Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Di tengah riuhnya pengumuman SNBP, ada banyak anak-anak kita yang diam. Bukan karena mereka tidak berjuang, tetapi karena hasilnya tidak sesuai harapan. Lebih-lebih mereka yang melangkah ke jalur PTS, bahkan PTSI, sering kali merasa berada di “kelas dua” dalam persepsi sosial yang sempit.
Di sinilah kita perlu hadir—bukan sekadar memberi nasihat, tetapi menenangkan hati dan meluruskan cara pandang.
Pertama, harus kita tegaskan: jalan hidup tidak ditentukan oleh satu pintu bernama SNBP. Itu hanyalah salah satu jalur, bukan penentu takdir. Banyak orang besar yang tidak lahir dari jalur “favorit”, tetapi dari ketekunan, kesabaran, dan keberanian menghadapi kenyataan.
Kedua, kepada anak-anak kita yang masuk PTS atau PTSI, katakan dengan jujur dan tulus:
kalian tidak gagal—kalian hanya mengambil jalan yang berbeda. Dan dalam banyak kasus, jalan yang berbeda itu justru lebih mendewasakan.
Kampus bukan segalanya. Yang menentukan masa depan bukan nama institusi semata, tetapi:
kesungguhan dalam belajar
kemampuan beradaptasi
akhlak dalam berinteraksi
dan ketangguhan saat menghadapi kegagalan
Bahkan dalam perspektif Islam, kemuliaan tidak diukur dari label duniawi, tetapi dari nilai yang lebih dalam: kesungguhan (jiddiyyah) dan ketakwaan.
Ketiga, kepada para orang tua dan guru, berhati-hatilah dalam bersikap. Jangan sampai tanpa sadar kita melukai hati anak-anak kita sendiri dengan perbandingan-perbandingan yang tidak adil. Tidak semua keberhasilan harus seragam, dan tidak semua kebanggaan harus berbentuk nama kampus besar.
Anak yang hari ini masuk PTSI, bisa jadi esok hari menjadi pribadi yang lebih tangguh, lebih mandiri, dan lebih siap menghadapi realitas kehidupan. Karena mereka sejak awal sudah belajar menerima, bangkit, dan berjuang tanpa bergantung pada gengsi.
Akhirnya, mari kita tanamkan kepada mereka:
hidup ini bukan lomba siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling istiqamah dalam berjalan.
Tenanglah, wahai anak-anakku. Jalan kalian tidak salah.
Barangkali justru di jalan inilah Allah Swt sedang menyiapkan sesuatu yang lebih kuat, lebih dalam, dan lebih bermakna.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Gresik, 2 April 2026