Loading...
Jangan Biarkan Kelelahan Menjadi Menyerah
13/07/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Menanggapi kegelisahan Bang Goenawan Mohamad

Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy 

Tulisan Bang Goenawan Mohamad menggambarkan kegelisahan yang mungkin juga dirasakan oleh banyak anak bangsa hari ini. Ketika hukum tampak kehilangan wibawa, ketika lembaga-lembaga yang seharusnya menjadi penjaga keadilan justru dipertanyakan integritasnya, dan ketika kekuasaan sering kali terlihat lebih kuat daripada kebenaran, muncul pertanyaan yang menyakitkan: Indonesia sedang menuju ke mana?

Kegelisahan itu wajar. Kekecewaan itu juga manusiawi.

Namun bangsa ini tidak boleh kehilangan mereka yang masih memiliki keberanian untuk berpikir jernih dan bersuara jujur.

Karena itu, kepada para ulama, cendekiawan, akademisi, guru besar, mahasiswa, aktivis, budayawan, serta seluruh penjaga nurani bangsa, kami berharap: tetaplah tegar dan jangan menyerah.

Ketika hukum dipertanyakan, jangan tinggalkan ruang-ruang pemikiran yang sehat.

Ketika kebenaran dikaburkan, jangan berhenti menjelaskan fakta.

Ketika kekuasaan terasa menekan, jangan tinggalkan keberanian moral.

Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh penguasa, tetapi juga oleh mereka yang menjaga akal sehat dan suara hati masyarakat. Sejarah membuktikan bahwa perubahan sering kali dimulai dari segelintir orang yang menolak tunduk kepada ketakutan dan keputusasaan.

Tulisan Bang Goenawan seharusnya tidak dibaca sebagai ajakan untuk putus asa, melainkan sebagai peringatan bahwa ada pekerjaan besar yang belum selesai. Kritik yang jujur bukanlah tanda kebencian kepada negeri. Justru kritik yang lahir dari kecintaan adalah bentuk tanggung jawab seorang warga negara.

Indonesia masih membutuhkan para ulama yang berani menyampaikan kebenaran.

Indonesia masih membutuhkan para cendekiawan yang menjaga nalar.

Indonesia masih membutuhkan para akademisi yang setia pada integritas ilmu.

Indonesia masih membutuhkan para pemimpin yang mau mendengar suara nurani rakyat.

Maka jangan biarkan kelelahan berubah menjadi menyerah.

Selama masih ada orang-orang yang menjaga ilmu, moralitas, dan keberanian berbicara benar, harapan bagi Indonesia tidak akan pernah padam.

Kita boleh kecewa.

Kita boleh marah.

Kita boleh mengkritik.

Tetapi kita tidak boleh berhenti mencintai Indonesia dan memperjuangkan masa depannya.

Sebab negeri ini terlalu berharga untuk ditinggalkan oleh orang-orang baik.

Wallāhu al-Musta'ān