Loading...
Luka yang Dipelihara, Hati yang Mudah Rapuh
08/05/2026 Admin Yayasan Bagikan:


Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy 


Pesan penting untuk anak-anak kita di rumah, di sekolah, di pesantren, dan di semua lembaga pendidikan: tanamkan sejak dini rasa syukur dan ikhlas atas nikmat sekecil apa pun yang Allah berikan. Sebab jiwa manusia tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kemampuan menerima hidup dengan hati yang lapang. Anak yang dibiasakan bersyukur akan tumbuh lebih kuat menghadapi kenyataan, tidak mudah iri, tidak gampang kecewa, dan tidak terus-menerus merasa kurang. Kadang kebahagiaan bukan karena banyaknya harta atau sempurnanya keadaan, tetapi karena hati mampu melihat bahwa masih banyak nikmat Allah yang sering luput disadari.

Para orang tua juga perlu memahami bahwa tidak semua luka masa kecil hilang dengan sendirinya. Ada anak yang tumbuh sambil memendam rasa kecewa, kurang kasih sayang, hinaan, kemarahan, atau perasaan tidak dihargai. Jika luka-luka itu terus dipendam, bahkan dipelihara dalam ingatan dan emosi, maka ia bisa berubah menjadi beban mental yang berat. Seseorang menjadi mudah rapuh, gampang marah, sulit percaya kepada orang lain, bahkan kehilangan ketenangan dalam hidupnya.

Karena itu, kita harus mengajarkan kepada anak-anak untuk berdamai dengan masa lalu. Bukan berarti membenarkan semua kejadian pahit, tetapi belajar menerima bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Jangan biarkan luka menjadi identitas diri. Jangan menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk terus membenci hidup. Hati yang terus memelihara luka akan sulit merasakan syukur, sedangkan hati yang belajar ikhlas perlahan akan menemukan ketenangan.

Agama mengajarkan bahwa setelah kesulitan ada kemudahan. Maka didiklah anak-anak kita dengan kasih sayang, penghargaan, dan ruang untuk bercerita. Dengarkan mereka sebelum dunia luar membentuk luka yang lebih dalam. Ajarkan bahwa menangis bukan kelemahan, meminta maaf bukan kehinaan, dan bersyukur bukan tanda menyerah. Sebab manusia yang paling kuat bukan yang tidak pernah terluka, tetapi yang mampu menyembuhkan dirinya tanpa kehilangan iman dan harapan.

Ayo, kita saling menguatkan satu sama lain. Jangan menertawakan luka yang tidak kita rasakan, jangan meremehkan kesedihan yang tidak kita alami. Bisa jadi seseorang tampak biasa saja di hadapan manusia, tetapi diam-diam sedang berjuang keras melawan rapuh dalam dirinya. Maka hadirkan rumah yang hangat, sekolah yang menenangkan, lingkungan yang tidak gemar menghakimi, dan keluarga yang mau mendengar sebelum menyalahkan.

Mari tumbuhkan budaya saling merangkul, bukan saling melukai. Saling mendoakan, bukan saling menjatuhkan. Karena terkadang satu kalimat lembut mampu menyelamatkan hati yang hampir menyerah. Dan satu pelukan tulus bisa menghidupkan kembali harapan yang lama padam.

Semoga anak-anak kita tumbuh bukan hanya menjadi manusia yang cerdas pikirannya, tetapi juga kuat jiwanya, lembut hatinya, dan dekat dengan Allah. Sebab dunia ini sudah cukup keras, maka jangan biarkan mereka kehilangan tempat pulang yang menghadirkan cinta, syukur, dan ketenangan.

Wallāhu al-Musta'ān 


Ahmad Chuvav Ibriy 

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik 

Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM