Lelucon kehidupan yang paling sering terjadi adalah manusia selalu menginginkan apa yang belum dimiliki, lalu baru menghargai sesuatu setelah kehilangannya.
Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menggambarkan watak manusia yang telah ada sejak dahulu. Kita sering memandang kebahagiaan berada di tempat yang jauh, pada sesuatu yang belum kita raih, sementara nikmat yang telah berada dalam genggaman justru dianggap biasa. Mata kita lebih mudah melihat kekurangan daripada mensyukuri kelebihan.
Ketika masih muda, kita ingin segera dewasa. Kita menganggap masa dewasa adalah masa kebebasan dan kesuksesan. Namun setelah usia bertambah, kita justru merindukan masa muda yang penuh tenaga, persahabatan, dan kebebasan dari berbagai beban hidup. Ternyata yang kita impikan dahulu tidak selalu lebih indah daripada yang telah kita tinggalkan.
Begitu pula dalam urusan harta. Orang yang berpenghasilan sederhana ingin menjadi kaya. Ketika sudah kaya, ia ingin lebih kaya lagi. Setelah mencapai satu puncak, muncul puncak berikutnya yang harus dikejar. Ambisi memang dapat mendorong kemajuan, tetapi jika tidak diiringi rasa syukur, ia berubah menjadi mesin yang tidak pernah berhenti bekerja. Akibatnya, manusia hidup dalam kelelahan tanpa pernah merasa cukup.
Hubungan antarmanusia juga tidak luput dari ironi ini. Selama orang tua masih ada, perhatian kepada mereka sering tertunda karena alasan kesibukan. Ketika mereka telah tiada, penyesalan datang tanpa bisa diperbaiki. Demikian pula dengan pasangan, sahabat, dan anak-anak. Kehadiran mereka dianggap biasa selama masih dapat ditemui setiap hari. Baru ketika jarak, perpisahan, atau kematian datang, kita menyadari betapa berharganya kebersamaan yang dahulu sering kita abaikan.
Kesehatan pun demikian. Selama tubuh masih kuat, kita menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Begadang, makan sembarangan, bekerja tanpa istirahat, dan mengabaikan olahraga menjadi kebiasaan. Namun ketika penyakit datang, kita rela mengeluarkan biaya berapa pun demi mendapatkan kembali kesehatan yang dahulu kita sia-siakan. Padahal, nikmat sehat adalah karunia yang nilainya jauh melampaui kekayaan.
Dalam perspektif Islam, penyakit hati semacam ini lahir karena manusia lebih sibuk mengejar apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang telah Allah anugerahkan. Al-Qur'an berulang kali mengingatkan agar manusia bersyukur, karena syukur bukan hanya mendatangkan tambahan nikmat, tetapi juga menghadirkan ketenangan jiwa. Orang yang pandai bersyukur akan menikmati hidup tanpa harus menunggu semua keinginannya terpenuhi.
Ini bukan berarti kita dilarang bercita-cita atau berusaha memperbaiki kehidupan. Islam justru mendorong umatnya untuk bekerja keras dan menjadi pribadi yang produktif. Namun, usaha harus berjalan berdampingan dengan qana'ah, yaitu sikap merasa cukup terhadap apa yang telah Allah berikan sambil tetap berikhtiar memperoleh yang lebih baik. Dengan demikian, kita tidak menjadi budak dari keinginan yang tak pernah selesai.
Barangkali itulah "lelucon kehidupan" yang sesungguhnya. Kita sibuk mengejar sesuatu yang belum tentu membawa kebahagiaan, sementara kebahagiaan yang telah ada di depan mata justru luput dari perhatian. Kita menangisi sesuatu yang hilang, padahal dahulu kita tidak pernah benar-benar mensyukurinya.
Maka sebelum hidup mengajarkan pelajaran melalui kehilangan, belajarlah menghargai setiap nikmat yang masih kita miliki. Selagi orang tua masih ada, peluklah mereka. Selagi tubuh masih sehat, jagalah ia. Selagi sahabat dan keluarga masih menemani, luangkan waktu bersama mereka. Sebab sering kali, nilai sebuah nikmat baru terasa ketika nikmat itu telah berubah menjadi kenangan.
Wallāhu al-Musta'ān
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM