Loading...
Mendidik Anak Laki-Laki di Era Digital: Antara Ketegasan, Keteladanan, dan Ketahanan Moral
14/04/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy

 

Mendidik anak laki-laki di era digital hari ini bukan sekadar perkara memberi makan, menyekolahkan, lalu berharap waktu akan membentuknya menjadi lelaki tangguh. Tidak sesederhana itu. Kita sedang berhadapan dengan zaman yang tidak hanya mengubah cara belajar, tetapi juga cara berpikir, cara merasa, bahkan cara memandang makna hidup. Di tangan mereka kini bukan lagi sekadar buku, tetapi layar yang membuka seluruh dunia—baik yang terang maupun yang gelap.

 

Di sinilah letak tantangan terbesarnya: bagaimana membentuk karakter laki-laki yang kokoh di tengah arus informasi yang nyaris tanpa batas dan tanpa saring?

 

Anak laki-laki pada dasarnya membutuhkan ketegasan. Namun ketegasan hari ini tidak cukup hanya berupa perintah dan larangan. Ia harus dibarengi dengan keteladanan yang hidup. Anak laki-laki tidak hanya mendengar, ia meniru. Ia tidak hanya menyerap kata-kata, tetapi merekam sikap. Ketika ayah mudah menyerah, ia belajar kelemahan. Ketika ayah gagap menghadapi tantangan, ia belajar keraguan. Sebaliknya, ketika ia melihat keteguhan, kesabaran, dan keberanian, itulah yang akan tertanam dalam jiwanya.

Masalahnya, di era digital, figur teladan tidak lagi tunggal. Anak laki-laki kita kini “diasuh” juga oleh algoritma. Mereka melihat potongan-potongan kehidupan dari tokoh yang bahkan tidak mereka kenal secara nyata. Dari sana mereka menyerap nilai: tentang kejantanan, tentang kesuksesan, bahkan tentang relasi dengan perempuan. Jika orang tua lengah, maka nilai-nilai itu akan dibentuk oleh dunia luar yang tidak selalu sejalan dengan akhlak dan agama.

Karena itu, pengawasan tidak boleh dimaknai semata sebagai pembatasan, tetapi sebagai pendampingan. Anak laki-laki tidak cukup hanya dilarang bermain gawai, tetapi harus diajak memahami mengapa sesuatu itu baik atau buruk. Mereka harus dilatih berpikir, bukan sekadar patuh. Sebab suatu saat, ketika pengawasan itu hilang, yang tersisa hanyalah nilai yang telah tertanam dalam dirinya.

Di sisi lain, anak laki-laki juga harus dibiasakan menghadapi kesulitan. Era digital cenderung memanjakan: semua serba cepat, instan, dan mudah. Padahal, karakter laki-laki justru ditempa dari proses yang tidak nyaman. Ia harus pernah gagal, pernah ditolak, pernah merasa lelah—lalu bangkit kembali. Tanpa itu, ia akan tumbuh rapuh, mudah goyah, dan kehilangan daya juang.

Anak laki-laki harus diajarkan hidup di luar zona nyaman agar ia tumbuh menjadi generasi yang tahan banting, bukan generasi yang hanya kuat di kata-kata tetapi lemah saat berhadapan dengan realitas. Zona nyaman adalah jebakan paling halus di era digital: semuanya tersedia, semuanya mudah, dan semuanya bisa diulang tanpa konsekuensi nyata. Padahal kehidupan tidak bekerja seperti itu. Dunia nyata menuntut keteguhan, kesabaran, dan keberanian mengambil risiko. Karena itu, anak laki-laki perlu dilatih untuk merasakan kerasnya proses: diberi tanggung jawab, dibiasakan menghadapi tekanan, bahkan sesekali dibiarkan bergulat dengan kegagalan tanpa segera diselamatkan. Dari situlah lahir mental pejuang, bukan mental pengeluh. Ia belajar bahwa harga diri tidak dibangun dari kenyamanan, tetapi dari kemampuan bertahan dan bangkit. Jika sejak kecil ia selalu dilindungi dari rasa tidak enak, maka saat dewasa ia akan kaget menghadapi kenyataan. Namun jika ia sudah akrab dengan kesulitan, maka hidup seberat apa pun tidak akan mudah merobohkannya.

Lebih jauh lagi, pendidikan spiritual tidak boleh ditinggalkan. Di tengah kebisingan dunia digital, anak laki-laki membutuhkan jangkar yang menenangkan: iman. Ia harus mengenal Tuhannya, memahami tujuan hidupnya, dan menyadari bahwa tidak semua yang viral itu benar, tidak semua yang populer itu bernilai. Tanpa fondasi ini, ia akan mudah terombang-ambing oleh arus zaman.

Maka, mendidik anak laki-laki hari ini memang tidak mudah. Ia menuntut kehadiran, kesabaran, dan kesungguhan yang lebih besar dari sebelumnya. Tetapi di situlah letak kemuliaannya. Sebab dari tangan kita, akan lahir generasi laki-laki yang bukan hanya cerdas secara digital, tetapi juga kuat secara moral—yang tidak sekadar hidup di zaman ini, tetapi mampu memimpin dan memperbaikinya.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb

 

Gresik,  14 April 2026