Loading...
Kemerdekaan yang Terluka
17/08/2026 Admin Yayasan Bagikan:

(Puisi Esai)

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy


Negeri ini sudah terlalu lama menahan sakit.

Lukanya menganga,

menyayat sampai ke tulang-tulang harapan.

Tetapi setiap Agustus tiba,

kita kembali mengenakan pakaian kebesaran,

mengibarkan Merah Putih,

menyanyikan Indonesia Raya,

lalu berkata dengan dada membusung:

“Kita sudah merdeka!”


Benarkah?


Merdeka dari siapa?


Atau jangan-jangan

kemerdekaan hanya menjadi dongeng

yang kita ulang setiap tahun,

sementara rakyat terus belajar

bagaimana caranya bertahan hidup

di negeri yang katanya sudah merdeka?


Merah Putih berkibar di depan rumah.

Di sekolah anak-anak berbaris,

mengikuti upacara dengan khidmat.

Di lapangan para pejabat berdiri tegak,

mengucapkan pidato tentang perjuangan,

tentang jasa para pahlawan,

tentang masa depan Indonesia.


Tetapi jauh di bawah panggung,

ada rakyat yang menghitung uang receh

untuk membeli beras.


Ada ibu yang menunda berobat

karena takut biaya.


Ada anak yang membawa mimpi besar

tetapi pulang membawa kenyataan kecil:

kemiskinan,

pengangguran,

dan kesempatan yang semakin mahal.


Hati rakyat pun perlahan menjadi kayu.


Bukan karena mereka tidak mencintai negeri ini.

Justru karena terlalu sering berharap

dan terlalu sering dikecewakan.


Korupsi menjadi keahlian.

Jabatan berubah menjadi ladang.

Kekuasaan menjadi pintu masuk

menuju kekayaan.


Yang seharusnya menjaga uang rakyat

kadang justru sibuk menghitung

berapa bagian yang bisa diselamatkan untuk dirinya.


Yang seharusnya menjadi pelayan

berubah menjadi tuan.


Yang seharusnya mengurus negeri

sibuk mengurus kepentingan sendiri.


Dan yang lebih menyedihkan,

kita mulai terbiasa.


Korupsi tidak lagi selalu membuat kita terkejut.

Penyelewengan tidak selalu membuat kita marah.

Kebohongan politik tidak selalu membuat kita malu.


Kita hanya menghela napas,

lalu berkata:


“Begitulah negeri ini.”


Kalimat itulah yang paling berbahaya.


Sebab ketika kejahatan sudah dianggap biasa,

yang mati bukan hanya rasa malu,

tetapi juga keberanian untuk melawan.


Di tempat lain,

para pemimpin berlomba mengetuk

pintu-pintu sumber daya alam.


Gunung dibelah.

Hutan ditebang.

Tanah dikeruk.

Laut dipagari.


Perut bumi terus dipaksa mengeluarkan isinya.


Atas nama pembangunan.


Atas nama investasi.


Atas nama pertumbuhan ekonomi.


Tetapi rakyat bertanya pelan-pelan:


Pertumbuhan untuk siapa?


Jika kekayaan negeri ini melimpah,

mengapa masih banyak rakyat

yang hidup dalam kekurangan?


Jika tanah ini begitu subur,

mengapa sebagian petani

masih harus berutang untuk makan?


Jika laut kita begitu luas,

mengapa nelayan kecil

sering merasa menjadi tamu

di lautnya sendiri?


Barangkali yang salah bukan tanah airnya.


Yang salah adalah cara kita memperlakukannya.


Indonesia bukan negeri yang miskin.


Ia hanya terlalu sering

dipaksa kaya untuk segelintir orang.


Indonesia bukan negeri yang kehilangan masa depan.


Masa depannya sedang diperebutkan

oleh mereka yang melihat kekuasaan

sebagai kesempatan

dan bukan sebagai amanah.


Para pahlawan dahulu

mengangkat senjata

melawan penjajahan.


Hari ini perjuangannya berbeda.


Kita harus melawan keserakahan.

Melawan korupsi.

Melawan kebohongan.

Melawan penyalahgunaan kekuasaan.

Melawan budaya “asal bapak senang”.

Melawan sikap diam

ketika ketidakadilan terjadi di depan mata.


Kemerdekaan tidak cukup

hanya dengan mengusir penjajah

dari tanah air.


Kemerdekaan juga berarti

membebaskan rakyat

dari ketakutan,

dari kemiskinan,

dari ketidakadilan,

dari kesewenang-wenangan,

dan dari para penguasa

yang lupa bahwa kekuasaan

hanya titipan waktu.


Karena itu,

pada setiap Agustus

jangan hanya bertanya:


“Sudah berapa tahun Indonesia merdeka?”


Tanyakan pula:


“Sudah sejauh mana kita menjaga kemerdekaan itu?”


Jangan hanya menghitung

berapa tahun Merah Putih berkibar.


Hitung pula

berapa banyak air mata rakyat

yang belum kering.


Jangan hanya menghafal

nama-nama pahlawan.


Tanyakan kepada diri sendiri:


Apakah kita sedang meneruskan perjuangan mereka,

atau justru menikmati kemerdekaan

sambil mengkhianati cita-cita mereka?


Saya mencintai negeri ini.


Justru karena cinta,

saya tidak ingin terus berpura-pura

bahwa semuanya baik-baik saja.


Kritik bukan kebencian.


Kegelisahan bukan pengkhianatan.


Menangis melihat negeri terluka

bukan berarti membenci Indonesia.


Kadang-kadang,

cinta yang paling tulus

adalah cinta yang berani berkata:


“Ada yang salah.

Mari kita perbaiki.”


Saya masih percaya

suatu hari Indonesia akan bangkit.


Bukan karena para pemimpinnya sempurna,

tetapi karena rakyatnya

tidak pernah kehilangan harapan.


Suatu hari,

Merah Putih tidak hanya berkibar

di tiang-tiang upacara.


Ia akan berkibar

di dalam hati setiap pemimpin

yang merasa malu mengambil

sesuatu yang bukan haknya.


Ia akan berkibar

di dalam hati setiap pejabat

yang menganggap jabatan

sebagai amanah, bukan kesempatan.


Ia akan berkibar

di dalam hati rakyat

yang kembali percaya

bahwa negeri ini memang milik mereka.


Dan ketika hari itu tiba,

kita tidak perlu lagi berteriak:


“Indonesia sudah merdeka!”


Sebab kemerdekaan

akan terasa dalam kehidupan.


Di meja makan rakyat.


Di ruang kelas anak-anak.


Di sawah para petani.


Di laut para nelayan.


Di rumah-rumah sederhana

yang tidak lagi dihantui kecemasan.


Mungkin hari itu belum tiba.


Tetapi kita boleh berharap.


Kita boleh berjuang.


Kita boleh mencintai Indonesia

dengan cara yang paling jujur:


menolak menyerah

kepada kebusukan,

dan terus percaya

bahwa negeri ini

masih bisa diperbaiki.


Sebab Indonesia bukan milik mereka

yang sedang berkuasa.


Indonesia adalah rumah kita bersama.


Dan rumah yang sedang terluka

tidak boleh kita tinggalkan.


Kita harus menyembuhkannya.


Gresik,  16 Agustus 2026


####


Harapan Penulis


Alangkah indahnya jika pada momen peringatan 17 Agustus nanti, di tengah upacara, panggung kemerdekaan, atau sekadar pertemuan warga, ada seseorang yang berkenan membacakan puisi esai ini. Bukan karena saya merasa tulisan ini paling baik, melainkan karena saya berharap suara kegelisahan rakyat tidak ikut tenggelam di antara seremoni kemerdekaan. Biarlah bait-baitnya menjadi cermin: bahwa merah putih yang berkibar tidak cukup hanya dilihat dengan mata, tetapi harus dirasakan maknanya dengan hati. Semoga kemerdekaan tidak berhenti sebagai perayaan tahunan, melainkan menjadi keberanian untuk melihat luka negeri, menyebut ketidakadilan dengan jujur, dan menjaga Indonesia agar tetap menjadi rumah bersama. Jika puisi ini dibacakan di hadapan anak-anak bangsa pada 17 Agustus, bagi saya itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri—sebab sastra telah menemukan jalannya kembali: berbicara kepada hati rakyat dan mengingatkan bangsa bahwa kemerdekaan harus terus diperjuangkan.

Jangan pernah lelah mencintai negeri ini. Para kiai dan kaum muslimin punya kontribusi besar atas Kemerdekaan Negeri ini. Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesi ke-81.