Loading...
KENAPA SEMANGAT KITA MEMBACA MENURUN
05/02/2026 Admin Yayasan Bagikan:

 

Tulisan ini bukan untuk menggurui siapa pun, apalagi merasa paling benar. Ia ditulis sebagai pengingat bagi diri sendiri yang kadang lelah, kendor, dan nyaris kehilangan semangat. Saat pikiran terasa buntu dan batin mulai loyo, barangkali yang dibutuhkan bukan teriakan, melainkan jeda; bukan kemarahan, melainkan bacaan yang menenangkan. Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi teman diam untuk menata ulang niat, merawat harap, dan kembali ingat bahwa berpikir jernih dan membaca dengan tekun adalah bagian dari ikhtiar menjaga kewarasan.

 

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Keluhan tentang menurunnya minat baca bukan hal baru. Data, seminar, hingga slogan literasi telah lama digaungkan. Namun pertanyaan yang lebih jujur barangkali bukan apakah semangat membaca menurun, melainkan mengapa ia merosot begitu dalam, bahkan di kalangan terdidik.

Pertama, membaca kalah cepat dari hiburan instan. Gawai di tangan kita menawarkan arus tanpa henti: video pendek, notifikasi, potongan opini, dan sensasi cepat yang memanjakan dopamin. Membaca, sebaliknya, menuntut kesabaran, keheningan, dan konsentrasi. Dalam dunia yang serba tergesa, aktivitas yang menuntut “diam dan berpikir” terasa mahal dan melelahkan. Akhirnya, membaca dianggap tidak efisien, padahal justru di situlah ia membentuk kedalaman.

Kedua, sekolah sering menjadikan membaca sebagai kewajiban, bukan kenikmatan. Buku dipersempit menjadi alat ujian, rangkuman, dan target nilai. Anak-anak jarang diperkenalkan pada membaca sebagai pengalaman batin: menjelajah gagasan, merawat rasa ingin tahu, atau berdialog dengan pikiran besar lintas zaman. Ketika membaca hanya identik dengan beban, wajar bila ia ditinggalkan begitu pintu sekolah tertutup.

Ketiga, lingkungan sosial kita makin miskin teladan. Jarang kita melihat figur publik—termasuk pemimpin, pendidik, dan tokoh agama—menampilkan kebiasaan membaca sebagai bagian dari hidupnya. Yang lebih sering tampak justru opini instan dan reaksi emosional. Dalam iklim seperti ini, membaca tidak lagi dianggap kebutuhan, melainkan hobi pinggiran.

Keempat, budaya lisan dan visual kita berkembang tanpa diimbangi budaya teks yang kuat. Kita gemar berbicara, berdebat, dan berkomentar, tetapi enggan menelaah sumber. Akibatnya, opini tumbuh lebih cepat daripada pengetahuan, dan kepercayaan diri sering tidak sebanding dengan kedalaman bacaannya.

Menurunnya semangat membaca sejatinya bukan soal malas, melainkan soal ekosistem. Ia terkait dengan cara kita mendidik, memberi teladan, dan memaknai pengetahuan. Jika membaca terus diposisikan sebagai aktivitas pinggiran, maka dangkallah yang akan menjadi arus utama.

Minat membaca yang tumbuh akan melahirkan budaya berpikir kritis sekaligus santun. Semakin luas referensi seseorang, semakin ia memahami bahwa kebenaran tidak selalu tunggal dan perbedaan adalah keniscayaan. Dari bacaan, kita belajar menimbang, bukan menghakimi; memahami, bukan mencela. Karena itu, orang yang akrab dengan buku biasanya lebih rendah hati dalam berpendapat dan lebih toleran dalam menyikapi perbedaan. Membaca bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi mendewasakan sikap dan memperhalus cara pandang.

Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Saw bukan perintah berperang atau membangun kekuasaan, melainkan perintah membaca: Iqra’. Ini isyarat teologis yang sangat kuat bahwa peradaban Islam dibangun di atas fondasi literasi dan pencarian ilmu. Membaca dalam makna iqra’ bukan sekadar mengeja teks, tetapi membaca realitas, sejarah, dan tanda-tanda kebesaran Allah dengan akal dan hati. Karena itu, mengabaikan tradisi membaca sejatinya bukan hanya kemunduran intelektual, tetapi juga pengingkaran terhadap ruh wahyu itu sendiri. Membaca adalah jalan iman yang mencerdaskan dan kecerdasan yang menumbuhkan kebijaksanaan.

Karena itu, menghidupkan kembali semangat membaca bukan hanya tugas perpustakaan atau sekolah, tetapi tanggung jawab budaya. Membaca perlu dikembalikan sebagai laku hidup: pelan, tekun, dan jujur. Sebab bangsa yang berhenti membaca, sejatinya sedang melatih dirinya untuk berhenti berpikir.