Loading...
KETIKA CAHAYA ITU LAHIR
24/08/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Puisi Esai Memperingati Hari Lahir Nabi Agung Muhammad SAW

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy


Malam itu,

Makkah tidak sedang menunggu seorang raja.


Tidak ada karpet merah,

tidak ada bunyi terompet kerajaan,

tidak ada pengawal berdiri di depan pintu.


Yang lahir hanyalah seorang bayi

di rumah sederhana,

dari seorang ibu bernama Aminah.


Namun sejarah sedang menahan napas.


Sebab bayi itu kelak

akan mengguncangkan singgasana kesombongan,

meruntuhkan berhala-berhala kezaliman,

mengangkat martabat manusia

yang selama berabad-abad diinjak-injak sesamanya.


Muhammad.


Nama itu kelak

akan disebut di menara-menara masjid,

di bibir para pecinta,

di antara doa dan air mata,

dari Timur hingga Barat.

---

Sebelum Muhammad lahir,

Makkah adalah kota perdagangan.


Ka'bah berdiri megah,

tetapi di sekelilingnya

berhala-berhala memenuhi ruang.


Tangan manusia membuat Tuhan-tuhan palsu,

lalu manusia sendiri

berlutut di hadapannya.


Yang kuat memakan yang lemah.


Budak tidak memiliki suara.

Perempuan sering diperlakukan sebagai benda.

Anak perempuan bahkan dapat dikubur hidup-hidup

hanya karena dianggap membawa aib.


Kekayaan berputar

di antara tangan orang-orang kaya.


Sementara orang miskin

hanya mengenal sisa makanan

dan sisa kasih sayang.


Di tengah masyarakat seperti itulah

Muhammad lahir.


Bukan untuk menambah satu lagi

orang yang berkuasa.


Tetapi untuk mengatakan kepada manusia:


“Kalian semua berasal dari satu manusia.”


Dan ketika manusia berasal dari satu asal,

mengapa sebagian merasa lebih mulia

hanya karena harta?


Mengapa seseorang merendahkan yang lain

hanya karena nasab?


Mengapa kekuasaan

membuat manusia merasa berhak

menghina manusia lainnya?


---


Nabi Muhammad tumbuh sebagai yatim.


Ia tidak memulai hidup

dengan kemewahan.


Ia mengenal kehilangan

sebelum mengenal kejayaan.


Ayahnya telah pergi

sebelum ia sempat memanggil, “Ayah.”


Ibunya pun pergi

ketika usianya masih belia.


Seakan-akan Tuhan sedang mendidiknya

agar kelak ia memahami

air mata orang-orang yang kehilangan.


Agar ia tidak menjadi nabi

yang hanya mengenal istana,

tetapi nabi

yang memahami luka manusia.


Maka tidak mengherankan

jika kelak Al-Qur'an mengingatkan:


فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ ۝ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ


“Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.

Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.”


(QS. Ad-Duha: 9–10)


Ayat itu seperti suara

yang masih mengetuk pintu zaman.


Hari ini kita mungkin

tidak mengubur bayi perempuan hidup-hidup.


Tetapi apakah kita sudah berhenti

mengubur harapan manusia?


Kita mungkin tidak lagi menjual manusia sebagai budak.


Tetapi bukankah masih ada manusia

yang diperlakukan seperti angka,

seperti tenaga murah,

seperti suara yang boleh dibeli

ketika pemilu tiba?


Kita mungkin tidak menyembah patung.


Tetapi jangan-jangan

kita sedang membuat berhala baru:


kekuasaan,

jabatan,

uang,

popularitas,

bahkan ego diri sendiri.


---


Muhammad datang membawa kalimat sederhana:


لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ


Tidak ada Tuhan selain Allah.


Tetapi kalimat itu

sesungguhnya adalah revolusi.


Ia membebaskan manusia

dari perbudakan kepada sesama manusia.


Sebab jika hanya Allah yang disembah,

maka tidak boleh ada manusia

yang diperlakukan sebagai Tuhan.


Tidak boleh ada kekuasaan

yang merasa dirinya tidak bisa salah.


Tidak boleh ada kekayaan

yang merasa dirinya membeli kehormatan.


Tidak boleh ada ilmu

yang membuat seseorang kehilangan kerendahan hati.


Tidak boleh ada agama

yang membuat manusia kehilangan kasih sayang.


---


Lalu Nabi Muhammad SAW berjalan

dari satu lorong sejarah ke lorong berikutnya.


Ia dimaki.


Ia dilempari batu.


Ia diboikot.


Ia disakiti.


Tetapi ketika kesempatan membalas datang,

ia memilih memaafkan.


Di situlah kita menemukan

bahwa kekuatan Nabi

bukan sekadar kemampuan menaklukkan musuh.


Kekuatan terbesar beliau

adalah kemampuan menaklukkan dirinya sendiri.


