Lelah tidak selalu datang setelah mengangkat cangkul, memikul
beras, mengangkut semen, atau berjalan berkilo-kilometer. Kadang kita lelah hanya karena duduk.
Ya, duduk.
Tidak percaya? Cobalah duduk seharian di depan laptop sambil berpikir, menghitung, membaca pesan, menjawab telepon, mengejar deadline, menghadapi persoalan, lalu malamnya masih harus tersenyum kepada keluarga.
Kaki memang tidak ke mana-mana.
Tetapi kepala sudah keliling dunia.
Itulah lelah yang sering tidak terlihat.
Orang yang baru pulang dari sawah biasanya mudah menjelaskan mengapa dirinya lelah. Bajunya basah, wajahnya berkeringat, tangannya kotor. Tetapi orang yang seharian mengurus persoalan di kepala kadang pulang dengan pakaian tetap rapi.
“Lelah?”
“Tidak kerja apa-apa.”
Padahal pikirannya sejak pagi sudah rapat berkali-kali.
Tubuh bisa duduk, tetapi pikiran terus berlari.
Dalam psikologi, beban mental atau mental fatigue bukan perkara sepele. Konsentrasi berkepanjangan, pengambilan keputusan, tekanan, multitasking, dan kekhawatiran terus-menerus dapat menguras energi mental. Bahkan ada orang yang tubuhnya tidak terlalu banyak bergerak, tetapi malam hari merasa seperti habis bekerja seharian.
Karena itu, jangan gampang berkata kepada seseorang, “Kamu kan cuma duduk.”
Barangkali yang tidak terlihat justru yang paling melelahkan.
Ada seorang ibu yang seharian di rumah. Tidak masuk kantor. Tidak memakai seragam. Tidak menghadiri rapat. Tetapi pikirannya tidak pernah libur: anak sekolah, belanja, uang belanja, suami, orang tua, tagihan, kesehatan anak, dan entah apa lagi.
Ada guru yang pulang membawa tubuhnya, tetapi pikirannya masih tertinggal di kelas.
Ada kiai yang selesai mengajar, tetapi masih memikirkan santri.
Ada pemimpin yang setelah rapat selesai justru memasuki rapat yang lebih panjang di dalam kepala.
Ada pula kita yang sebenarnya tidak sedang mengerjakan apa-apa, tetapi sibuk memikirkan sesuatu yang belum terjadi.
Belum tentu kejadian itu benar-benar terjadi.
Tetapi kita sudah lelah duluan.
Manusia memang diciptakan lemah.
وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا
“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”
(QS. An-Nisa’: 28).
Maka lelah bukan tanda bahwa kita buruk. Lelah adalah bagian dari kemanusiaan.
Rasulullah SAW bahkan mengingatkan:
فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atasmu.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Tubuh mempunyai hak untuk beristirahat.
Tetapi di zaman sekarang, agaknya kita perlu menambahkan satu kesadaran: pikiran juga perlu istirahat.
Masalahnya, tubuh bisa dibaringkan. Pikiran belum tentu mau berbaring.
Kita sudah mematikan lampu, tetapi kepala masih menyala.
Kita sudah meletakkan handphone, tetapi pikiran membuka seribu aplikasi.
Inilah mungkin salah satu paradoks manusia modern. Teknologi membuat pekerjaan lebih cepat, tetapi tidak selalu membuat manusia lebih tenang.
Pesan masuk. Notifikasi berbunyi. Grup bergerak. Berita datang. Komentar muncul. Persoalan orang lain masuk ke kepala kita melalui layar.
Dulu orang pergi tidur setelah hari selesai.
Sekarang hari bisa terus masuk ke kamar melalui handphone.
Maka sesungguhnya yang kita perlukan bukan hanya rest from work, tetapi juga rest from thinking.
Bukan berarti kita harus menjadi orang yang tidak berpikir. Justru manusia diperintahkan berpikir, merenung, dan menggunakan akal.
Tetapi berpikir pun membutuhkan jeda.
Dalam Islam, jeda itu bukan kemalasan. Istirahat bisa menjadi bagian dari menjaga amanah tubuh yang diberikan Allah.
Dan lebih jauh lagi, Islam mengajarkan kita untuk tidak menjadikan dunia sebagai beban terakhir yang harus kita pikul sendirian.
Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286).
Ayat ini bukan tiket untuk menyerah. Justru ia mengajarkan bahwa ada batas kemampuan manusia.
Kita boleh lelah.
Kita boleh berhenti sebentar.
Kita boleh berkata, “Saya tidak sanggup melakukan semuanya hari ini.”
Yang tidak boleh adalah menjadikan lelah sebagai alasan untuk kehilangan tujuan.
Sebab dunia memang tempat berjuang. Tetapi dunia bukan tempat tinggal selamanya.
Allah mengingatkan:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77).
Kita bekerja, belajar, mencari harta, mengurus keluarga, membangun lembaga, mengabdi kepada masyarakat. Semua itu boleh melelahkan.
Asal jangan sampai kita lupa: semua ini perjalanan, bukan tujuan akhir.
Maka kalau hari ini lelah, jangan langsung menyimpulkan bahwa hidup sedang gagal.
Mungkin tubuh sedang meminta istirahat.
Mungkin pikiran sedang meminta jeda.
Mungkin hati sedang meminta Allah.
Tidurlah jika memang harus tidur. Diamlah jika terlalu banyak suara. Tinggalkan sejenak pekerjaan yang bisa ditinggalkan. Kurangi sesuatu yang memang tidak harus dipikirkan hari ini.
Besok kita lanjutkan.
Sebab kita tidak dituntut menjadi manusia yang tidak pernah lelah.
Kita hanya diminta jangan kehilangan arah.
Dan barangkali inilah yang sering kita lupa:
Tidak semua lelah harus dilawan. Ada lelah yang harus didengarkan.
Sebab tubuh yang lelah membutuhkan istirahat.
Pikiran yang lelah membutuhkan ketenangan.
Tetapi jiwa yang lelah…
membutuhkan Tuhan.