Puisi Esai Memperingati Hari Lahir Nabi Agung Muhammad SAW
Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Malam itu,
Makkah tidak sedang menunggu seorang raja.
Tidak ada karpet merah,
tidak ada bunyi terompet kerajaan,
tidak ada pengawal berdiri di depan pintu.
Yang lahir hanyalah seorang bayi
di rumah sederhana,
dari seorang ibu bernama Aminah.
Namun sejarah sedang menahan napas.
Sebab bayi itu kelak
akan mengguncangkan singgasana kesombongan,
meruntuhkan berhala-berhala kezaliman,
mengangkat martabat manusia
yang selama berabad-abad diinjak-injak sesamanya.
Muhammad.
Nama itu kelak
akan disebut di menara-menara masjid,
di bibir para pecinta,
di antara doa dan air mata,
dari Timur hingga Barat.
---
Sebelum Muhammad lahir,
Makkah adalah kota perdagangan.
Ka'bah berdiri megah,
tetapi di sekelilingnya
berhala-berhala memenuhi ruang.
Tangan manusia membuat Tuhan-tuhan palsu,
lalu manusia sendiri
berlutut di hadapannya.
Yang kuat memakan yang lemah.
Budak tidak memiliki suara.
Perempuan sering diperlakukan sebagai benda.
Anak perempuan bahkan dapat dikubur hidup-hidup
hanya karena dianggap membawa aib.
Kekayaan berputar
di antara tangan orang-orang kaya.
Sementara orang miskin
hanya mengenal sisa makanan
dan sisa kasih sayang.
Di tengah masyarakat seperti itulah
Muhammad lahir.
Bukan untuk menambah satu lagi
orang yang berkuasa.
Tetapi untuk mengatakan kepada manusia:
“Kalian semua berasal dari satu manusia.”
Dan ketika manusia berasal dari satu asal,
mengapa sebagian merasa lebih mulia
hanya karena harta?
Mengapa seseorang merendahkan yang lain
hanya karena nasab?
Mengapa kekuasaan
membuat manusia merasa berhak
menghina manusia lainnya?
---
Nabi Muhammad tumbuh sebagai yatim.
Ia tidak memulai hidup
dengan kemewahan.
Ia mengenal kehilangan
sebelum mengenal kejayaan.
Ayahnya telah pergi
sebelum ia sempat memanggil, “Ayah.”
Ibunya pun pergi
ketika usianya masih belia.
Seakan-akan Tuhan sedang mendidiknya
agar kelak ia memahami
air mata orang-orang yang kehilangan.
Agar ia tidak menjadi nabi
yang hanya mengenal istana,
tetapi nabi
yang memahami luka manusia.
Maka tidak mengherankan
jika kelak Al-Qur'an mengingatkan:
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
“Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.
Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.”
(QS. Ad-Duha: 9–10)
Ayat itu seperti suara
yang masih mengetuk pintu zaman.
Hari ini kita mungkin
tidak mengubur bayi perempuan hidup-hidup.
Tetapi apakah kita sudah berhenti
mengubur harapan manusia?
Kita mungkin tidak lagi menjual manusia sebagai budak.
Tetapi bukankah masih ada manusia
yang diperlakukan seperti angka,
seperti tenaga murah,
seperti suara yang boleh dibeli
ketika pemilu tiba?
Kita mungkin tidak menyembah patung.
Tetapi jangan-jangan
kita sedang membuat berhala baru:
kekuasaan,
jabatan,
uang,
popularitas,
bahkan ego diri sendiri.
---
Muhammad datang membawa kalimat sederhana:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
Tidak ada Tuhan selain Allah.
Tetapi kalimat itu
sesungguhnya adalah revolusi.
Ia membebaskan manusia
dari perbudakan kepada sesama manusia.
Sebab jika hanya Allah yang disembah,
maka tidak boleh ada manusia
yang diperlakukan sebagai Tuhan.
Tidak boleh ada kekuasaan
yang merasa dirinya tidak bisa salah.
Tidak boleh ada kekayaan
yang merasa dirinya membeli kehormatan.
Tidak boleh ada ilmu
yang membuat seseorang kehilangan kerendahan hati.
Tidak boleh ada agama
yang membuat manusia kehilangan kasih sayang.
---
Lalu Nabi Muhammad SAW berjalan
dari satu lorong sejarah ke lorong berikutnya.
Ia dimaki.
Ia dilempari batu.
Ia diboikot.
Ia disakiti.
Tetapi ketika kesempatan membalas datang,
ia memilih memaafkan.
Di situlah kita menemukan
bahwa kekuatan Nabi
bukan sekadar kemampuan menaklukkan musuh.
Kekuatan terbesar beliau
adalah kemampuan menaklukkan dirinya sendiri.