Al-Qur'an menyebutnya:


وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ


“Tidaklah Kami mengutus engkau

melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”


(QS. Al-Anbiya': 107)


Rahmat.


Bukan hanya untuk orang yang sepaham.


Bukan hanya untuk mereka yang memujinya.


Bukan hanya untuk orang-orang yang berada

di lingkaran kelompoknya.


Tetapi:


لِلْعَالَمِينَ


untuk seluruh alam.


Maka memperingati kelahiran Nabi

tidak cukup dengan memperbanyak lampu,

memperindah panggung,

atau memperpanjang pujian.


Yang lebih penting:


apakah cahaya Nabi Muhammad SAW 

sudah masuk ke dalam perilaku kita?


---


Jika Rasulullah SAW hidup di tengah kita hari ini,

barangkali beliau akan bertanya:


Di mana anak yatim yang kalian lindungi?


Di mana orang miskin yang kalian bela?


Di mana orang lemah yang kalian dengarkan?


Di mana keadilan

ketika orang kecil berhadapan dengan kekuasaan?


Di mana kejujuran

ketika keuntungan menggiurkan?


Di mana persaudaraan

ketika perbedaan pilihan politik

membuat kalian saling mencaci?


Dan mungkin kita akan terdiam.


Sebab kita terlalu sering

membicarakan cinta kepada Nabi,

tetapi lupa meniru akhlaknya.


Kita menangis ketika namanya disebut,

tetapi mudah membuat orang lain menangis.


Kita bershalawat dengan suara keras,

tetapi suara hati kita

kadang begitu pelan

ketika orang miskin membutuhkan pertolongan.


---


Hari ini kita kembali memperingati

hari lahir manusia paling agung itu.


Muhammad SAW.


Kelahirannya bukan sekadar peristiwa sejarah.


Ia adalah pertanyaan.


Pertanyaan kepada zaman:


Apakah cahaya itu masih hidup

di dalam diri kita?


Sebab Nabi boleh telah wafat.


Tetapi risalahnya tidak.


Akhlaknya tidak.


Kasih sayangnya tidak.


Keadilannya tidak.


Dan perjuangannya membebaskan manusia

dari segala bentuk kezaliman

tidak boleh berhenti.


Maka jika hari ini

kita mengaku mencintai Muhammad,


marilah kita buktikan

dengan cara yang paling sederhana:


jangan sakiti orang lain.


Jangan hinakan yang lemah.


Jangan khianati amanah.


Jangan gunakan agama

untuk membenarkan kesombongan.


Jangan gunakan kekuasaan

untuk menindas.


Dan jangan biarkan

orang miskin merasa sendirian

di negeri yang katanya merdeka.


---


Malam semakin tua.


Makkah mungkin telah berubah.


Dinding-dindingnya menjulang tinggi,

jalan-jalannya dipenuhi cahaya,

manusia datang dari berbagai penjuru dunia.


Tetapi satu hal

tidak boleh berubah:


kerinduan manusia

kepada cahaya Muhammad.


Cahaya yang pernah lahir

di sebuah malam yang sunyi.


Cahaya yang kemudian berjalan

menembus padang pasir.


Cahaya yang sampai kepada kita

melalui Al-Qur'an,

shalawat,

akhlak,

dan teladan.


Dan kini,


cahaya itu sedang mencari rumah baru.


Bukan rumah dari batu.


Bukan gedung yang megah.


Bukan panggung yang penuh sorotan.


Tetapi hati kita.


Maka pada hari kelahirannya,

marilah kita berkata kepada diri sendiri:


Jika aku benar-benar mencintai Muhammad,

biarlah sebagian akhlaknya

hidup dalam diriku.


Jika aku benar-benar merindukannya,

biarlah orang lain merasa aman

ketika berada di dekatku.


Jika aku benar-benar ingin mendapat syafaatnya,

biarlah aku tidak menjadi bagian

dari kezaliman yang beliau lawan.


Sebab kelahiran Muhammad

bukan hanya kabar gembira

bahwa seorang nabi telah lahir.


Ia adalah kabar gembira

bahwa rahmat telah menemukan jalan

menuju dunia.


Dan tugas kita sekarang

adalah memastikan

rahmat itu tidak padam.


Selamat memperingati kelahiranmu,

wahai Rasulullah.


Kami mungkin tidak pernah melihat wajahmu.


Tetapi kami ingin

menjaga cahaya yang engkau tinggalkan.


اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد

وعلى آله وصحبه أجمعين.


Semoga suatu hari,

di telaga yang engkau janjikan,


ketika kami berdiri

dengan segala kekurangan,


engkau mengenali kami

sebagai umatmu.


Dan kami dapat berkata:


“Ya Rasulullah,

kami memang tidak pernah melihatmu.

Tetapi kami berusaha

hidup dengan cahaya yang engkau bawa.”


Gresik,  24 Agustus 2026


Ahmad Chuvav Ibriy

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM