Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Ada sesuatu yang menarik dari SMA Kolese De Britto Yogyakarta.
Di tengah budaya pendidikan yang sering mengidentikkan kedisiplinan dengan rambut pendek, seragam rapi, aturan penampilan yang ketat, serta berbagai larangan, sekolah ini justru dikenal dengan sesuatu yang bagi sebagian orang mungkin dianggap berlawanan dengan disiplin: siswanya boleh berambut gondrong dan tidak mengenakan seragam sebagaimana sekolah pada umumnya.
Namun ada fakta yang membuat kita perlu berhenti sejenak sebelum buru-buru menyimpulkan bahwa kebebasan identik dengan ketidaktertiban.
De Britto justru memiliki rekam jejak akademik yang kuat. Dalam pemeringkatan 1.000 sekolah berdasarkan nilai UTBK 2022 yang dirilis LTMPT, SMA Kolese De Britto berada di peringkat 51 nasional dengan skor 598,569, sekaligus berada di posisi kesembilan di tingkat DIY.
Pertanyaannya kemudian sederhana:
Kalau rambut gondrong dan kebebasan penampilan otomatis membuat anak tidak disiplin, bagaimana menjelaskan prestasi sekolah ini?
Tentu saja kita tidak boleh gegabah menyimpulkan bahwa rambut gondrong menyebabkan prestasi akademik. Tidak ada hubungan sesederhana itu. Tetapi De Britto memberi kita sebuah pelajaran penting: disiplin tidak selalu harus lahir dari keseragaman penampilan.
Barangkali kita terlalu lama memahami disiplin dari sesuatu yang paling mudah dilihat.
Rambut harus pendek.
Seragam harus seragam.
Sepatu harus hitam.
Baju harus dimasukkan.
Atribut harus lengkap.
Semua itu penting dalam konteks tertentu. Tetapi pertanyaannya: apakah anak yang memenuhi semua aturan tersebut otomatis menjadi pribadi yang disiplin?
Belum tentu.
Seorang siswa bisa berambut sangat rapi tetapi menyontek ketika ujian.
Bisa berseragam lengkap tetapi berbohong kepada guru.
Bisa datang tepat waktu tetapi tidak memiliki tanggung jawab.
Bisa mendapatkan nilai tinggi tetapi tidak peduli kepada temannya.
Artinya, ada perbedaan antara ketertiban administratif dan karakter.
Pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya membuat anak mampu mematuhi aturan ketika ada yang mengawasi. Pendidikan seharusnya membuat anak mampu melakukan yang benar bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
Di sinilah konsep kebebasan yang bertanggung jawab menjadi menarik.
Memberi kebebasan kepada anak sebenarnya bukan pekerjaan mudah.
Lebih mudah mengatakan: “Tidak boleh!”
Lebih mudah membuat daftar larangan.
Lebih mudah mengatur rambut, pakaian, perilaku dan segala macam detail kehidupan siswa.
Tetapi mendidik anak agar mampu mengambil keputusan sendiri, kemudian mempertanggungjawabkan keputusan tersebut, jauh lebih sulit.
Sebuah penelitian tentang pendidikan kepemimpinan di SMA Kolese De Britto yang dilakukan Universitas Negeri Yogyakarta menemukan bahwa proses pendidikan di sekolah tersebut menekankan pengalaman, refleksi dan aksi. Hasil yang ditemukan antara lain berkembangnya keberanian mengemukakan pendapat, kebebasan yang bertanggung jawab, kepedulian terhadap sesama, kemampuan melakukan refleksi diri dan jiwa kepemimpinan yang melayani.
Ini menarik.
Sebab pendidikan karakter bukan sekadar mengajarkan anak apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Pendidikan karakter adalah proses membentuk kemampuan anak untuk bertanya:
“Apa yang seharusnya saya lakukan, dan apakah saya siap mempertanggungjawabkannya?”
Di situlah kedewasaan mulai tumbuh.
Ada anggapan bahwa sekolah yang terlalu bebas akan menghasilkan siswa yang santai, tidak serius dan sulit diatur.
De Britto memberikan bahan untuk menguji anggapan tersebut.
Selain capaian akademik, siswa-siswanya juga menorehkan prestasi dalam berbagai bidang. Pada 2025, misalnya, siswa De Britto meraih prestasi dalam debat tingkat nasional, termasuk posisi ketiga dalam Universitas Indonesia Debating Championship dan penghargaan Best Speaker. Ada pula prestasi dalam taekwondo dan kompetisi sains.
