Loading...
Kata yang Diulang, Pikiran yang Dibentuk
09/05/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Antara Gurauan, Sugesti, dan Bahaya Bawah Sadar

 

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

 

 

Apa makna dari kata atau kalimat yang terus-menerus diucapkan seseorang, bahkan sekadar sebagai gurauan? Apakah ucapan yang diulang berkali-kali dapat memengaruhi bawah sadar dan membentuk cara berpikir seseorang?

Misalnya, ada anak muda yang sering berkata:

“Hidup kok nggak bisa kayak si Budi, si Iwan… mending bunuh diri saja.”

Kalimat itu diucapkan berulang-ulang dalam suasana bercanda, kadang sambil tertawa, kadang dianggap sekadar celetukan biasa. Namun lama-kelamaan ucapan tersebut menjadi kebiasaan lidah.

Pertanyaannya:

apakah pengulangan kalimat negatif seperti itu dapat masuk ke alam bawah sadar, lalu suatu hari — ketika seseorang berada dalam tekanan hidup, putus asa, atau mengalami himpitan batin — kalimat yang dulu sering diucapkan itu muncul kembali dan memengaruhi tindakannya?

Bagaimana psikologi memandang hal ini? Dan bagaimana Islam memandang ucapan yang baik maupun buruk?

Jawaban

Dalam psikologi modern, kata-kata yang diulang terus-menerus memang dapat membentuk pola pikir, emosi, bahkan respons otomatis seseorang. Otak manusia bekerja bukan hanya melalui logika sadar, tetapi juga melalui kebiasaan mental yang dibentuk oleh repetisi.

Seseorang yang terus berkata:

Aku gagal.”

“Aku bodoh.”

“Hidupku hancur.”

“Mending mati saja.”

meskipun awalnya bercanda, lambat-laun sedang melakukan self-suggestion (sugesti diri). Kalimat yang diulang akan menjadi “jalur pikiran” di dalam otak. Dalam ilmu psikologi kognitif, pengulangan pikiran dan ucapan dapat memperkuat asosiasi mental tertentu. Apa yang sering diucapkan akhirnya terasa normal, akrab, bahkan dianggap sebagai bagian dari identitas diri.

Karena itu, banyak ahli psikologi menjelaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga alat pembentukan realitas batin.

Seseorang yang terus-menerus melontarkan kalimat pesimis bisa menjadi lebih mudah tenggelam dalam keputusasaan ketika menghadapi tekanan hidup yang nyata. Dalam kondisi normal ia mungkin hanya bercanda. Tetapi ketika mental sedang rapuh, otak akan cenderung mengambil “jalur pikiran” yang paling sering dilalui sebelumnya.

Di sinilah bahayanya.

Kalimat yang dulu dianggap lucu bisa berubah menjadi bisikan batin yang terasa wajar.

Dalam Islam, lisan memiliki kedudukan yang sangat besar. Nabi Muhammad saw bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”

Ucapan dalam Islam bukan sesuatu yang netral. Kata-kata dapat menjadi dzikir, doa, penguat jiwa, bahkan sedekah. Tetapi kata-kata juga bisa menjadi racun batin, membuka pintu keputusasaan, dan menjerumuskan manusia pada kegelapan pikirannya sendiri.

Para ulama tasawuf sering menjelaskan bahwa hati manusia dipengaruhi oleh apa yang terus didengar dan diucapkan. Lidah yang terbiasa mengeluh akan membentuk hati yang mudah gelisah. Lidah yang terbiasa penuh syukur akan membentuk jiwa yang lebih tenang.

Karena itu ada ungkapan para salihin:

“Lisan adalah pintu hati.”

Apa yang sering keluar dari lisan perlahan masuk kembali ke dalam jiwa.

Bahkan dalam tradisi keislaman, ucapan baik diyakini bisa menjadi doa. Sebaliknya, ucapan buruk jangan dianggap remeh. Sebagian orang tua dahulu melarang anaknya berkata sembarangan bukan semata karena etika, tetapi karena mereka memahami bahwa kata-kata memiliki pengaruh ruhani dan psikologis.

Ketika seseorang terus berkata:

“Aku hancur.”

“Aku nggak berguna.”

“Mending mati saja.”

“Mending bunuh diri”,

maka ia sedang memberi makan sisi gelap dalam dirinya sendiri.

Dalam bahasa agama, itu bisa menjadi celah bagi waswas, keputusasaan, dan bisikan syaitan. Dalam bahasa psikologi, itu memperkuat pola pikir destruktif. Dua bahasa ini berbeda, tetapi kadang menunjuk pada kenyataan batin yang sama.

Karena itu, kita perlu hati-hati terhadap budaya bercanda yang terlalu akrab dengan kalimat-kalimat gelap:

candaan bunuh diri,

candaan putus asa,

candaan merasa tak berharga,

candaan kebencian terhadap diri sendiri.

Tidak semua gurauan itu aman bagi jiwa.

Apalagi pada anak-anak dan remaja yang kondisi emosinya masih berkembang. Apa yang terus mereka ucapkan bisa menjadi benih cara mereka memandang diri sendiri.

Sebaliknya, membiasakan ucapan baik juga memiliki dampak besar:

“Insya Allah ada jalan.”

“Aku bisa belajar.”

“Allah tidak meninggalkan hambanya.”

“Hidup memang berat, tapi tidak selalu gelap.”

“Bismillah, pelan-pelan.”

“Hidup sering tidak sesuai harapan, tapi kita tetap harus bergantung kepada Tuhan”.

Kalimat seperti ini bukan sekadar motivasi murahan. Ia adalah latihan mental, latihan ruhani, sekaligus penjagaan batin.

Lidah ternyata bukan hanya cermin isi hati. Kadang lidah juga ikut membentuk isi hati itu sendiri.

Karena itu, Islam mengajarkan dzikir: membiasakan lisan menyebut nama Allah Swt, memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan menenangkan hati dengan kalimat-kalimat yang baik.

Sebab manusia akan mudah kalah oleh pikirannya sendiri ketika hatinya kosong.

Allah Swt berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

(QS al-Ra‘d: 28)

Mungkin inilah sebabnya para ulama dahulu sangat menjaga lisannya. Karena mereka sadar: kata-kata bukan hanya keluar dari diri kita, tetapi perlahan juga kembali membentuk diri kita.

Wallāhu al-Musta’ān

 

Ahmad Chuvav Ibriy

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM