Loading...
Kiai, Avanza, dan Land Cruiser: Salah Terus di Mata Publik?
27/06/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Ada ironi yang menarik dalam cara sebagian masyarakat memandang kehidupan seorang kiai.

Ketika seorang kiai datang mengisi pengajian dengan mobil Avanza, muncul cibiran, "Kiai kok mlarat? Masa pemimpin agama naik mobil begini?"

Namun ketika ada kiai yang memimpin ormas besar lalu terlihat menggunakan Land Cruiser, Alphard, atau kendaraan mewah lainnya, cibiran berubah arah, "Dari mana uangnya? Kiai tidak punya perusahaan, kok bisa hidup semewah itu?"

Artinya, apa pun pilihan hidupnya, selalu ada yang salah.

Padahal ukuran kemuliaan seorang kiai bukanlah merek mobil yang dikendarai. Yang jauh lebih penting adalah integritas, keilmuan, akhlak, dan kemandiriannya.

Memang, memimpin organisasi besar membutuhkan mobilitas tinggi. Tidak sedikit pimpinan ormas yang memperoleh fasilitas kendaraan dari lembaga, donatur, atau pihak lain. Selama semuanya dilakukan secara transparan, sesuai aturan, dan tidak menimbulkan konflik kepentingan, hal itu dapat dipahami.

Namun persoalannya menjadi berbeda apabila gaya hidup mewah justru menjadi orientasi, sehingga jabatan organisasi dipandang sebagai jalan memperoleh fasilitas dan kemewahan. Di titik inilah publik berhak bertanya dan mengkritik.

Karena itu, jalan yang paling aman bagi seorang kiai sebenarnya sederhana: hiduplah sesuai kemampuan. Jangan memaksakan diri tampil mewah hanya demi citra, tetapi juga tidak perlu minder bila hidup sederhana.

Kiai tidak harus kaya untuk dihormati. Sebaliknya, kemewahan juga tidak otomatis menambah kewibawaan. Justru kesederhanaan yang lahir dari kemandirian sering kali melahirkan penghormatan yang jauh lebih tulus.

Seorang kiai yang memimpin ormas besar tidak perlu memberatkan umat dengan berbagai pungutan, tidak perlu terlalu dekat dengan penguasa hanya demi memperoleh fasilitas hidup yang lebih mewah, dan tidak perlu menjadikan jabatan sebagai tangga menuju kenyamanan pribadi. Jabatan adalah amanah, bukan instrumen menaikkan kelas sosial.

Bila memang memiliki usaha yang halal dan berhasil, masyarakat tentu dapat memahami. Tetapi bila sumber kemewahan tidak jelas, maka pertanyaan publik adalah sesuatu yang wajar. Transparansi menjadi penting agar marwah lembaga dan kehormatan kiai tetap terjaga.

Pada akhirnya, masyarakat juga perlu berlaku adil. Jangan mengejek kiai yang hidup sederhana, tetapi juga jangan kehilangan daya kritis ketika melihat kemewahan yang tidak sejalan dengan prinsip amanah.

Biarkan ukuran seorang kiai kembali pada tempatnya: ilmu, keteladanan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kesederhanaan hidup yang sesuai dengan kemampuannya.

Sebab umat sesungguhnya tidak membutuhkan kiai yang tampak kaya. Umat membutuhkan kiai yang dapat dipercaya. Dan kepercayaan itu jauh lebih berharga daripada Avanza, Alphard, bahkan Land Cruiser sekalipun.

Wallāhu al-Musta'ān