Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Rangkaian kebijakan pengadaan negara belakangan ini
memunculkan kegelisahan publik. Dari pengadaan kendaraan operasional, ribuan
sepeda motor, atribut bernilai miliaran, hingga kerja sama sistem IT bernilai
triliunan rupiah—semuanya datang berturut-turut di saat kondisi ekonomi rakyat ngos-ngosan.
Bukan semata soal angka, tetapi soal rasa keadilan dan kepekaan negara terhadap
denyut kehidupan warganya.
Tidak ada yang menolak pembangunan. Negara memang harus
bergerak, berinovasi, dan membangun sistem yang lebih modern. Namun,
pembangunan tanpa kepekaan sosial hanya akan melahirkan jarak antara pemerintah
dan rakyat. Ketika dapur masyarakat masih berasap tipis, ketika harga kebutuhan
pokok terus merangkak naik, maka setiap kebijakan bernilai besar akan dibaca
bukan sebagai kemajuan, melainkan sebagai ketidakpekaan.
Secara khusus, publik juga berhak menyoroti peran Badan Gizi
Nasional (BGN) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini mulai diikuti
dengan pengadaan sistem IT bernilai besar bekerja sama dengan Peruri. Program
MBG pada dasarnya mulia karena menyasar kebutuhan dasar masyarakat, terutama
anak-anak. Namun, ketika implementasinya diiringi dengan anggaran pendukung
hingga triliunan rupiah, sementara kondisi ekonomi rakyat sedang tertekan, maka
yang muncul adalah pertanyaan tentang skala prioritas. Apakah penguatan sistem
sebesar itu sudah mendesak, ataukah seharusnya anggaran lebih difokuskan pada
perluasan manfaat langsung bagi penerima? Di titik ini, BGN dituntut bukan
hanya menjalankan program, tetapi juga memastikan bahwa setiap kebijakan
turunannya tetap selaras dengan rasa keadilan publik dan kondisi riil
masyarakat.Di sinilah negara perlu berhenti sejenak dari sikap yang terkesan
“ugal-ugalan” dalam membelanjakan anggaran. Bukan berarti menghentikan
pembangunan, tetapi menata ulang prioritas. Dalam kondisi seperti sekarang,
yang dibutuhkan rakyat adalah kebijakan yang langsung menyentuh kebutuhan
dasar: stabilitas harga, lapangan kerja, dan perlindungan daya beli. Jika
anggaran besar justru diarahkan pada hal-hal yang tidak dirasakan langsung
manfaatnya, maka wajar jika publik bertanya: untuk siapa semua ini?
Secara moral, negara memegang amanah. Setiap rupiah dari
APBN bukan sekadar angka, melainkan keringat rakyat yang dikumpulkan melalui pajak
dan sumber daya lainnya. Dalam perspektif etika pemerintahan, amanah itu
menuntut kehati-hatian, bukan sekadar keberanian belanja. Keberanian tanpa
kebijaksanaan justru berpotensi melukai rasa keadilan.
Lebih dari itu, ada persoalan kepercayaan. Kepercayaan
publik adalah modal utama negara. Ia tidak dibangun dari pidato atau
klaim keberhasilan semata, tetapi dari konsistensi antara kebijakan dan realitas
yang dirasakan masyarakat. Ketika rakyat diminta bersabar menghadapi tekanan
ekonomi, tetapi di saat yang sama negara terlihat leluasa menggelontorkan
anggaran besar, maka yang tergerus bukan hanya keuangan negara, tetapi juga legitimasi
moralnya.
Kritik ini bukan untuk melemahkan pemerintah, tetapi justru
untuk menguatkan arah kebijakan agar tetap berpijak pada realitas. Negara yang
kuat bukanlah negara yang paling banyak menghabiskan anggaran, melainkan negara
yang paling tepat menggunakannya. Ketepatan itulah yang hari ini dipertanyakan
oleh publik.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar penjelasan
normatif, tetapi transparansi yang utuh: apa urgensinya, bagaimana manfaatnya,
siapa yang mengawasi, dan kapan rakyat bisa merasakan dampaknya. Tanpa itu,
setiap proyek besar hanya akan menambah daftar panjang kecurigaan.
Negara harus ingat: kemarahan rakyat tidak pernah lahir dari
angka semata, tetapi dari rasa dipinggirkan. Jika kondisi ekonomi terus
menghimpit, sementara kebijakan terasa jauh dari kebutuhan, maka yang muncul
bukan hanya kritik, tetapi potensi ketidakpercayaan yang lebih dalam.
Saatnya negara menahan diri, menata prioritas, dan kembali
mendengar suara rakyat. Karena dalam situasi seperti ini, kebijakan yang paling
bijak bukan yang paling besar nilainya, tetapi yang paling terasa manfaatnya.
Gresik , 24 Apri 2026