(Seri 3 Trilogi Keresahan Negeri)
Puisi Esai
Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy
Setelah tahajud yang panjang,
setelah kegelisahan yang mengalir
bersama air mata malam,
setelah kecemasan rakyat
menjadi percakapan
di warung-warung kecil,
di sawah,
di pasar,
dan di ruang-ruang keluarga,
aku bertanya pada diriku sendiri:
Di manakah negeri emas itu?
Negeri yang dijanjikan
dalam pidato-pidato.
Negeri yang digambarkan
dalam baliho dan layar kaca.
Negeri yang disebut-sebut
akan membawa kemakmuran
bagi seluruh rakyatnya.
Di mana ia berada?
---
Aku mencarinya
di gedung-gedung tinggi.
Kulihat kemegahan.
Kulihat kemewahan.
Kulihat angka-angka
yang terus dipertontonkan.
Tetapi aku tidak menemukan
senyum rakyat yang utuh.
Aku mencarinya
di lorong-lorong desa.
Kulihat petani yang tetap bekerja.
Kulihat nelayan yang tetap melaut.
Kulihat guru yang tetap mengajar.
Kulihat ibu-ibu yang tetap berjualan.
Di sanalah aku menemukan
keteguhan.
Namun belum sepenuhnya
kemakmuran.
---
Negeri emas ternyata
bukan soal bangunan menjulang.
Bukan pula soal slogan
yang diperdengarkan berulang-ulang.
Negeri emas
adalah ketika hukum
berdiri tegak tanpa memilih wajah.
Ketika pengadilan
lebih takut kepada Tuhan
daripada kepada kekuasaan.
Ketika seorang miskin
mendapat hak yang sama
dengan seorang pejabat.
Ketika keadilan
tidak dapat dibeli.
---
Negeri emas
adalah ketika jabatan
dipandang sebagai amanah.
Bukan kesempatan
mengumpulkan kekayaan.
Bukan alat
membangun dinasti.
Bukan kendaraan
untuk melayani kepentingan kelompok.
Melainkan jalan pengabdian
kepada rakyat
dan kepada Allah.
---
Negeri emas
adalah ketika pemimpin
berani mendengar suara yang berbeda.
Tidak alergi terhadap kritik.
Tidak marah kepada nasihat.
Tidak menganggap lawan
sebagai musuh negara.
Karena sejarah mengajarkan:
kerajaan runtuh
bukan karena kritik.
Tetapi karena kesombongan
yang menolak kritik.
---
Aku kembali melihat rakyat.
Mereka sebenarnya sederhana.
Mereka tidak meminta kemewahan.
Mereka hanya ingin harga yang wajar.
Pendidikan yang terjangkau.
Pekerjaan yang tersedia.
Pelayanan yang adil.
Dan masa depan
yang tidak membuat anak-anak mereka takut.
Sesederhana itu.
Tetapi mengapa
sering terasa begitu sulit?
---
Mungkin karena terlalu banyak
orang yang ingin dilayani.
Dan terlalu sedikit
orang yang mau melayani.
Mungkin karena terlalu banyak
yang mengejar kuasa.
Dan terlalu sedikit
yang menjaga amanah.
Mungkin karena terlalu banyak
yang sibuk membangun citra.
Dan terlalu sedikit
yang membangun nurani.
---
Wahai para pemimpin negeri,
jika benar ingin membangun negeri emas,
bangunlah terlebih dahulu
kepercayaan rakyat.
Karena jalan,
jembatan,
dan gedung
dapat dibangun dengan anggaran.
Tetapi kepercayaan
hanya dapat dibangun
dengan kejujuran.
Bangunlah keadilan.
Karena kemakmuran tanpa keadilan
hanyalah kemewahan bagi segelintir orang.
Bangunlah akhlak.
Karena kekuasaan tanpa akhlak
akan melahirkan ketakutan.
---
Aku teringat pesan para ulama:
bahwa sebuah bangsa
dapat bertahan dengan kemiskinan,
tetapi sulit bertahan
dengan kezaliman.
Karena kemiskinan
melukai perut.
Sedangkan kezaliman
melukai jiwa.
Dan luka pada jiwa bangsa
jauh lebih berbahaya.
---
Kini aku mengerti.
Negeri emas
tidak lahir dari mimpi semalam.
Tidak lahir dari tepuk tangan.
Tidak lahir dari pencitraan.
Ia lahir dari kerja keras,
kejujuran,
musyawarah,
dan keberanian
menegakkan kebenaran.
Ia lahir ketika pemimpin
takut kepada Allah.
Ketika pejabat
malu berbuat curang.
Ketika hukum
tidak tunduk kepada uang.
Ketika rakyat
diperlakukan sebagai amanah,
bukan sekadar angka statistik.
---
Maka kepada Allah
aku titipkan harapan ini.
Ya Allah...
Jangan biarkan negeri kami
berjalan tanpa arah.
Jangan biarkan kecemasan
mengalahkan harapan.
Jangan biarkan kekuasaan
mengalahkan keadilan.
Jangan biarkan kebohongan
mengalahkan kebenaran.
Tuntunlah negeri ini
menuju emas yang sesungguhnya.
Emas dalam keadilan.
Emas dalam kejujuran.
Emas dalam kesejahteraan.
Emas dalam keberkahan.
Agar anak cucu kami kelak
tidak hanya mewarisi cerita
tentang cita-cita besar,
tetapi juga menikmati
terwujudnya cita-cita itu.
Wallāhu al-Musta'ān
Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik
4/8/2026
AHMAD CHUVAV IBRIY