Artinya, kebebasan tidak harus menjadi lawan dari prestasi.
Yang menjadi masalah bukan bebas atau tidak bebas, melainkan apakah kebebasan itu memiliki arah dan tanggung jawab.
Kebebasan tanpa tanggung jawab memang dapat berubah menjadi kekacauan.
Tetapi aturan tanpa kesadaran juga dapat berubah menjadi kepatuhan semu.
Maka pendidikan membutuhkan keduanya: ruang untuk memilih dan kesadaran untuk bertanggung jawab.
Ada satu hal lagi yang patut direnungkan.
Mengapa pendidikan sering begitu takut terhadap perbedaan?
Anak harus berpenampilan sama. Cara berpikir harus sama. Jawaban harus sama. Bahkan kadang keberanian mempertanyakan sesuatu justru dianggap sebagai bentuk pembangkangan.
Padahal dunia yang akan dimasuki anak-anak kita setelah lulus sekolah bukan dunia yang seragam.
Mereka akan berhadapan dengan manusia yang berbeda agama, budaya, karakter, pandangan politik, profesi dan kepentingan.
Mereka membutuhkan kemampuan berdialog.
Mereka membutuhkan keberanian berpikir.
Mereka membutuhkan kemampuan mengambil keputusan.
Mereka membutuhkan empati.
Dan mereka membutuhkan integritas.
Itulah sebabnya konsep pendidikan De Britto menarik untuk dipelajari, bukan untuk ditiru mentah-mentah.
Sebab kita tidak sedang mengatakan bahwa semua sekolah harus membolehkan rambut gondrong.
Bukan itu persoalannya.
Persoalannya adalah: jangan sampai kita mengira bahwa rambut pendek adalah karakter, seragam adalah kedisiplinan, dan kepatuhan adalah kedewasaan.
De Britto sendiri tidak sekadar menjual kebebasan penampilan. Sekolah ini memiliki tradisi pendidikan Jesuit yang menempatkan pembentukan leader of service atau pemimpin yang melayani sebagai bagian penting dari pendidikannya. Profil yang dikembangkan bahkan menekankan kompetensi, hati nurani, bela rasa, komitmen dan konsistensi.
Karena itu, kalau sekolah-sekolah lain ingin belajar dari De Britto, jangan berhenti pada rambut gondrongnya.
Yang perlu dipelajari adalah sistem di balik kebebasannya.
Bagaimana kebebasan diberikan?
Bagaimana tanggung jawab ditanamkan?
Bagaimana guru menjadi teladan?
Bagaimana siswa diberi ruang mengambil keputusan?
Bagaimana kesalahan dijadikan bahan refleksi?
Bagaimana prestasi akademik tetap dijaga?
Dan yang paling penting: bagaimana sekolah membentuk manusia, bukan sekadar menghasilkan nilai ujian?
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tidak hanya berapa banyak siswa yang masuk perguruan tinggi terbaik.
Kita juga harus bertanya:
Apakah mereka menjadi manusia yang jujur?
Apakah mereka mampu berpikir kritis?
Apakah mereka berani mempertanggungjawabkan pilihannya?
Apakah mereka memiliki kepedulian terhadap orang lain?
Dan ketika kelak memegang jabatan, kekuasaan atau profesi tertentu, apakah mereka masih memiliki hati nurani?
Barangkali di situlah pelajaran paling penting dari anak-anak gondrong De Britto.
Mereka mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak seharusnya hanya sibuk mengatur penampilan anak agar terlihat tertib dari luar. Pendidikan harus bekerja lebih jauh: membangun manusia yang tertib dari dalam.
Sebab sekolah yang berhasil bukanlah sekolah yang membuat semua anak tampak sama.
Sekolah yang berhasil adalah sekolah yang membuat anak mampu menjadi dirinya sendiri, berpikir dengan kepalanya sendiri, memilih dengan kesadarannya sendiri, dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
Dan kalau anak gondrong pun bisa berprestasi, mungkin yang perlu kita potong bukan rambut mereka.
Mungkin yang perlu kita potong adalah cara berpikir kita tentang pendidikan.
Wallahu a'lam biṣ-ṣawāb
mas
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa,Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM