Loading...
Keteladanan yang Hilang di Panggung Sejarah NU
31/01/2026 Admin Yayasan Bagikan:

 

 

Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy

 

Peringatan 100 tahun Nahdlatul Ulama di Senayan sejatinya bukan sekadar seremoni. Ia adalah momen sejarah, etalase moral, dan panggung keteladanan kepemimpinan jam’iyah terbesar di negeri ini. Namun justru pada momen sebesar itu, publik disuguhi ironi: Rais ‘Aam, Sekjen, dan Bendahara Umum PBNU tidak hadir. Undangan kepada Presiden terpilih Prabowo Subianto pun berujung ketidakhadiran. Pertanyaan pun tak terelakkan: jika memang sejak awal berniat tidak hadir, untuk apa acara sebesar itu digelar?

NU adalah jam’iyah yang dibangun dengan adab, disiplin organisasi, dan keteladanan para “orang tua”. Dalam tradisi NU, kehadiran pemimpin bukan formalitas, melainkan pesan moral. Ketidakhadiran para pucuk pimpinan pada peringatan satu milenium NU bukan soal kursi kosong, tetapi soal makna yang kosong.

Yang lebih menggelisahkan, tentu adalah pertanyaan tentang rapat pleno sebelum acara. Apakah pleno tidak membahas kesediaan dan komitmen kehadiran pimpinan? Jika dibahas dan tetap dibiarkan, maka ini kegagalan kolektif. Jika tidak dibahas, itu kelalaian organisatoris yang serius. Dalam dua-duanya, pesan yang sampai ke PWNU, PCNU, hingga ranting adalah sama: kepemimpinan bisa absen tanpa penjelasan yang memadai.

Bagaimana PWNU bisa menegakkan disiplin organisasi jika contoh dari pusat justru ambigu? Bagaimana pengurus cabang dan ranting bisa mendidik kader tentang tanggung jawab jama’ah, jika para pemimpinnya sendiri tidak hadir di panggung sejarah NU? Dalam kultur NU, “orang tua” adalah teladan, bukan sekadar simbol. Jika orang tua absen, anak-anak akan belajar bahwa ketidakhadiran bisa dinormalisasi.

NU bukan milik elite, bukan pula milik panggung politik. Ia milik jama’ah yang selama ini setia hadir di musala, madrasah, dan forum-forum kecil tanpa sorotan kamera. Karena itu, keteladanan struktural menjadi harga mati. Seribu tahun NU seharusnya menjadi penguat marwah, bukan justru membuka ruang tafsir tentang rapuhnya kepemimpinan simbolik.

Jika NU ingin tetap besar bukan hanya secara jumlah, tetapi juga secara moral, maka satu hal harus ditegaskan kembali: pemimpin hadir bukan karena ingin dilihat, tetapi karena sadar sedang dilihat dan diteladani.

NU tetap keramat, dan saya yakin itu. Ia tidak runtuh hanya karena absennya segelintir elite, dan tidak kehilangan ruhnya hanya karena panggung utama ditinggal para pemimpin formal. Acara tetap berjalan, jama’ah tetap hadir, dan khidmah warga NU tetap hidup—bahkan tanpa kehadiran mereka. Ini justru menegaskan bahwa kekuatan NU bukan terletak pada kursi struktural, melainkan pada sanad sosial dan spiritual yang mengakar di bawah. Karena itu, menurut saya, cukup satu periode saja mereka memimpin. NU terlalu besar dan terlalu suci untuk terus dijadikan ajang uji coba kepemimpinan yang minim keteladanan. Pergantian bukan pembangkangan, melainkan ikhtiar menjaga marwah jam’iyah agar tetap waras, beradab, dan setia pada khittahnya.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb

Ahmad Chuvav Ibriy

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Penasehat LBM PCNU Kabupaten Gresik JATIM