Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy
Al-Ghazali banyak berbicara tentang kegelisahan hati. Menurut beliau, hati manusia itu seperti cermin. Jika terlalu dipenuhi ambisi dunia, kemarahan, iri, ketakutan, dan kegaduhan pikiran, maka cermin itu menjadi keruh sehingga tidak mampu memantulkan cahaya kebenaran.
Pesan beliau kepada orang yang sedang gundar-gulana bukan sekadar “bersabar”, tetapi kembali menata hati dan hubungan dengan Allah. Dalam banyak penjelasannya, beliau mengingatkan bahwa kegelisahan sering muncul karena hati terlalu bergantung kepada makhluk, keadaan, dan masa depan, sementara tawakkal kepada Allah melemah.
Al-Ghazali juga menulis bahwa hati tidak akan pernah tenang hanya dengan terpenuhinya urusan dunia. Sebab dunia selalu menyisakan kekhawatiran baru. Hari ini cemas karena belum punya, besok cemas takut kehilangan. Karena itu beliau mengarahkan manusia agar memperbanyak dzikir, muhasabah, mengurangi cinta berlebihan kepada dunia, dan melatih hati menerima takdir Allah dengan lapang.
Al-Ghazali juga mengingatkan bahwa kegelisahan tidak selalu buruk. Ada kegelisahan yang justru menjadi tanda bahwa hati masih hidup. Sebab hati yang mati tidak lagi merasa bersalah, tidak lagi takut kepada Allah Swt, dan tidak lagi peduli ke mana hidupnya berjalan. Karena itu, kegelisahan yang membawa seseorang kembali berdoa, kembali introspeksi, dan kembali mendekat kepada Allah Swt, pada hakikatnya bisa menjadi pintu keselamata
Ada ungkapan yang sejalan dengan ruh pemikiran beliau:
“Jangan engkau mencari ketenangan di luar, sementara hatimu jauh dari Allah Swt. Sebab ketenangan bukan terletak pada sedikitnya masalah, tetapi pada dekatnya hati kepada Tuhan.”
Menurut Al-Ghazali, orang yang sedang gelisah juga jangan terlalu larut dalam keramaian dan perdebatan. Kadang hati membutuhkan khalwat: diam sejenak, membaca Al-Qur’an, shalat malam, atau sekadar berbicara jujur kepada Allah tentang apa yang dirasakan. Karena banyak luka batin tidak sembuh dengan penjelasan manusia, tetapi luluh ketika hati kembali bersandar kepada-Nya.
Wallāhu al-Musta'ān
Gresik, 24 Mei 2026