Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Ada yang lucu dari dunia akademik kita. Orang yang bertahun-tahun melatih otot menulis, membaca banyak buku, bergulat dengan gagasan, lalu menghasilkan tulisan atas nama sendiri, justru bisa merasa terancam punah. Bukan karena kehilangan kemampuan menulis, melainkan karena aturan mainnya mungkin lebih ramah kepada tulisan keroyokan.
Bayangkan, seseorang meneliti, berpikir, menulis, merevisi, lalu menerbitkan karyanya sendirian. Ketika tulisannya terbit, namanya tercantum sebagai penulis tunggal. Jelas, ia tidak perlu berdebat tentang siapa yang menyumbang gagasan paling banyak, siapa yang mengerjakan penelitian, dan siapa yang namanya sekadar ikut menumpang di daftar penulis.
Tetapi, dalam sistem akademik yang terlalu menekankan angka publikasi, menulis sendirian bisa menjadi kemewahan sekaligus ancaman. Sebaliknya, menulis beramai-ramai berpotensi menjadi strategi bertahan hidup.
Maka, jangan-jangan kelak muncul mata kuliah baru di perguruan tinggi: Teknik Bertahan Hidup melalui Publikasi Kolaboratif. Bukan semata-mata belajar meneliti dan menulis, melainkan juga belajar membangun tim, membagi nama, dan memastikan semua anggota memperoleh bagian dari angka kredit.
Tentu, kolaborasi bukan sesuatu yang salah. Dalam penelitian sains, teknologi, kedokteran, dan bidang lain yang membutuhkan keahlian lintas disiplin, kerja bersama justru menjadi keniscayaan. Namun, menjadikan satu pola kepenulisan sebagai ukuran universal jelas tidak bijaksana. Penelitian kualitatif dalam ilmu sosial dan humaniora pun bisa membutuhkan tim, sementara penelitian kuantitatif tertentu juga bisa dikerjakan seorang peneliti.
Masalahnya bukan penulis tunggal melawan penulis jamak. Masalahnya adalah ketika sistem penilaian lebih sibuk menghitung jumlah nama daripada menilai mutu karya, kontribusi nyata, dan kejujuran akademik.
Kalau semua harus beramai-ramai, jangan-jangan suatu saat orang yang mampu berpikir dan menulis mandiri justru dianggap tidak memenuhi syarat untuk menjadi ilmuwan.
Padahal, tujuan akademik bukan memperbanyak nama dalam satu artikel, melainkan memperbanyak pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Jangan sampai kita begitu sibuk mengatur siapa saja yang harus tercantum sebagai penulis, sampai lupa memastikan apakah tulisan itu benar-benar layak dibaca.
Sebab, dalam dunia akademik, yang seharusnya diuji adalah mutu gagasan, bukan sekadar panjangnya daftar nama.
Jangan-jangan kelak, untuk membuktikan bahwa kita seorang ilmuwan, kita tidak cukup mampu menulis. Kita juga harus mampu mengumpulkan orang agar nama kita tidak berjuang sendirian.
Gresik, 13 September 2026
Ahmad Chuvav Ibriy