Kolom
Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy
Ada sesuatu yang menarik dari keberanian KH Hasan Abdullah Sahal ketika berbicara di hadapan kekuasaan. Beliau tidak sedang menunjukkan permusuhan kepada pemerintah. Justru sebaliknya, seorang kiai tentu memahami adab menghormati pemimpin. Tetapi penghormatan itu tidak membuat seorang kiai kehilangan kemerdekaan untuk berbicara.
Dalam sebuah kesempatan, beliau menyampaikan pesan yang sederhana tetapi dalam: jika kehidupan seorang kiai jauh lebih mewah daripada kehidupan santrinya, maka silakan dikritik, bahkan diprotes.
Saya menangkap pesan yang lebih besar dari sekadar soal kesederhanaan. Seorang pemimpin semestinya tidak takut dikritik. Dan seorang kiai semestinya tidak takut menyampaikan kritik.
Di sinilah letak pentingnya kemerdekaan seorang kiai.
Kiai memang bukan oposisi pemerintah. Tetapi kiai juga bukan bagian dari pemerintah. Kiai berada di wilayah moral: mengingatkan ketika benar, memuji ketika layak dipuji, dan mengkritik ketika ada yang perlu dikritik.
Kiai boleh dekat dengan penguasa, tetapi jangan sampai kehilangan jarak dengan kebenaran.
Dekat dengan pejabat bukan dosa. Berkomunikasi dengan presiden, menteri, gubernur, bupati, atau siapa pun yang memegang kekuasaan juga bukan sesuatu yang harus dicurigai. Bahkan kedekatan itu bisa menjadi jalan menyampaikan aspirasi umat secara langsung.
Yang menjadi masalah adalah ketika kedekatan berubah menjadi ketergantungan.
Ketika seorang kiai mulai merasa tidak enak mengkritik karena khawatir kehilangan akses. Ketika pujian menjadi lebih mudah daripada nasihat. Ketika kepentingan lembaga membuat suara moral harus disesuaikan dengan selera kekuasaan.
Pada titik itulah kemerdekaan perlahan-lahan bisa hilang.
Seorang kiai tidak harus kasar untuk menunjukkan keberanian. Tidak perlu membentak. Tidak perlu menghina. Tidak perlu menjadikan kritik sebagai panggung permusuhan.
Justru kritik yang disampaikan dengan adab sering kali jauh lebih kuat.
Karena keberanian bukan berarti tidak punya rasa takut. Keberanian adalah kemampuan menempatkan rasa takut pada tempatnya.
Seorang kiai boleh menghormati presiden karena presiden adalah kepala negara. Tetapi presiden tetap manusia. Ia bisa benar dan bisa keliru. Ia bisa mengambil kebijakan yang tepat, tetapi bisa pula mengambil keputusan yang perlu dikoreksi.
Menghormati jabatan tidak berarti membenarkan semua tindakan pemegang jabatan.
Di sinilah tauhid seharusnya melahirkan kemerdekaan jiwa. Seorang yang benar-benar meyakini bahwa kekuasaan tertinggi berada di tangan Allah tidak akan mudah menjadikan manusia sebagai pusat ketakutan. Jabatan boleh tinggi, kekayaan boleh besar, kekuasaan boleh luas, tetapi semuanya tetap sementara.
Karena itu, seorang kiai semestinya tidak menjadi manusia yang mudah silau oleh kekuasaan.
Ia boleh masuk istana, tetapi jangan sampai hatinya menjadi milik istana.
Ia boleh bertemu penguasa, tetapi jangan sampai pikirannya ikut dikuasai penguasa.
Ia boleh menerima penghormatan, tetapi jangan sampai penghormatan itu dibayar dengan diam terhadap sesuatu yang seharusnya diingatkan.
Tentu, kemerdekaan bicara juga harus disertai ilmu dan tanggung jawab. Kiai tidak boleh berbicara sembarangan hanya karena merasa memiliki kebebasan. Kritik harus berdasarkan fakta, bukan prasangka. Nasihat harus lahir dari kepedulian, bukan kebencian.
Sebab kemerdekaan tanpa ilmu dapat berubah menjadi kecerobohan. Keberanian tanpa adab dapat berubah menjadi kesombongan.
Karena itu, yang kita perlukan bukan kiai yang selalu berseberangan dengan pemerintah. Kita juga tidak membutuhkan kiai yang selalu membenarkan pemerintah.
Kita membutuhkan kiai yang merdeka.
Ketika pemerintah benar, ia berani mengapresiasi. Ketika pemerintah keliru, ia berani mengingatkan. Ketika rakyat salah, ia juga berani mengatakan salah. Dan ketika semua pihak sedang mencari pembenaran, ia tetap berdiri di tempat yang sama: di sisi prinsip.
Barangkali inilah kemerdekaan yang paling mahal bagi seorang kiai.
Tidak membenci kekuasaan, tetapi tidak takut kepadanya. Tidak mencari musuh, tetapi juga tidak mencari muka. Tidak merasa lebih tinggi dari penguasa, tetapi juga tidak merasa lebih rendah.
Sebab kiai yang benar-benar merdeka bukanlah kiai yang paling keras suaranya.
Ia adalah kiai yang ketika berbicara kepada rakyat tetap jujur, ketika berbicara kepada penguasa tetap jujur, dan ketika sendirian tetap memegang kejujuran yang sama.
Kiai semestinya merdeka. Sebab kalau suara kiai sudah tidak merdeka, kepada siapa lagi kekuasaan akan mendengar suara moral?
Wallāhu al-Musta'ān
Gresik, 20/9/2026
Ahmad Chuvav Ibriy