Loading...
Nabi Lahir untuk Membebaskan: Membaca Ketidakadilan Hari Ini dari Makkah
23/08/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM

Setiap kali Maulid Nabi Muhammad SAW tiba, kita biasanya berbicara tentang cinta, shalawat, kelahiran, dan kemuliaan akhlak Rasulullah SAW. Semua itu benar. Tetapi ada satu pertanyaan yang tidak boleh kita lewatkan: untuk apa Nabi Muhammad SAW dihadirkan di tengah masyarakatnya?

Rasulullah SAW lahir bukan di tengah masyarakat yang sedang baik-baik saja. Makkah ketika itu menyimpan banyak persoalan sosial: ketimpangan, penindasan terhadap kelompok lemah, eksploitasi, kesombongan elite, dan jauhnya kehidupan sosial dari nilai keadilan. Anak yatim dapat kehilangan haknya. Orang miskin tidak mendapatkan perhatian. Budak diperlakukan tanpa martabat. Kekayaan dan kehormatan menjadi ukuran kemuliaan manusia.

Di tengah masyarakat seperti itulah Nabi Muhammad SAW lahir membawa risalah Islam.

Karena itu, Maulid semestinya tidak berhenti pada pertanyaan “kapan Nabi lahir?”, tetapi berlanjut kepada pertanyaan yang lebih menggugah: “nilai apa yang dibawa Nabi untuk mengubah masyarakat?”

Salah satunya adalah keadilan.

Al-Qur'an bahkan menghubungkan keberagamaan dengan keberpihakan kepada mereka yang lemah:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ۝ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ۝ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma'un: 1–3).

Ayat ini sangat penting. Al-Qur'an tidak hanya berbicara tentang bagaimana manusia bersujud kepada Allah, tetapi juga bagaimana manusia berdiri bersama mereka yang lemah.

Agama tidak boleh hanya tampak di masjid, tetapi tidak terasa di tengah penderitaan masyarakat.

Kesalehan tidak cukup diukur dari panjangnya doa dan banyaknya ibadah, tetapi juga dari kejujuran, kepedulian, amanah, dan keberpihakan kepada keadilan.

Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa misi kenabiannya berkaitan erat dengan kemuliaan akhlak:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
(HR. Ahmad).

Akhlak dalam Islam bukan sekadar sopan santun individual. Ia juga mempunyai dimensi sosial. Jujur dalam kekuasaan adalah akhlak. Amanah dalam jabatan adalah akhlak. Tidak mengambil hak orang lain adalah akhlak. Membela yang tertindas adalah akhlak. Tidak memperkaya diri dengan amanah rakyat adalah akhlak. Memberikan kesempatan kepada yang lemah adalah akhlak.

Di sinilah Maulid Nabi menemukan relevansinya dengan kehidupan kita hari ini.

Kita memang telah merdeka secara politik. Penjajahan telah berlalu. Bendera Merah Putih berkibar sebagai simbol kedaulatan bangsa. Tetapi pertanyaan yang lebih dalam adalah: apakah seluruh rakyat telah merasakan kemerdekaan dalam kehidupan nyata?

Inilah yang pernah saya sebut sebagai “kemerdekaan yang terluka.”

Sebab kemerdekaan dapat terluka ketika masih ada rakyat yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, ketika akses terhadap pendidikan dan kesehatan belum sepenuhnya adil, ketika kesempatan ekonomi tidak terbuka secara merata, ketika hukum terasa tajam kepada yang lemah tetapi tumpul kepada yang kuat, atau ketika kekuasaan lebih sibuk mempertahankan kepentingannya daripada mendengar jeritan rakyat.

Kita tentu tidak sedang menyamakan Indonesia dengan Makkah sebelum Islam. Sejarah memiliki konteksnya sendiri. Tetapi kita dapat mengambil cermin moralnya.

Makkah mengajarkan kepada kita bahwa sebuah masyarakat dapat maju secara ekonomi tetapi tetap mengalami krisis kemanusiaan. Kekayaan dapat berkembang, tetapi keadilan belum tentu tumbuh. Kekuasaan dapat menjadi kuat, tetapi kelompok lemah bisa tetap tidak berdaya.

Karena itu, Rasulullah SAW datang membawa perubahan yang mendasar: manusia tidak lagi dinilai berdasarkan kekayaan, keturunan, warna kulit, atau kedudukan, tetapi berdasarkan ketakwaan dan kemuliaan akhlaknya.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13).

Pesan ini sangat kuat bagi kehidupan berbangsa. Tidak boleh ada manusia yang merasa lebih tinggi hanya karena memiliki jabatan, kekayaan, pendidikan, keturunan, atau kekuasaan.

Keadilan sosial adalah bagian dari pesan kenabian.

Maka Maulid Nabi seharusnya tidak hanya membuat kita menangis karena rindu kepada Rasulullah SAW. Maulid juga harus membuat hati kita gelisah ketika melihat ketidakadilan.

Jika Nabi adalah rahmat bagi seluruh alam, maka umatnya harus menghadirkan rahmat itu dalam kehidupan. Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107).

Rahmat bukan berarti membiarkan ketidakadilan. Rahmat justru menuntut kita untuk menghadirkan keadilan.

Karena itu, memperingati Maulid Nabi di tengah kemerdekaan yang terluka semestinya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kehadiran kita membuat orang lain lebih sejahtera, lebih aman, lebih dihargai dan lebih memiliki harapan?

Jangan sampai kita merayakan kelahiran Nabi dengan meriah, tetapi lupa terhadap pesan yang dibawanya.

Jangan sampai shalawat memenuhi masjid, tetapi keadilan kosong dari kehidupan.

Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah SAW, tetapi membiarkan sesama manusia kehilangan hak, martabat dan harapan.

Sebab mencintai Nabi bukan hanya dengan menyebut namanya. Mencintai Nabi adalah berusaha menghadirkan nilai-nilai yang beliau perjuangkan.

Nabi Muhammad SAW lahir di tengah masyarakat yang terluka oleh ketidakadilan. Beliau membawa cahaya yang membebaskan manusia dari kegelapan menuju tauhid, kemuliaan dan keadilan.

Maka jika hari ini kita masih melihat ketimpangan, kemiskinan, kesewenang-wenangan dan manusia yang kehilangan harapan, Maulid seharusnya tidak sekadar menjadi perayaan.

Ia harus menjadi panggilan untuk memperbaiki keadaan.

Sebab ukuran keberhasilan kita dalam mencintai Rasulullah SAW bukan hanya seberapa meriah kita memperingati kelahirannya, tetapi seberapa jauh cahaya yang beliau bawa mampu menerangi kehidupan manusia di sekitar kita.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Ahmad Chuvav Ibriy
Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM