Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Ada sebuah kalimat yang terdengar seperti lelucon, tetapi sesungguhnya menyimpan ironi yang sangat dalam: kita menghabiskan masa muda demi mengejar uang, lalu menghabiskan uang demi menjaga kesehatan di masa tua.
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan jenaka. Ia adalah cermin perjalanan hidup banyak orang di zaman modern. Sejak usia muda, kita diajarkan untuk bekerja keras, mengejar karier, mengumpulkan harta, dan mencapai kesuksesan. Tidak sedikit yang rela mengorbankan waktu istirahat, kebersamaan dengan keluarga, bahkan kesehatan, demi mengejar target demi target.
Begadang dianggap sebagai tanda dedikasi. Makan tidak teratur menjadi kebiasaan. Olahraga dianggap tidak produktif karena "mengurangi waktu kerja". Kita merasa tubuh akan selalu kuat, seolah-olah kesehatan adalah sesuatu yang tidak akan pernah habis.
Namun waktu tidak pernah bisa ditipu. Ketika usia mulai bertambah, tubuh perlahan mengirimkan tanda-tandanya. Penyakit yang dahulu dianggap sepele mulai berdatangan. Tekanan darah meningkat, gula darah naik, jantung mulai bermasalah, dan berbagai keluhan lain muncul satu per satu. Ironisnya, uang yang dahulu dikumpulkan dengan susah payah kini digunakan untuk biaya rumah sakit, obat-obatan, dan berbagai upaya menjaga kesehatan.
Padahal, kesehatan bukan sekadar hasil dari pengobatan. Ia adalah buah dari gaya hidup yang dijaga sejak muda. Tubuh memiliki "tabungan kesehatan" yang terus kita isi atau kita kuras setiap hari melalui pola makan, istirahat, olahraga, dan ketenangan batin.
Islam sendiri mengajarkan keseimbangan. Bekerja adalah ibadah, mencari nafkah adalah kewajiban, tetapi tubuh juga memiliki hak yang harus dipenuhi. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa tubuh kita mempunyai hak atas diri kita. Artinya, menjaga kesehatan bukanlah kemewahan, melainkan bagian dari amanah yang harus dipelihara.
Karena itu, kesuksesan hidup tidak semata-mata diukur dari tebalnya rekening atau tingginya jabatan. Apa gunanya kekayaan melimpah jika tidak lagi mampu menikmati makanan sederhana, berjalan tanpa rasa sakit, atau berkumpul bersama keluarga dengan tubuh yang sehat?
Tentu kita tetap harus bekerja keras. Kemalasan bukanlah solusi. Tetapi kerja keras yang bijaksana adalah kerja yang tetap memberi ruang bagi kesehatan, keluarga, ibadah, dan ketenangan jiwa. Sebab hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat mengumpulkan harta, melainkan perjalanan panjang untuk meraih keberkahan.
Mungkin inilah saatnya kita mengubah cara pandang. Jangan sampai masa muda hanya menjadi masa "menguras tubuh", sementara masa tua menjadi masa "membayar utang" kepada kesehatan. Menabung kesehatan sejak muda adalah investasi yang nilainya jauh lebih besar daripada tabungan materi.
Sebab pada akhirnya, uang memang bisa membantu membeli obat, tetapi tidak selalu mampu membeli kesehatan. Dan waktu yang telah habis mengorbankan tubuh, tidak pernah bisa dibeli kembali dengan harta sebanyak apa pun.
Wallāhu al-Musta'ān