Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Ada pemandangan yang membuat orang mengernyitkan dahi.
Seorang wanita yang disebut sebagai dosen datang dengan mobil pribadinya. Penampilannya tidak seperti orang yang sedang kesulitan ekonomi. Di tangannya bahkan tergenggam sebuah telepon pintar mahal. Tetapi beberapa saat kemudian, orang itu justru menjadi perhatian karena diduga mengambil jajanan dari seorang pedagang kaki lima.
Peristiwa yang disebut terjadi di Surabaya itu kemudian beredar di media sosial.
Yang membuat orang ramai membicarakannya bukan semata-mata soal nilai jajanan yang diambil. Bisa jadi nilainya hanya beberapa ribu rupiah. Yang membuat publik bertanya justru sebuah paradoks:
Mengapa orang yang tampaknya mampu membeli, memilih mengambil?
Di situlah persoalan menjadi lebih menarik daripada sekadar cerita tentang mencuri.
Sebab mencuri tidak selalu lahir dari perut yang lapar. Tidak selalu pula berasal dari dompet yang kosong.
Ada orang yang mencuri karena kebutuhan. Ada yang mencuri karena keserakahan. Ada yang mengambil milik orang lain karena merasa kesempatan terbuka. Tetapi dalam dunia psikologi dikenal pula istilah kleptomania, sebuah gangguan kontrol impuls yang ditandai dorongan berulang untuk mencuri barang yang sebenarnya tidak diperlukan dan sering kali mampu dibeli oleh pelakunya.
Menurut Mayo Clinic, orang dengan kleptomania dapat mengalami dorongan mencuri yang sulit dilawan. Barang yang diambil bahkan sering tidak memiliki nilai penting bagi dirinya. Setelah mengambil, seseorang bisa merasakan lega atau puas, kemudian muncul rasa bersalah, malu, atau penyesalan.
Tetapi tunggu dulu.
Jangan buru-buru memasukkan seseorang dalam video viral ke dalam kategori itu.
Satu peristiwa pencurian tidak otomatis berarti kleptomania.
Diagnosis bukan pekerjaan netizen. Bukan pula pekerjaan kamera ponsel. Diagnosis memerlukan penilaian profesional berdasarkan pola perilaku, dorongan, kondisi psikologis, dan berbagai faktor lain.
Karena itu, feature ini tidak sedang mengadili seseorang.
Justru kita sedang bercermin.
Sebab ada pertanyaan yang jauh lebih besar daripada siapa yang mengambil jajanan itu.
Apa sebenarnya yang membuat manusia mengambil sesuatu yang tidak ia butuhkan?
Kita hidup dalam masyarakat yang sering mengukur seseorang dari tampilan luarnya.
Mobil menjadi simbol keberhasilan. Telepon genggam menjadi tanda kemampuan ekonomi. Jabatan menjadi ukuran kehormatan. Gelar akademik menjadi lambang kecerdasan.
Seorang dosen, misalnya, bukan sekadar seseorang yang mengajar di ruang kelas. Ia membawa nama ilmu pengetahuan. Ia berdiri di depan mahasiswa sebagai orang yang semestinya tidak hanya mengajarkan apa yang tertulis dalam buku, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan menjadi perilaku.
Namun manusia tetaplah manusia.
Gelar tidak otomatis membuat seseorang kebal dari kesalahan. Jabatan tidak menjadikan seseorang suci. Mobil bagus tidak menjamin hati selalu lapang. Telepon mahal tidak selalu berarti seseorang mampu mengendalikan keinginannya.
Di sinilah kita perlu membedakan kemampuan membeli dengan kemampuan mengendalikan diri.
Seseorang bisa memiliki uang, tetapi belum tentu memiliki kendali atas dorongan. Seseorang bisa memiliki jabatan, tetapi belum tentu mampu mengelola keinginan. Seseorang bisa menguasai banyak ilmu, tetapi belum tentu seluruh ilmunya telah menjadi akhlak.
Bukankah ini pelajaran penting?
Pedagang kecil di pinggir jalan mungkin hanya menjual beberapa bungkus makanan. Tetapi di balik dagangan sederhana itu ada modal, tenaga, keringat, dan harapan untuk membawa uang pulang.
Karena itu, mengambil barang dagangan tanpa membayar bukan sekadar mengambil makanan.
Ada keringat manusia lain yang ikut tersentuh.
Ada penghargaan terhadap usaha kecil yang ikut dipertaruhkan.
Namun di sisi lain, kita juga perlu berhati-hati agar tidak menjadikan media sosial sebagai ruang penghakiman massal.
Seseorang yang tertangkap kamera melakukan kesalahan tetap memiliki hak untuk diperlakukan sebagai manusia. Jika memang terbukti mengambil barang orang lain, tentu ada konsekuensi moral dan hukum yang harus dihadapi. Tetapi jika muncul dugaan tentang kondisi kejiwaan, biarlah ahlinya yang memeriksa.
Sebab terkadang kita terlalu cepat memberi label.
“Pencuri.”
“Orang kaya kok mencuri.”
“Dosen kok begitu.”
Padahal di balik perilaku manusia selalu ada persoalan yang tidak bisa dibaca hanya dari beberapa detik rekaman video.
Mungkin ini saatnya kita belajar bahwa kemiskinan tidak selalu berada di dalam dompet.
Ada kemiskinan pengendalian diri.
Ada kemiskinan rasa malu.
Ada kemiskinan empati.
Dan ada pula kekayaan yang hanya tampak di luar.
Mobil boleh mewah. Telepon boleh mahal. Gelar akademik boleh berderet. Jabatan boleh tinggi.
Tetapi pada akhirnya, kualitas manusia tidak ditentukan oleh apa yang berada di tangannya.
Ia ditentukan oleh apa yang mampu ia tahan agar tidak mengambil hak orang lain.
Sebab orang yang benar-benar kaya bukan hanya orang yang mampu membeli apa yang ia inginkan.
Orang yang kaya adalah orang yang mampu berkata kepada dirinya sendiri:
“Aku bisa mengambilnya, tetapi itu bukan milikku.”
Dan kadang-kadang, kalimat sederhana itulah yang membedakan antara punya banyak dan punya harga diri.