Loading...
Muktamar ke-35: Memilih Nahkoda NU di Abad Kedua
07/06/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama bukan sekadar agenda rutin lima tahunan atau forum pergantian kepemimpinan organisasi. Muktamar kali ini memiliki makna yang lebih strategis karena berlangsung pada masa awal perjalanan NU di abad keduanya. Karena itu, yang dipertaruhkan bukan hanya siapa yang terpilih menjadi Ketua Umum PBNU, melainkan arah masa depan NU dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Selama satu abad perjalanan sejarahnya, NU telah membuktikan diri sebagai organisasi Islam yang kokoh dalam menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat, serta berkontribusi dalam perjalanan bangsa Indonesia. Jaringan pesantren yang luas, jutaan warga Nahdliyin, serta berbagai lembaga pendidikan dan sosial menjadi modal besar yang dimiliki NU.

Namun, memasuki abad kedua, tantangan yang dihadapi tidak lagi sama dengan masa-masa sebelumnya. Revolusi digital, kecerdasan buatan, ketimpangan ekonomi, perubahan sosial, krisis lingkungan, hingga persaingan global dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut NU untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.

Karena itu, NU tidak cukup hanya besar dalam jumlah. Kebesaran organisasi harus diterjemahkan menjadi kebesaran gagasan, karya, dan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa. Kekuatan massa yang selama ini menjadi ciri khas NU harus ditransformasikan menjadi kekuatan peradaban yang mampu melahirkan pemikiran, inovasi, dan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, kepemimpinan hasil Muktamar ke-35 akan memegang peranan yang sangat menentukan. Nahkoda NU ke depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengelola organisasi dan membangun konsolidasi internal. Ia juga harus mampu membaca perubahan zaman, memahami kebutuhan warga Nahdliyin, menjaga marwah jam'iyah, serta merumuskan arah strategis NU untuk jangka panjang.

Tantangan pemberdayaan ekonomi warga, penguatan pendidikan dan pesantren, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi digital, serta pengembangan kaderisasi kepemimpinan membutuhkan visi yang jelas dan keberanian dalam melakukan terobosan. Pada saat yang sama, NU juga harus tetap menjadi kekuatan moral yang menjaga persatuan bangsa, merawat toleransi, dan memperjuangkan kemaslahatan bersama.

Karena itu, Muktamar ke-35 hendaknya tidak hanya dipandang sebagai arena kontestasi figur. Yang lebih penting adalah kontestasi gagasan tentang masa depan NU. Warga Nahdliyin perlu melihat sejauh mana para kandidat mampu menawarkan visi, strategi, dan langkah konkret untuk membawa NU menjawab tantangan abad kedua.

Pada akhirnya, yang dibutuhkan NU hari ini bukan sekadar pemimpin yang mampu memenangkan kompetisi organisasi, melainkan pemimpin yang mampu menuntun perjalanan jam'iyah menuju masa depan yang lebih bermakna. Sebab jika abad pertama adalah masa membangun dan membesarkan NU, maka abad kedua harus menjadi masa membuktikan bahwa kebesaran itu mampu menghadirkan kemajuan umat, kemaslahatan bangsa, dan kontribusi nyata bagi peradaban dunia.

Wallāhu a'lam bi al-shawāb.