Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy
Ada orang yang hari ini gelisah memikirkan bisnisnya yang melemah. Ada yang resah karena penghasilan menurun sementara kebutuhan terus berjalan. Ada yang kecewa karena dikhianati rekan yang dulu dipercaya. Ada pula yang hatinya lelah menghadapi anak buah yang mulai membangkang, keluarga yang sulit memahami, atau lingkungan yang semakin tidak nyaman dijalani. Belum lagi kegelisahan tentang masa depan anak, kesehatan orang tua, hutang, pekerjaan, dan keadaan dunia yang terasa makin tidak menentu.
Semua itu membuat hati manusia mudah gundar-gulana. Pikiran terasa penuh, tidur tidak tenang, ibadah mulai kehilangan kekhusyukan, dan wajah tetap tersenyum meski batin sedang letih. Pada titik itu, manusia sering merasa seolah dirinya sendirian menghadapi semuanya.
Padahal hidup memang tidak pernah dijanjikan selalu mudah. Bahkan orang-orang saleh pun diuji dengan kehilangan, pengkhianatan, kemiskinan, sakit, dan tekanan hidup. Bedanya, mereka tidak membiarkan ujian menguasai hati. Mereka tetap berusaha, tetapi tidak menggantungkan ketenangan hidup hanya kepada keadaan dunia.
Karena itu, ketika hati sedang resah, jangan tergesa mengambil keputusan saat emosi memuncak. Tenangkan diri, kurangi keluhan, dekatkan diri kepada Allah, lalu lihat masalah dengan pikiran yang lebih jernih. Tidak semua yang hilang harus disesali berlebihan, dan tidak semua yang pergi harus dikejar kembali. Kadang Allah mengambil sesuatu dari hidup kita untuk menyelamatkan kita dari sesuatu yang lebih buruk.
Ingatlah, badai tidak selalu datang untuk menghancurkan hidup. Kadang ia datang untuk membersihkan jalan, menata ulang arah, dan mengajarkan manusia bahwa sandaran terbaik bukanlah harta, jabatan, atau manusia, melainkan Allah SWT.
Wallāhu al-Musta'ān