Loading...
Masokisme Estetik: Ketika Penderitaan Dihias Menjadi Kebajikan
24/01/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy

Dalam banyak masyarakat, penderitaan sejatinya adalah tanda bahaya—indikator bahwa ada sesuatu yang keliru dalam tata kehidupan dan karena itu harus diperbaiki. Namun dalam praktik sosial tertentu, penderitaan justru mengalami pergeseran makna: ia dipoles, dinarasikan, bahkan dirayakan. Di titik inilah muncul apa yang dapat disebut sebagai masokisme estetik.

Masokisme estetik bukanlah kecenderungan klinis untuk menikmati rasa sakit secara personal. Ia adalah fenomena kultural dan ideologis, ketika penderitaan kolektif diperlakukan sebagai sesuatu yang “indah”, bermakna, atau bermartabat secara simbolik. Luka sosial tidak lagi dipahami sebagai kegagalan sistem, melainkan ditransformasikan menjadi bukti ketangguhan moral. Kesusahan hidup tidak dibaca sebagai masalah yang harus dipecahkan, tetapi sebagai kisah yang layak dikagumi daya tahannya.

Dalam kerangka ini, kemiskinan dipuji sebagai kesederhanaan, keterbatasan dipromosikan sebagai keutamaan, dan ketimpangan diterima sebagai takdir. Bahasa moral, religius, bahkan nasionalistik kerap dipakai untuk membungkus realitas pahit agar tampak luhur. Masyarakat diajak menikmati cerita penderitaannya sendiri, seolah kesempitan hidup adalah warisan estetik yang harus dijaga, bukan kondisi sosial yang harus diputus.

Masokisme estetik bekerja secara halus. Ia tidak memaksa, tetapi membujuk. Ia membangun kebanggaan semu: orang merasa bermartabat justru ketika menanggung beban yang seharusnya tidak perlu. Dalam logika ini, keluhan dianggap kelemahan, kritik dicap tidak tahu diri, dan tuntutan perubahan dinilai sebagai tanda kurang bersyukur. Penderitaan pun berubah fungsi—bukan lagi masalah publik, melainkan identitas kultural.

Bahaya terbesar masokisme estetik terletak pada efek pembiusannya. Ketika penderitaan sudah menjadi estetika, ia kehilangan urgensi untuk diakhiri. Rasa sakit yang seharusnya memicu koreksi justru menjadi tontonan emosional yang berulang. Empati berubah menjadi konsumsi, dan kepekaan moral melemah karena masyarakat terlalu sibuk mengagumi ketabahan, bukan menuntut perbaikan.

Fenomena inilah yang membuat gagasan gaya hidup dibatasi kerap diterima tanpa resistensi. Pembatasan yang semestinya dipertanyakan justru dibela dengan narasi moral: hidup sempit dianggap lebih suci, kesulitan dipandang lebih autentik, dan kesejahteraan dicurigai sebagai kemewahan yang merusak nilai. Di titik ini, penderitaan bukan lagi kecelakaan sosial, tetapi dipelihara sebagai estetika bersama.

Menempatkan Ayat Sabar pada Posisi yang Tepat

Dalam diskursus keagamaan, masokisme estetik sering memperoleh legitimasi melalui ayat-ayat tentang sabar. Salah satu yang kerap dirujuk adalah firman Allah Swt tentang orang-orang yang bersabar demi mencari keridaan Tuhan, mendirikan salat, menginfakkan sebagian rezeki, dan membalas keburukan dengan kebaikan (QS Ar-Ra‘d: 22). Ayat ini tidak jarang dibaca sebagai ajakan menerima keterbatasan hidup apa adanya, bahkan merawatnya sebagai kebajikan.

Pembacaan semacam itu perlu diluruskan. Ayat tersebut tidak sedang memuliakan penderitaan, apalagi menjadikannya cita-cita sosial. Sabar dalam Al-Qur’an adalah sikap etis menghadapi keadaan yang belum ideal, bukan ideologi untuk membenarkan keadaan yang tidak adil. Bahkan, ayat ini justru mengandaikan adanya kecukupan—terlihat dari perintah menginfakkan sebagian rezeki—yang berarti Al-Qur’an tidak sedang menormalisasi kehidupan yang sengaja disempitkan.

Lebih jauh, perintah membalas keburukan dengan kebaikan adalah pedoman akhlak personal, bukan larangan untuk mengoreksi struktur yang melahirkan keburukan. Sabar tidak identik dengan diam, dan kebaikan tidak identik dengan kepasrahan. Nabi Muhammad Saw adalah teladan kesabaran dalam menahan diri, tetapi juga teladan keberanian dalam mengubah tAhtanan yang menindas martabat manusia.

Dengan demikian, ayat-ayat sabar justru menjadi counter terhadap masokisme estetik. Al-Qur’an memuji kesabaran korban, tetapi tidak pernah meromantisasi sistem yang melahirkan korban. Ia mengajarkan keteguhan iman sambil mendorong perbaikan keadaan. Melawan masokisme estetik bukan berarti menolak sabar, melainkan menempatkannya secara benar: sebagai kekuatan moral untuk bertahan sembari memperjuangkan perubahan, bukan estetika penderitaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ahmad Chuvav Ibriy

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik

Anggota Komisi Fatwa,  Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik