Loading...
Literasi, Peradaban, dan Tipu Daya Zaman
07/04/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy


Kutipan yang belakangan ramai beredar di platform Instagram dan dinisbatkan kepada Pramoedya Ananta Toer tersebut perlu diluruskan secara jernih. Setelah ditelusuri, kalimat “generasi yang tidak tahu membaca dan menulis akan mudah ditipu, sedangkan bangsa yang rendah dalam literasi akan selalu rendah dalam peradaban” tidak tercatat sebagai bagian dari karya, pidato, maupun esai resmi Pramoedya. Meskipun secara semangat tampak sejalan dengan gagasannya tentang pentingnya literasi—sebagaimana tercermin dalam karya-karya seperti Bumi Manusia—namun gaya bahasa kutipan tersebut lebih menyerupai formulasi pedagogis kontemporer, bukan corak naratif-kritis khas Pramoedya. Di sinilah pentingnya kehati-hatian dalam atribusi, sebab kejujuran sumber merupakan bagian dari adab intelektual yang tidak boleh diabaikan.


Namun, sekalipun bukan kutipan beliau, pernyataan tersebut tetap layak ditelaah lebih dalam —menembus makna dan implikasinya— tanpa berhenti pada permukaan teks semata.


Pada lapisan pertama, pernyataan tersebut mengandung kebenaran yang tidak terbantahkan. Literasi, dalam pengertian dasar—kemampuan membaca dan menulis—adalah pintu masuk bagi manusia untuk memahami dunia. Tanpa kemampuan ini, seseorang akan bergantung sepenuhnya pada penuturan orang lain, rentan menerima informasi tanpa verifikasi, dan mudah digiring oleh narasi yang belum tentu benar. Dalam konteks ini, literasi memang berfungsi sebagai benteng awal dari tipu daya.

Lebih jauh, jika kita naik ke level kolektif, benar pula bahwa peradaban besar selalu ditopang oleh tradisi literasi yang kuat. Sejarah mencatat bagaimana peradaban Islam klasik melahirkan karya-karya besar dalam tafsir, fikih, filsafat, hingga sains; atau bagaimana Eropa modern bangkit melalui gerakan pencerahan yang bertumpu pada produksi dan distribusi pengetahuan. Literasi bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi menjadi fondasi budaya berpikir, berdialog, dan mengkritisi.

Meskipun demikian, berhenti pada kesimpulan bahwa rendahnya literasi semata-mata menjadi sebab rendahnya peradaban adalah penyederhanaan yang berbahaya. Sebab realitas hari ini menunjukkan ironi yang tidak kecil: banyak orang yang secara teknis mampu membaca dan menulis, tetapi tetap mudah ditipu. Bahkan, tidak sedikit yang aktif menulis justru menjadi bagian dari penyebaran informasi yang menyesatkan.

Di sinilah kita perlu membedakan antara literasi teknis dan literasi kritis. Literasi teknis hanya melatih kemampuan mengenali huruf dan menyusun kalimat. Sementara literasi kritis menuntut kemampuan memahami konteks, menimbang kebenaran, dan menyadari konsekuensi dari informasi yang diterima dan disebarkan. Tanpa literasi kritis, kemampuan membaca dan menulis hanya akan melahirkan ilusi pengetahuan—merasa tahu, padahal belum tentu memahami.

Lebih problematik lagi, literasi juga dapat menjadi alat manipulasi. Orang yang pandai menulis bisa merangkai kata sedemikian rupa untuk membentuk opini, mengarahkan emosi, bahkan menyesatkan publik. Dalam konteks ini, tipu daya tidak lagi datang dari ketidaktahuan, tetapi justru dari kecanggihan retorika yang tidak disertai kejujuran. Maka benar adanya, kebodohan bisa menyesatkan, tetapi kecerdikan tanpa moral jauh lebih berbahaya.

Dalam khazanah Islam, perintah pertama yang turun adalah iqrā’—bacalah. Namun para ulama tidak pernah memahami perintah ini secara sempit. Membaca bukan sekadar melafalkan teks, tetapi juga membaca realitas, membaca diri, dan membaca tanda-tanda kebenaran. Karena itu, iqrā’ selalu beriringan dengan tafakkur (perenungan) dan tabayyun (klarifikasi). Tanpa dua hal ini, membaca bisa berubah menjadi sekadar aktivitas mekanis yang kosong dari hikmah.

Kondisi masyarakat kita hari ini memperlihatkan gejala yang patut direnungkan. Akses terhadap informasi semakin luas, media sosial memberi ruang bagi setiap orang untuk menjadi “penulis”, tetapi kualitas diskursus publik justru sering kali dangkal dan emosional. Orang membaca cepat, bereaksi lebih cepat, dan jarang berhenti untuk memverifikasi. Akibatnya, yang berkembang bukan budaya ilmu, melainkan budaya sensasi.

Dalam situasi seperti ini, ukuran peradaban tidak lagi bisa diukur dari banyaknya teks yang diproduksi, tetapi dari kualitas nalar yang menyertainya. Sebab peradaban sejati lahir bukan hanya dari orang-orang yang bisa membaca dan menulis, tetapi dari mereka yang mampu menggunakan keduanya untuk mencari kebenaran dan menegakkan keadilan.

Maka, jika kita hendak mengambil pelajaran dari pernyataan yang dinisbatkan kepada Pramoedya tersebut, kita perlu memperluas maknanya. Bahwa benar, generasi yang tidak mampu membaca dan menulis akan mudah ditipu. Tetapi lebih dari itu, generasi yang mampu membaca namun tidak berpikir, dan mampu menulis namun tidak jujur, justru berpotensi menjadi pelaku tipu daya itu sendiri.

Di titik inilah literasi harus dipahami sebagai tanggung jawab moral, bukan sekadar keterampilan. Membaca adalah upaya mencari kebenaran, dan menulis adalah amanah untuk menyampaikannya. Jika keduanya dipisahkan dari etika, maka literasi tidak akan mengangkat peradaban, melainkan hanya memperhalus cara manusia saling menyesatkan.

Akhirnya, kita kembali pada prinsip yang telah lama diajarkan para ulama: al-ḥaqqu lā yu‘rafu bi al-rijāl, walākin yu‘rafu al-rijāl bi al-ḥaqq. Kebenaran tidak diukur dari siapa yang berbicara, tetapi manusia diukur dari sejauh mana ia berpihak pada kebenaran. Maka literasi yang sejati adalah literasi yang mengantarkan manusia kepada kejujuran berpikir, kejernihan hati, dan keberanian untuk tidak terjebak dalam arus tipu daya zaman.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb 


Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik, Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik, Jawa Timur