Loading...
Nasionalisme Jangan Hanya Menjadi Upacara
10/08/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy


Seorang penyair Arab, Mahmoud Darwish, pernah dinisbatkan dengan sebuah ungkapan yang sangat tajam:

الوطن للأغنياء والوطنية للفقراء

“Tanah air  milik orang-orang kaya, sedangkan nasionalisme milik orang-orang miskin.”

Kalimat ini terasa getir, tetapi justru karena itu ia layak direnungkan kembali setiap kali kita merayakan Hari Kemerdekaan.

Foto di bawah mungkin sederhana. Peserta upacara berdiri berbaris di bawah terik matahari, sementara sebagian pejabat menikmati teduhnya tenda, lengkap dengan makanan ringan, buah dan air mineral.

 Tentu, kita tidak perlu tergesa-gesa menghakimi. Bisa jadi ada alasan teknis di balik perbedaan perlakuan tersebut. Tetapi gambar itu menyentil sebuah pertanyaan yang lebih besar: siapa sebenarnya yang paling banyak diminta untuk menunjukkan nasionalisme?

Rakyat kecil hampir setiap hari diminta mencintai negeri. Mereka diminta tertib membayar pajak, mematuhi aturan, menjaga persatuan, menghormati simbol negara dan mengikuti upacara kemerdekaan. Mereka rela berdiri di bawah matahari, menyanyikan Indonesia Raya, mengibarkan Merah Putih dan meneriakkan “Merdeka!”

Tetapi nasionalisme seharusnya tidak berhenti pada kemampuan rakyat untuk menahan panas.

Nasionalisme juga harus tampak pada bagaimana negara memperlakukan rakyatnya.

Nasionalisme seorang guru adalah mengajar dengan sungguh-sungguh meskipun kesejahteraannya belum ideal. Nasionalisme seorang petani adalah terus menjaga tanah dan pangan negeri. Nasionalisme seorang pedagang adalah jujur dalam berusaha. Nasionalisme seorang santri adalah menjaga agama sekaligus merawat persaudaraan kebangsaan.

Lalu bagaimana dengan nasionalisme para pemegang kekuasaan?

Nasionalisme mereka semestinya diwujudkan dalam keberanian menggunakan kekuasaan untuk kepentingan publik, bukan untuk memperbesar kenyamanan kelompok sendiri. Ia hadir dalam pelayanan yang adil, anggaran yang tepat sasaran, hukum yang tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas, serta kesediaan mendengar suara rakyat.

Sebab mencintai Indonesia bukan hanya berdiri tegak ketika lagu kebangsaan dikumandangkan. Mencintai Indonesia berarti membuat orang Indonesia merasa bahwa negeri ini juga milik mereka.

Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan bangsa asing. Kemerdekaan juga mengandung cita-cita agar rakyat terbebas dari ketidakadilan, kemiskinan, kesewenang-wenangan dan perlakuan yang merendahkan martabat.

Karena itu, setiap 17 Agustus kita seharusnya tidak hanya bertanya, “Seberapa nasionaliskah saya?”

Tetapi juga bertanya:

“Sudahkah negara ini memperlakukan rakyatnya sebagaimana mestinya?”

Sebab nasionalisme yang sejati bukanlah meminta rakyat terus-menerus berkorban demi negara, sementara sebagian elite menikmati negara.

Nasionalisme adalah ketika yang berdiri di bawah matahari dan yang berteduh di bawah tenda sama-sama merasa: Indonesia adalah rumah kita bersama. 

Jangan pernah lelah untuk mencintai Indonesia. 

Wallāhu al-Musta'ān 


Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik 10 Agustus 2026


AHMAD CHUVAV IBRIY


https://www.facebook.com/share/p/19WMTsxFhi/