang yang sebelumnya menyakiti dan memusuhinya.
Karena itu, kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ tidak bisa hanya diukur dari luasnya wilayah yang pernah berada di bawah pengaruh umatnya.
Kebesaran beliau pertama-tama terletak pada kemampuannya mengubah manusia.
Dari masyarakat yang terpecah oleh kesukuan menjadi umat yang memiliki persaudaraan. Dari masyarakat yang mengenal kuat-lemah sebagai hukum sosial menjadi masyarakat yang mengenal tanggung jawab moral. Dari budaya jahiliah menuju masyarakat yang mengenal ilmu, keadilan, zakat, kasih sayang dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Washington Irving, penulis Amerika yang menulis Mahomet and His Successors pada 1850, juga termasuk penulis Barat yang secara serius mengkaji kehidupan Nabi Muhammad ﷺ.
Semua itu memberi kita satu pelajaran penting.
Kebenaran tidak menjadi benar karena banyak orang memujinya. Demikian pula kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ tidak menjadi mulia karena orang-orang Barat mengakuinya.
Kita mencintai Rasulullah ﷺ karena beliau adalah kekasih Allah dan utusan-Nya.
Namun, ketika orang yang berada di luar iman Islam membaca sejarah beliau lalu menemukan kejujuran, keteguhan, kesederhanaan dan pengaruh yang luar biasa, kita patut mengambilnya sebagai cermin.
Barangkali persoalannya bukan apakah dunia telah mengenal Nabi Muhammad ﷺ.
Persoalannya adalah: apakah umat Muhammad ﷺ masih mengenal akhlak Muhammad ﷺ?
Kita rajin memperingati Maulid. Kita membaca Barzanji, Diba'i dan Simthud Durar. Kita berdiri ketika mahallul qiyam. Kita melantunkan shalawat dengan penuh cinta.
Semua itu indah.
Tetapi cinta kepada Rasulullah ﷺ akan mencapai kesempurnaan ketika ia turun dari lisan menuju perilaku.
Ketika Nabi mengajarkan kejujuran, kita jujur.
Ketika Nabi mengajarkan amanah, kita amanah.
Ketika Nabi mengajarkan kasih sayang, kita tidak mudah membenci.
Ketika Nabi mengajarkan persaudaraan, kita tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling merendahkan.
Dan ketika Nabi ﷺ diutus sebagai rahmatan lil 'alamin, kita pun berusaha menghadirkan rahmat itu di tengah keluarga, pesantren, masyarakat, bangsa dan negara.
Maka, kesaksian orang-orang non-Muslim tentang Muhammad ﷺ sesungguhnya bukan tujuan akhir.
Ia hanyalah sebuah jendela.
Dari jendela sejarah itu, kita kembali melihat sosok yang sejak empat belas abad lalu telah dikenalkan Allah kepada manusia:
رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Rahmat bagi seluruh alam.
Dan tugas kita sebagai umatnya bukan sekadar membanggakan bahwa dunia mengakui kebesarannya.
Tugas kita adalah membuktikan bahwa umat Muhammad ﷺ masih mampu menghadirkan akhlak Muhammad ﷺ kepada dunia.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb