Ada sebuah tradisi yang sangat indah dalam kultur pesantren: sowan kepada orang alim. Sowan bukan sekadar berkunjung. Di dalamnya ada adab, penghormatan, tabarruk, silaturahmi, sekaligus ikhtiar untuk memperoleh nasihat dari orang yang lebih berilmu.
Tetapi belakangan muncul pertanyaan penting: siapa yang kita anggap sebagai orang alim?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika ukuran kealiman perlahan-lahan bergeser. Kiai yang memiliki pesantren besar dianggap alim. Kiai yang memiliki ribuan santri dianggap alim. Kiai yang sering muncul di media dianggap alim. Kiai yang memiliki jutaan pengikut di media sosial dianggap alim.
Lalu bagaimana dengan kiai kampung?
Bagaimana dengan ustaz yang setiap malam mengajar Fathul Qarib di musala kecil? Bagaimana dengan kiai sepuh yang tidak memiliki pesantren, tidak memiliki akun media sosial, tidak pernah masuk televisi, tetapi puluhan tahun mengajarkan Al-Qur'an, fikih, akhlak dan membimbing masyarakat?
Apakah karena tidak memiliki pondok, lalu kealimannya menjadi kurang?
Tentu tidak.
Pesan yang disampaikan KH. M. Sa'id Abdurrochim, Pengasuh PP. MUS Sarang Rembang, dalam sebuah poster yang beredar di media sosial, menarik untuk direnungkan: “Tradisi sowan neng wong alim iku perkara apik.” Bahkan disebutkan, standar orang alim tidak harus memiliki pondok. Orang yang mampu membaca dan memahami Fathul Qarib saja sudah menunjukkan kapasitas keilmuan yang patut dihormati.
Pesan ini sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh persoalan besar: jangan sampai kita kehilangan adab dalam memandang ulama.
Di tengah zaman digital, popularitas mudah sekali disalahartikan sebagai otoritas keilmuan.
Orang yang sering muncul di YouTube dianggap paling alim. Orang yang ceramahnya ditonton jutaan orang dianggap paling menguasai agama. Orang yang pengikutnya banyak dianggap paling layak menjadi rujukan.
Padahal jumlah pengikut tidak otomatis menunjukkan kedalaman ilmu.
Begitu pula jumlah santri tidak selalu menjadi ukuran tunggal kealiman.
Ada ulama yang namanya dikenal seluruh negeri. Tetapi ada pula orang alim yang namanya hanya dikenal oleh masyarakat satu desa. Ia mungkin tidak memiliki gedung pesantren megah. Santrinya mungkin hanya belasan anak yang mengaji selepas Magrib. Kitab yang diajarkan mungkin hanya Fathul Qarib, Safinatun Najah, Ta'lim al-Muta'allim, atau kitab-kitab dasar lainnya.
Namun dari musala kecil itulah ilmu diwariskan.
Dari lisannya anak-anak belajar wudu.
Dari tangannya mereka belajar membaca Al-Qur'an.
Dari nasihatnya masyarakat belajar membedakan halal dan haram.
Dan dari keteladanannya mereka belajar bagaimana menjadi manusia yang berakhlak.
Bukankah itu juga bagian dari tugas ulama?
Tradisi sowan memiliki dimensi spiritual yang jauh lebih dalam daripada sekadar menemui tokoh terkenal.
Kita datang kepada orang alim karena ingin mendapatkan barakah ilmu dan nasihat, bukan sekadar berfoto dengannya.
Di sinilah kita perlu melakukan koreksi terhadap diri sendiri.
Jangan sampai kita rela menempuh perjalanan ratusan kilometer hanya untuk sowan kepada kiai terkenal, tetapi tidak pernah menyapa kiai kampung yang rumahnya hanya berjarak beberapa ratus meter.
Jangan sampai kita hafal nama-nama kiai yang muncul di media, tetapi tidak mengenal siapa guru yang selama bertahun-tahun mengajari anak-anak kita membaca Al-Qur'an.
Jangan sampai kita mengejar foto dengan ulama besar, tetapi lupa mencium tangan guru ngaji yang dahulu mengajari kita Alif, Ba, Ta.
Ini bukan berarti kita tidak boleh sowan kepada kiai besar. Justru sangat baik apabila kita dapat bersilaturahmi kepada para ulama, baik yang terkenal maupun yang tidak dikenal publik.
Yang perlu diperbaiki adalah cara pandang kita.
Ulama tidak menjadi alim karena kamera menyorotnya.
Ulama tidak menjadi alim karena memiliki panggung besar.
Ulama tidak menjadi alim karena memiliki jutaan pengikut.
Dan seorang kiai tidak kehilangan kealimannya hanya karena mengajar di musala kecil.
Dalam sejarah Islam, banyak orang alim yang hidup sederhana dan jauh dari sorotan.
Tradisi keilmuan pesantren sendiri dibangun oleh ribuan kiai yang bekerja dalam kesunyian. Mereka mengajar, membimbing, mendidik, mendoakan, dan menjaga tradisi keislaman dari generasi ke generasi.
Mungkin nama mereka tidak pernah masuk berita.
Mungkin tidak ada kanal YouTube yang mengabadikan ceramah mereka.
Mungkin tidak ada poster digital yang memasang foto mereka.
Tetapi ketika malam tiba, mereka masih membuka kitab.
Ketika anak-anak datang, mereka masih mengajar.
Ketika masyarakat bertanya tentang persoalan agama, mereka masih memberikan jawaban berdasarkan ilmu yang mereka pelajari dari guru-gurunya.
Mereka adalah penjaga ilmu dalam diam.
Karena itu, jangan mengukur ulama hanya dengan ukuran dunia digital.
Ada ilmu yang tidak viral.
Ada kiai yang tidak terkenal.
Ada guru yang tidak memiliki pesantren.
Tetapi ada keberkahan yang mungkin justru lebih dekat kepada mereka karena hidupnya penuh pengabdian dan jauh dari ambisi popularitas.
Lebih jauh, tradisi sowan sebenarnya bukan hanya tentang mencari ilmu. Ia adalah pendidikan adab.
Seorang santri belajar bahwa ilmu harus dihormati. Guru harus dimuliakan. Orang yang lebih tua harus dihargai. Nasihat harus didengarkan. Dan manusia tidak boleh merasa paling tahu.
Inilah salah satu kekayaan kultur pesantren yang patut dipertahankan.
Sebab penyakit zaman sekarang bukan hanya kebodohan. Kadang yang lebih berbahaya adalah merasa sudah pintar sebelum benar-benar berilmu.
Sedikit membaca, sudah berani menyalahkan ulama.
Sedikit belajar, sudah merasa mampu memberikan fatwa.
Baru memahami satu-dua dalil, sudah merasa seluruh ulama sebelumnya keliru.
Di sinilah sowan mengajarkan kerendahan hati.
Kita datang kepada orang alim dengan kesadaran bahwa ilmu kita masih sedikit.
Kita duduk.
Kita mendengar.
Kita bertanya.
Kita menghormati.
Dan kita pulang membawa sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar konten: nasihat dan keberkahan.
Maka, mari kita rawat kembali tradisi sowan.
Sowanlah kepada kiai besar.
Tetapi jangan lupakan kiai kampung.
Sowanlah kepada ulama yang dikenal banyak orang.
Tetapi jangan abaikan guru ngaji yang hanya dikenal oleh jamaah musalanya.
Sowanlah kepada mereka yang ilmunya dalam, akhlaknya baik, sanad keilmuannya jelas, dan hidupnya diabdikan untuk umat.
Sebab kemuliaan seorang alim tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang mengenalnya, tetapi oleh seberapa dalam ilmunya, seberapa baik akhlaknya, dan seberapa besar manfaatnya bagi umat.
Jangan sampai suatu hari nanti kita baru menyadari bahwa orang alim di sekitar kita telah wafat, sementara selama hidupnya kita tidak pernah sekalipun menyempatkan diri untuk sowan.
Karena bisa jadi, kiai yang rumahnya paling dekat dengan kita adalah salah satu pintu keberkahan yang selama ini justru kita abaikan.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Gresik, 16 Agustus 2026