Al-Qur'an menyebutnya:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Tidaklah Kami mengutus engkau
melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya': 107)
Rahmat.
Bukan hanya untuk orang yang sepaham.
Bukan hanya untuk mereka yang memujinya.
Bukan hanya untuk orang-orang yang berada
di lingkaran kelompoknya.
Tetapi:
لِلْعَالَمِينَ
untuk seluruh alam.
Maka memperingati kelahiran Nabi
tidak cukup dengan memperbanyak lampu,
memperindah panggung,
atau memperpanjang pujian.
Yang lebih penting:
apakah cahaya Nabi Muhammad SAW
sudah masuk ke dalam perilaku kita?
---
Jika Rasulullah SAW hidup di tengah kita hari ini,
barangkali beliau akan bertanya:
Di mana anak yatim yang kalian lindungi?
Di mana orang miskin yang kalian bela?
Di mana orang lemah yang kalian dengarkan?
Di mana keadilan
ketika orang kecil berhadapan dengan kekuasaan?
Di mana kejujuran
ketika keuntungan menggiurkan?
Di mana persaudaraan
ketika perbedaan pilihan politik
membuat kalian saling mencaci?
Dan mungkin kita akan terdiam.
Sebab kita terlalu sering
membicarakan cinta kepada Nabi,
tetapi lupa meniru akhlaknya.
Kita menangis ketika namanya disebut,
tetapi mudah membuat orang lain menangis.
Kita bershalawat dengan suara keras,
tetapi suara hati kita
kadang begitu pelan
ketika orang miskin membutuhkan pertolongan.
---
Hari ini kita kembali memperingati
hari lahir manusia paling agung itu.
Muhammad SAW.
Kelahirannya bukan sekadar peristiwa sejarah.
Ia adalah pertanyaan.
Pertanyaan kepada zaman:
Apakah cahaya itu masih hidup
di dalam diri kita?
Sebab Nabi boleh telah wafat.
Tetapi risalahnya tidak.
Akhlaknya tidak.
Kasih sayangnya tidak.
Keadilannya tidak.
Dan perjuangannya membebaskan manusia
dari segala bentuk kezaliman
tidak boleh berhenti.
Maka jika hari ini
kita mengaku mencintai Muhammad,
marilah kita buktikan
dengan cara yang paling sederhana:
jangan sakiti orang lain.
Jangan hinakan yang lemah.
Jangan khianati amanah.
Jangan gunakan agama
untuk membenarkan kesombongan.
Jangan gunakan kekuasaan
untuk menindas.
Dan jangan biarkan
orang miskin merasa sendirian
di negeri yang katanya merdeka.
---
Malam semakin tua.
Makkah mungkin telah berubah.
Dinding-dindingnya menjulang tinggi,
jalan-jalannya dipenuhi cahaya,
manusia datang dari berbagai penjuru dunia.
Tetapi satu hal
tidak boleh berubah:
kerinduan manusia
kepada cahaya Muhammad.
Cahaya yang pernah lahir
di sebuah malam yang sunyi.
Cahaya yang kemudian berjalan
menembus padang pasir.
Cahaya yang sampai kepada kita
melalui Al-Qur'an,
shalawat,
akhlak,
dan teladan.
Dan kini,
cahaya itu sedang mencari rumah baru.
Bukan rumah dari batu.
Bukan gedung yang megah.
Bukan panggung yang penuh sorotan.
Tetapi hati kita.
Maka pada hari kelahirannya,
marilah kita berkata kepada diri sendiri:
Jika aku benar-benar mencintai Muhammad,
biarlah sebagian akhlaknya
hidup dalam diriku.
Jika aku benar-benar merindukannya,
biarlah orang lain merasa aman
ketika berada di dekatku.
Jika aku benar-benar ingin mendapat syafaatnya,
biarlah aku tidak menjadi bagian
dari kezaliman yang beliau lawan.
Sebab kelahiran Muhammad
bukan hanya kabar gembira
bahwa seorang nabi telah lahir.
Ia adalah kabar gembira
bahwa rahmat telah menemukan jalan
menuju dunia.
Dan tugas kita sekarang
adalah memastikan
rahmat itu tidak padam.
Selamat memperingati kelahiranmu,
wahai Rasulullah.
Kami mungkin tidak pernah melihat wajahmu.
Tetapi kami ingin
menjaga cahaya yang engkau tinggalkan.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد
وعلى آله وصحبه أجمعين.
Semoga suatu hari,
di telaga yang engkau janjikan,
ketika kami berdiri
dengan segala kekurangan,
engkau mengenali kami
sebagai umatmu.
Dan kami dapat berkata:
“Ya Rasulullah,
kami memang tidak pernah melihatmu.
Tetapi kami berusaha
hidup dengan cahaya yang engkau bawa.”
Gresik, 24 Agustus 2026
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM