Tulisan ini bukan untuk menggurui siapa pun, apalagi
merasa paling benar. Ia ditulis sebagai pengingat bagi diri sendiri yang kadang
lelah, kendor, dan nyaris kehilangan semangat. Saat pikiran terasa buntu dan
batin mulai loyo, barangkali yang dibutuhkan bukan teriakan, melainkan jeda;
bukan kemarahan, melainkan bacaan yang menenangkan. Semoga tulisan sederhana
ini bisa menjadi teman diam untuk menata ulang niat, merawat harap, dan kembali
ingat bahwa berpikir jernih dan membaca dengan tekun adalah bagian dari ikhtiar
menjaga kewarasan.
Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Keluhan tentang menurunnya minat baca bukan hal baru. Data,
seminar, hingga slogan literasi telah lama digaungkan. Namun pertanyaan yang
lebih jujur barangkali bukan apakah semangat membaca menurun, melainkan mengapa
ia merosot begitu dalam, bahkan di kalangan terdidik.
Pertama, membaca kalah cepat dari hiburan instan. Gawai di
tangan kita menawarkan arus tanpa henti: video pendek, notifikasi, potongan
opini, dan sensasi cepat yang memanjakan dopamin. Membaca, sebaliknya, menuntut
kesabaran, keheningan, dan konsentrasi. Dalam dunia yang serba tergesa,
aktivitas yang menuntut “diam dan berpikir” terasa mahal dan melelahkan.
Akhirnya, membaca dianggap tidak efisien, padahal justru di situlah ia
membentuk kedalaman.
Kedua, sekolah sering menjadikan membaca sebagai kewajiban,
bukan kenikmatan. Buku dipersempit menjadi alat ujian, rangkuman, dan target
nilai. Anak-anak jarang diperkenalkan pada membaca sebagai pengalaman batin:
menjelajah gagasan, merawat rasa ingin tahu, atau berdialog dengan pikiran
besar lintas zaman. Ketika membaca hanya identik dengan beban, wajar bila ia
ditinggalkan begitu pintu sekolah tertutup.
Ketiga, lingkungan sosial kita makin miskin teladan. Jarang
kita melihat figur publik—termasuk pemimpin, pendidik, dan tokoh
agama—menampilkan kebiasaan membaca sebagai bagian dari hidupnya. Yang lebih
sering tampak justru opini instan dan reaksi emosional. Dalam iklim seperti
ini, membaca tidak lagi dianggap kebutuhan, melainkan hobi pinggiran.
Keempat, budaya lisan dan visual kita berkembang tanpa
diimbangi budaya teks yang kuat. Kita gemar berbicara, berdebat, dan
berkomentar, tetapi enggan menelaah sumber. Akibatnya, opini tumbuh lebih cepat
daripada pengetahuan, dan kepercayaan diri sering tidak sebanding dengan
kedalaman bacaannya.
Menurunnya semangat membaca sejatinya bukan soal malas,
melainkan soal ekosistem. Ia terkait dengan cara kita mendidik, memberi
teladan, dan memaknai pengetahuan. Jika membaca terus diposisikan sebagai
aktivitas pinggiran, maka dangkallah yang akan menjadi arus utama.
Minat membaca yang tumbuh akan melahirkan budaya berpikir
kritis sekaligus santun. Semakin luas referensi seseorang, semakin ia memahami
bahwa kebenaran tidak selalu tunggal dan perbedaan adalah keniscayaan. Dari
bacaan, kita belajar menimbang, bukan menghakimi; memahami, bukan mencela.
Karena itu, orang yang akrab dengan buku biasanya lebih rendah hati dalam
berpendapat dan lebih toleran dalam menyikapi perbedaan. Membaca bukan sekadar
menambah pengetahuan, tetapi mendewasakan sikap dan memperhalus cara pandang.
Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Saw bukan perintah berperang
atau membangun kekuasaan, melainkan perintah membaca: Iqra’. Ini isyarat
teologis yang sangat kuat bahwa peradaban Islam dibangun di atas fondasi
literasi dan pencarian ilmu. Membaca dalam makna iqra’ bukan sekadar mengeja
teks, tetapi membaca realitas, sejarah, dan tanda-tanda kebesaran Allah dengan
akal dan hati. Karena itu, mengabaikan tradisi membaca sejatinya bukan hanya
kemunduran intelektual, tetapi juga pengingkaran terhadap ruh wahyu itu
sendiri. Membaca adalah jalan iman yang mencerdaskan dan kecerdasan yang
menumbuhkan kebijaksanaan.
Karena itu, menghidupkan kembali semangat membaca bukan
hanya tugas perpustakaan atau sekolah, tetapi tanggung jawab budaya. Membaca
perlu dikembalikan sebagai laku hidup: pelan, tekun, dan jujur. Sebab bangsa
yang berhenti membaca, sejatinya sedang melatih dirinya untuk berhenti
berpikir.