(Puisi Esai tentang Lailatul Qadr)
Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Ramadhan selalu datang
dengan langkah yang berbeda dari bulan-bulan lain.
Siangnya mendidik manusia menahan diri—
menahan lapar,
menahan dahaga,
dan yang lebih sulit:
menahan amarah serta kesombongan hati.
Malamnya dipenuhi cahaya ibadah:
suara ayat Al-Qur’an yang dibaca perlahan,
dzikir yang bergulir seperti embun,
dan doa-doa yang meluncur pelan
menuju langit yang tidak pernah tertutup.
Namun di antara seluruh malam Ramadhan,
ada satu malam yang berdiri sendirian
dalam kemuliaannya.
Malam itu bernama
Lailatul Qadr.
Allah Swt berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.
Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan.
Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.”
(QS. Al-Qadr: 1–5)
Seribu bulan.
Jika dihitung dengan kehidupan manusia,
itu lebih dari delapan puluh tahun.
Artinya:
satu malam ibadah
dapat lebih bernilai
daripada hampir seluruh umur manusia.
Di sinilah terlihat
betapa luas kasih sayang Allah Swt
kepada umat Nabi Muhammad Saw.
Umat yang umurnya relatif pendek
dibukakan pintu
yang nilainya melampaui zaman.
Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan iman dan penuh harap kepada Allah,
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari)
Tetapi Nabi tidak hanya berbicara tentang amal.
Beliau berbicara tentang hati.
Iman.
Dan ihtisab.
Iman adalah keyakinan penuh kepada Allah.
Sedangkan ihtisab adalah berharap pahala
hanya dari-Nya.
Karena itu,
Lailatul Qadr tidak diukur dari
berapa lama seseorang berdiri dalam shalat,
atau berapa banyak ayat yang dibaca.
Ia diukur
oleh kejujuran hati manusia
di hadapan Tuhannya.
Yang menarik,
Rasulullah Saw tidak memberitahu
secara pasti
kapan malam itu datang.
Beliau hanya bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil
di sepuluh malam terakhir Ramadhan.”
(HR. Bukhari)
Seakan Allah Swt
tidak ingin manusia
mencari satu malam saja.
Allah ingin manusia
mencari-Nya.
Sepuluh malam terakhir Ramadhan
adalah undangan panjang dari langit.
Namun manusia modern
sering justru sibuk pada saat itu.
Pusat-pusat perbelanjaan penuh.
Pasar-pasar ramai.
Jalan-jalan dipadati kendaraan.
Manusia sibuk menyiapkan pakaian baru
untuk hari raya,
tetapi lupa membersihkan hatinya
untuk bertemu Tuhannya.
Malam-malam Ramadhan
yang mungkin menyimpan Lailatul Qadr
berlalu
tanpa disadari.
Padahal tidak ada satu pun manusia
yang memiliki jaminan
akan bertemu Ramadhan berikutnya.
Lailatul Qadr
sebenarnya adalah peristiwa ilahiyah.
Ia bukan kenaikan kursi politik.
Bukan naiknya jabatan.
Bukan bertambahnya kekuasaan.
Bukan pula keberhasilan meraih keuntungan materi.
Malam yang lebih baik daripada seribu bulan
bukanlah panggung ambisi dunia.
Ia adalah ruang sunyi
tempat manusia berdialog dengan Tuhannya.
Di sana
dosa-dosa diakui.
Air mata jatuh tanpa saksi.
Dan doa-doa dilangitkan
dengan harapan yang tulus.
Pada malam itu
para malaikat turun ke bumi.
Bayangkan:
langit seakan terbuka
dan bumi dipenuhi kedamaian.
Tidak ada malam lain
yang memiliki suasana seperti itu.
Barangkali di suatu sudut masjid kecil,
ada seorang tua yang berdoa
dengan suara bergetar.
Barangkali di rumah sederhana,
ada seorang ibu yang menangis
memohon masa depan anak-anaknya.
Barangkali ada pemuda
yang diam-diam meminta ampun
atas masa lalunya.
Tidak ada yang tahu
malam mana
doa-doa itu menembus langit.
Tetapi pada Lailatul Qadr
Allah Swt membuka pintu ampunan
lebih luas daripada biasanya.
Karena itu,
Lailatul Qadr pada akhirnya
bukan hanya tentang pahala.
Ia adalah titik balik kehidupan.
Malam ketika manusia
menata kembali arah hidupnya.
Malam ketika seorang hamba berkata:
“Ya Allah,
masa lalu saya penuh kekeliruan.
Tetapi malam ini
saya ingin memulai kehidupan yang baru.”
Dan jika doa itu lahir dari hati yang jujur,
maka satu malam itu
dapat mengubah
seluruh perjalanan hidup manusia.
Di tengah dunia yang gaduh
dan penuh ambisi,
Lailatul Qadr hadir seperti undangan sunyi dari langit.
Undangan untuk kembali.
Undangan untuk memperbaiki diri.
Undangan untuk mendekat kepada Tuhan.
Dan bagi mereka yang menyambutnya
dengan iman dan harapan,
malam itu
bisa menjadi malam
yang mengubah takdir manusia.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik
Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian
MUI Kabupaten Gresik, Jawa Timur
Gresik, 22 Ramadhan 1447H/12 Maret 2026
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM