Antara Gurauan, Sugesti, dan Bahaya Bawah Sadar
Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Apa makna dari kata atau kalimat yang terus-menerus
diucapkan seseorang, bahkan sekadar sebagai gurauan? Apakah ucapan yang diulang
berkali-kali dapat memengaruhi bawah sadar dan membentuk cara berpikir
seseorang?
Misalnya, ada anak muda yang sering berkata:
“Hidup kok nggak bisa kayak si Budi, si Iwan… mending
bunuh diri saja.”
Kalimat itu diucapkan berulang-ulang dalam suasana bercanda,
kadang sambil tertawa, kadang dianggap sekadar celetukan biasa. Namun
lama-kelamaan ucapan tersebut menjadi kebiasaan lidah.
Pertanyaannya:
apakah pengulangan kalimat negatif seperti itu
dapat masuk ke alam bawah sadar, lalu suatu hari — ketika seseorang berada
dalam tekanan hidup, putus asa, atau mengalami himpitan batin — kalimat yang
dulu sering diucapkan itu muncul kembali dan memengaruhi tindakannya?
Bagaimana psikologi memandang hal ini? Dan bagaimana Islam
memandang ucapan yang baik maupun buruk?
Jawaban
Dalam psikologi modern, kata-kata yang diulang
terus-menerus memang dapat membentuk pola pikir, emosi, bahkan respons otomatis
seseorang. Otak manusia bekerja bukan hanya melalui logika sadar, tetapi juga
melalui kebiasaan mental yang dibentuk oleh repetisi.
Seseorang yang terus berkata:
“Aku gagal.”
“Aku bodoh.”
“Hidupku hancur.”
“Mending mati saja.”
meskipun awalnya bercanda, lambat-laun sedang melakukan self-suggestion
(sugesti diri). Kalimat yang diulang akan menjadi “jalur pikiran” di dalam
otak. Dalam ilmu psikologi kognitif, pengulangan pikiran dan ucapan dapat
memperkuat asosiasi mental tertentu. Apa yang sering diucapkan akhirnya terasa
normal, akrab, bahkan dianggap sebagai bagian dari identitas diri.
Karena itu, banyak ahli psikologi menjelaskan bahwa bahasa
bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga alat pembentukan realitas batin.
Seseorang yang terus-menerus melontarkan kalimat pesimis
bisa menjadi lebih mudah tenggelam dalam keputusasaan ketika menghadapi tekanan
hidup yang nyata. Dalam kondisi normal ia mungkin hanya bercanda. Tetapi ketika
mental sedang rapuh, otak akan cenderung mengambil “jalur pikiran” yang paling
sering dilalui sebelumnya.
Di sinilah bahayanya.
Kalimat yang dulu dianggap lucu bisa berubah menjadi bisikan
batin yang terasa wajar.
Dalam Islam, lisan memiliki kedudukan yang sangat besar.
Nabi Muhammad saw bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah
berkata baik atau diam.”
Ucapan dalam Islam bukan sesuatu yang netral. Kata-kata
dapat menjadi dzikir, doa, penguat jiwa, bahkan sedekah. Tetapi kata-kata juga
bisa menjadi racun batin, membuka pintu keputusasaan, dan menjerumuskan manusia
pada kegelapan pikirannya sendiri.
Para ulama tasawuf sering menjelaskan bahwa hati manusia
dipengaruhi oleh apa yang terus didengar dan diucapkan. Lidah yang
terbiasa mengeluh akan membentuk hati yang mudah gelisah. Lidah
yang terbiasa penuh syukur akan membentuk jiwa yang lebih tenang.
Karena itu ada ungkapan para salihin:
“Lisan adalah pintu hati.”
Apa yang sering keluar dari lisan perlahan masuk kembali ke
dalam jiwa.
Bahkan dalam tradisi keislaman, ucapan baik diyakini bisa
menjadi doa. Sebaliknya, ucapan buruk jangan dianggap remeh. Sebagian orang tua
dahulu melarang anaknya berkata sembarangan bukan semata karena etika, tetapi
karena mereka memahami bahwa kata-kata memiliki pengaruh ruhani dan psikologis.
Ketika seseorang terus berkata:
“Aku hancur.”
“Aku nggak berguna.”
“Mending mati saja.”
“Mending bunuh diri”,
maka ia sedang memberi makan sisi gelap dalam dirinya
sendiri.
Dalam bahasa agama, itu bisa menjadi celah bagi waswas,
keputusasaan, dan bisikan syaitan. Dalam bahasa psikologi, itu memperkuat pola
pikir destruktif. Dua bahasa ini berbeda, tetapi kadang menunjuk pada
kenyataan batin yang sama.
Karena itu, kita perlu hati-hati terhadap budaya bercanda
yang terlalu akrab dengan kalimat-kalimat gelap:
candaan bunuh diri,
candaan putus asa,
candaan merasa tak berharga,
candaan kebencian terhadap diri sendiri.
Tidak semua gurauan itu aman bagi jiwa.
Apalagi pada anak-anak dan remaja yang kondisi emosinya
masih berkembang. Apa yang terus mereka ucapkan bisa menjadi benih cara mereka
memandang diri sendiri.
Sebaliknya, membiasakan ucapan baik juga memiliki dampak
besar:
“Insya Allah ada jalan.”
“Aku bisa belajar.”
“Allah tidak meninggalkan hambanya.”
“Hidup memang berat, tapi tidak selalu gelap.”
“Bismillah, pelan-pelan.”
“Hidup sering tidak sesuai harapan, tapi kita tetap harus bergantung
kepada Tuhan”.
Kalimat seperti ini bukan sekadar motivasi murahan. Ia
adalah latihan mental, latihan ruhani, sekaligus penjagaan batin.
Lidah ternyata bukan hanya cermin isi hati. Kadang lidah juga ikut membentuk isi hati itu sendiri.
Karena itu, Islam mengajarkan dzikir: membiasakan lisan menyebut nama Allah Swt, memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan menenangkan hati dengan kalimat-kalimat yang baik.
Sebab manusia akan mudah kalah oleh pikirannya sendiri ketika hatinya kosong.
Allah Swt berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS al-Ra‘d: 28)
Mungkin inilah sebabnya para ulama dahulu sangat menjaga lisannya. Karena mereka sadar: kata-kata bukan hanya keluar dari diri kita, tetapi perlahan juga kembali membentuk diri kita.
Wallāhu al-Musta’ān
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota
Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM