Loading...
MENCARI NEGERI EMAS
04/08/2026 Admin Yayasan Bagikan:

(Seri 3 Trilogi Keresahan Negeri)

Puisi Esai

Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy


Setelah tahajud yang panjang,


setelah kegelisahan yang mengalir

bersama air mata malam,


setelah kecemasan rakyat

menjadi percakapan

di warung-warung kecil,

di sawah,

di pasar,

dan di ruang-ruang keluarga,


aku bertanya pada diriku sendiri:


Di manakah negeri emas itu?


Negeri yang dijanjikan

dalam pidato-pidato.


Negeri yang digambarkan

dalam baliho dan layar kaca.


Negeri yang disebut-sebut

akan membawa kemakmuran

bagi seluruh rakyatnya.


Di mana ia berada?


---


Aku mencarinya

di gedung-gedung tinggi.


Kulihat kemegahan.


Kulihat kemewahan.


Kulihat angka-angka

yang terus dipertontonkan.


Tetapi aku tidak menemukan

senyum rakyat yang utuh.


Aku mencarinya

di lorong-lorong desa.


Kulihat petani yang tetap bekerja.


Kulihat nelayan yang tetap melaut.


Kulihat guru yang tetap mengajar.


Kulihat ibu-ibu yang tetap berjualan.


Di sanalah aku menemukan

keteguhan.


Namun belum sepenuhnya

kemakmuran.


---


Negeri emas ternyata

bukan soal bangunan menjulang.


Bukan pula soal slogan

yang diperdengarkan berulang-ulang.


Negeri emas

adalah ketika hukum

berdiri tegak tanpa memilih wajah.


Ketika pengadilan

lebih takut kepada Tuhan

daripada kepada kekuasaan.


Ketika seorang miskin

mendapat hak yang sama

dengan seorang pejabat.


Ketika keadilan

tidak dapat dibeli.


---


Negeri emas

adalah ketika jabatan

dipandang sebagai amanah.


Bukan kesempatan

mengumpulkan kekayaan.


Bukan alat

membangun dinasti.


Bukan kendaraan

untuk melayani kepentingan kelompok.


Melainkan jalan pengabdian

kepada rakyat

dan kepada Allah.


---


Negeri emas

adalah ketika pemimpin

berani mendengar suara yang berbeda.


Tidak alergi terhadap kritik.


Tidak marah kepada nasihat.


Tidak menganggap lawan

sebagai musuh negara.


Karena sejarah mengajarkan:


kerajaan runtuh

bukan karena kritik.


Tetapi karena kesombongan

yang menolak kritik.


---


Aku kembali melihat rakyat.


Mereka sebenarnya sederhana.


Mereka tidak meminta kemewahan.


Mereka hanya ingin harga yang wajar.


Pendidikan yang terjangkau.


Pekerjaan yang tersedia.


Pelayanan yang adil.


Dan masa depan

yang tidak membuat anak-anak mereka takut.


Sesederhana itu.


Tetapi mengapa

sering terasa begitu sulit?


---


Mungkin karena terlalu banyak

orang yang ingin dilayani.


Dan terlalu sedikit

orang yang mau melayani.


Mungkin karena terlalu banyak

yang mengejar kuasa.


Dan terlalu sedikit

yang menjaga amanah.


Mungkin karena terlalu banyak

yang sibuk membangun citra.


Dan terlalu sedikit

yang membangun nurani.


---


Wahai para pemimpin negeri,


jika benar ingin membangun negeri emas,


bangunlah terlebih dahulu

kepercayaan rakyat.


Karena jalan,

jembatan,

dan gedung

dapat dibangun dengan anggaran.


Tetapi kepercayaan

hanya dapat dibangun

dengan kejujuran.


Bangunlah keadilan.


Karena kemakmuran tanpa keadilan

hanyalah kemewahan bagi segelintir orang.


Bangunlah akhlak.


Karena kekuasaan tanpa akhlak

akan melahirkan ketakutan.


---


Aku teringat pesan para ulama:


bahwa sebuah bangsa

dapat bertahan dengan kemiskinan,

tetapi sulit bertahan

dengan kezaliman.


Karena kemiskinan

melukai perut.


Sedangkan kezaliman

melukai jiwa.


Dan luka pada jiwa bangsa

jauh lebih berbahaya.


---


Kini aku mengerti.


Negeri emas

tidak lahir dari mimpi semalam.


Tidak lahir dari tepuk tangan.


Tidak lahir dari pencitraan.


Ia lahir dari kerja keras,

kejujuran,

musyawarah,

dan keberanian

menegakkan kebenaran.


Ia lahir ketika pemimpin

takut kepada Allah.


Ketika pejabat

malu berbuat curang.


Ketika hukum

tidak tunduk kepada uang.


Ketika rakyat

diperlakukan sebagai amanah,

bukan sekadar angka statistik.


---


Maka kepada Allah

aku titipkan harapan ini.


Ya Allah...


Jangan biarkan negeri kami

berjalan tanpa arah.


Jangan biarkan kecemasan

mengalahkan harapan.


Jangan biarkan kekuasaan

mengalahkan keadilan.


Jangan biarkan kebohongan

mengalahkan kebenaran.


Tuntunlah negeri ini

menuju emas yang sesungguhnya.


Emas dalam keadilan.


Emas dalam kejujuran.


Emas dalam kesejahteraan.


Emas dalam keberkahan.


Agar anak cucu kami kelak

tidak hanya mewarisi cerita

tentang cita-cita besar,


tetapi juga menikmati

terwujudnya cita-cita itu.

Wallāhu al-Musta'ān 


Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik

4/8/2026

AHMAD CHUVAV IBRIY