Loading...
Kritik untuk Menag: Pujian yang Terlalu Cepat, Mandat yang Terlupa
03/02/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh  : Ahmad Chuvav Ibriy 

Pujian Menag terhadap Presiden Prabowo karena bergabung dengan Dewan Perdamaian Gaza terdengar manis di telinga, tetapi problematis di nalar publik. Menyebut langkah itu sebagai bukti “bisa membaca tanda zaman” justru membuka beberapa catatan kritis.

Pertama, Gaza bukan sekadar simbol diplomatik.

Gaza adalah tragedi kemanusiaan yang sedang berdarah. Bergabung dalam dewan—yang fungsi dan daya ikatnya belum jelas—tidak otomatis berarti keberpihakan nyata. Publik menunggu sikap yang substantif: tekanan politik internasional, langkah hukum global, dan keberanian moral yang tegas terhadap agresor. Bukan sekadar kursi di forum elite.

Kedua, Menag seharusnya menjaga jarak dari glorifikasi kekuasaan.

Sebagai Menteri Agama, perannya bukan menjadi humas politik presiden, melainkan penjaga nurani publik. Ketika pujian dilontarkan terlalu cepat, Menag tampak lebih sibuk membangun citra kekuasaan ketimbang menyuarakan penderitaan umat dan kemanusiaan universal.

Ketiga, “membaca tanda zaman” tidak cukup—yang dibutuhkan adalah keberanian zaman.

Banyak pemimpin dunia juga “membaca” situasi Gaza, tapi memilih diam atau setengah hati. Yang dibutuhkan Indonesia—terutama dari pejabat agama—adalah keberanian melampaui simbol: menyebut kezaliman sebagai kezaliman, meski tidak populer secara geopolitik.

Keempat, sensitivitas umat perlu dihormati.

Di tengah luka Palestina yang belum sembuh, pujian bernada triumphalist justru terasa nir-empati. Umat tidak sedang butuh euforia diplomatik, tetapi konsistensi sikap moral negara.

Penutup:

Jika Menag ingin benar-benar “membaca tanda zaman”, maka tanda itu jelas:

zaman ini menuntut keberpihakan yang nyata, bahasa yang jujur, dan kepemimpinan moral—bukan sekadar retorika pujian.

Gresik,  3  Februari 2026