Puisi Esai
Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Di zaman ketika suara lebih keras daripada makna,
ketika kabar berlari lebih cepat daripada kebenaran,
dan ketika orang-orang berdebat tanpa pernah benar-benar mendengar,
saya memilih menulis.
Bukan karena saya paling tahu.
Bukan karena saya paling benar.
Tetapi karena diam terlalu lama
bisa membuat hati berkarat.
Menulis adalah cara saya
menyisir kekacauan dengan kalimat,
menata kegelisahan dengan tanda baca,
dan menyimpan akal sehat
di antara paragraf-paragraf yang barangkali sepi pembaca.
Ada yang berkata,
“Untuk apa menulis? Toh dunia tidak berubah.”
Saya tersenyum.
Dunia memang tidak selalu berubah oleh satu tulisan.
Tetapi manusia bisa berubah oleh satu kesadaran.
Dan kesadaran sering kali lahir
dari satu kalimat yang jujur.
Menulis adalah ibadah sunyi.
Ia tidak berteriak,
tidak membawa spanduk,
tidak pula mencari tepuk tangan.
Ia hanya setia pada nurani.
Di negeri yang mudah gaduh,
kewarasan adalah barang mahal.
Orang bisa viral karena amarah.
Orang bisa terkenal karena sensasi.
Tetapi jarang yang dihargai
karena ketenangan berpikir.
Maka saya menulis
agar pikiran tidak hanyut oleh arus,
agar emosi tidak menjadi kompas,
agar kritik tetap berpijak pada adab.
Menulis bukan untuk menyerang,
tetapi untuk menerangi.
Ada malam-malam ketika berita terasa seperti luka.
Ketika keadilan tampak seperti wacana.
Ketika kekuasaan terasa jauh dari hikmah.
Pada saat itulah pena menjadi saksi.
Ia mencatat apa yang tidak boleh dilupakan.
Ia mengingatkan apa yang tidak boleh dibiasakan.
Menulis adalah bentuk tanggung jawab moral.
Jika lisan bisa dibungkam,
jika forum bisa dibatasi,
maka tulisan tetap menemukan jalannya.
Ia mungkin pelan.
Tetapi ia tahan lama.
Menulis apa saja yang perlu ditulis—
bukan berarti menulis tanpa kendali.
Justru karena kita waras,
kita memilih kata dengan hati-hati.
Kita menyusun argumen dengan akal sehat.
Kita mengkritik tanpa kehilangan akhlak.
Sebab kewarasan bukan sekadar tenang.
Kewarasan adalah keberanian
untuk tetap jujur
tanpa menjadi kasar.
Saya percaya,
di setiap zaman selalu ada orang-orang
yang menjaga peradaban
bukan dengan pedang,
bukan dengan jabatan,
tetapi dengan pena.
Mereka tidak selalu dikenal.
Mereka tidak selalu disukai.
Tetapi tulisan mereka
menjadi jejak
bahwa pernah ada suara
yang tidak ikut-ikutan.
Dan mungkin,
di antara sekian banyak kegaduhan,
itulah bentuk jihad yang paling sunyi:
merawat akal,
menjaga nurani,
dan menulis—
ketika yang lain memilih diam.
Gresik, 12 Februari 2026
Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik
AHMAD CHUVAV IBRIY