Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Kritik terhadap pemerintah adalah hal biasa dalam negara demokrasi. Bahkan, kritik diperlukan agar kekuasaan tidak berjalan sendirian tanpa koreksi.
Presiden tentu berhak menjawab kritik. Presiden juga berhak merasa keberatan jika ada kritik yang dianggap keliru, tidak berdasar, bahkan fitnah. Tetapi ada satu hal yang barangkali perlu direnungkan: bahasa seorang presiden bukan sekadar bahasa pribadi. Ia adalah bahasa yang didengar jutaan rakyat.
Dalam pidatonya pada peringatan HUT ke-28 PAN, Jumat, 18 September 2026, Presiden Prabowo Subianto menyinggung para pakar yang mengkritik program pemerintah. Dalam konteks itulah muncul kalimat, “saking pintarnya jadi goblok.”
Mungkin bagi sebagian orang, kalimat seperti itu dianggap sekadar gaya bicara. Mungkin pula dimaksudkan sebagai sindiran spontan kepada orang-orang yang dinilai terlalu pintar tetapi keliru memahami persoalan.
Tetapi persoalannya bukan hanya pada maksud.
Persoalannya adalah teladan.
Presiden adalah orang yang paling mudah ditiru bahasanya oleh masyarakat. Apa yang keluar dari mulut pemimpin dapat masuk ke ruang keluarga, warung kopi, sekolah, kampus, media sosial, bahkan percakapan anak-anak.
Hari ini presiden mengatakan “goblok” kepada orang yang dianggap keliru.
Besok, rakyat bisa mengatakan “goblok” kepada tetangganya yang berbeda pendapat.
Lusa, seorang anak mungkin mengatakan “goblok” kepada temannya karena tidak sepakat dalam sebuah permainan.
Dan ketika kata itu sudah menjadi kebiasaan, kita mungkin lupa bahwa dahulu ia pernah dianggap tidak pantas diucapkan dalam perbincangan publik.
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Bahasa membentuk budaya.
Kalau pemimpin membiasakan bahasa yang keras, jangan heran apabila masyarakat perlahan merasa bahasa keras itu biasa. Kalau perbedaan pendapat dibalas dengan pelabelan, jangan kaget apabila rakyat belajar menyelesaikan perbedaan dengan saling melabeli.
Padahal kritik tidak harus dibalas dengan penghinaan.
Jika seorang pakar salah, bantahlah dengan data.
Jika argumentasinya lemah, patahkan argumentasinya.
Jika tuduhannya tidak benar, tunjukkan bukti bahwa tuduhan itu keliru.
Jika benar-benar merupakan fitnah, tersedia pula mekanisme hukum untuk menyelesaikannya.
Kekuatan seorang pemimpin justru terlihat ketika ia mampu membalas kritik yang keras dengan argumentasi yang lebih kuat, bukan dengan kata yang lebih kasar.
Kita tentu tidak sedang meminta Presiden berbicara seperti seorang guru di ruang kelas setiap saat. Presiden boleh tegas. Presiden boleh marah. Presiden boleh membantah. Presiden bahkan boleh menggunakan bahasa yang keras ketika situasi memang menuntut ketegasan.
Tetapi ada perbedaan antara tegas dan kasar.
Negara ini membutuhkan pemimpin yang bukan hanya mampu mengarahkan pembangunan, tetapi juga ikut menjaga mutu percakapan publik.
Sebab rakyat belajar dari pemimpinnya.
Kalau pemimpinnya menjaga lisan, rakyat mempunyai teladan untuk menjaga lisan.
Kalau pemimpinnya terbiasa menghormati orang yang berbeda pendapat, rakyat juga belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling merendahkan.
Dan kalau suatu hari rakyat mulai berkata kepada sesamanya, “Goblok!” hanya karena berbeda pendapat, jangan-jangan kita baru sadar bahwa kata itu tidak jatuh dari langit.
Ia pernah diucapkan oleh orang yang paling sering didengar rakyat.
Ibn Khaldun pernah mengatakan:
القوم على دين ملوكهم.
"Masyarakat akan mengikuti kebiasaan para pemimpin mereka".
Dalam konteks ini, din dapat dimaknai sebagai kebiasaan atau perilaku yang diteladankan oleh para pemimpin. Artinya, suatu masyarakat cenderung mengikuti kebiasaan para pemimpinnya. Karena itu, apa yang keluar dari lisan seorang pemimpin bukan sekadar kata-kata pribadi. Ia berpotensi menjadi contoh yang ditiru oleh masyarakat. Jika pemimpin menjaga tutur kata, rakyat belajar menjaga tutur kata. Sebaliknya, jika kata-kata kasar dibiasakan dari atas, jangan heran apabila perlahan-lahan ia dianggap lumrah di bawah.
Maka, Pak Presiden, kritik boleh dilawan. Pendapat yang keliru boleh dibantah. Fitnah boleh diproses. Tetapi marilah kita tetap menjaga kata-kata. Sebab seorang presiden tidak hanya memimpin dengan kebijakan. Ia juga sedang memberi contoh bagaimana bangsa ini berbicara.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Gresik, 19 September 2026
Ahmad Chuvav Ibriy