Loading...
NU BUKAN MILIK PARA PEMENANG
09/09/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy


Muktamar telah selesai. Para peserta telah menentukan pilihan, kepemimpinan telah terbentuk, dan NU memasuki babak baru. Kini, setelah riuh kontestasi mereda, ada satu hal yang penting untuk diingat bersama: kemenangan dalam Muktamar bukanlah kemenangan untuk memiliki NU.

Siapa pun yang terpilih dalam Muktamar, baik di tingkat Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU, sesungguhnya tidak memperoleh hak kepemilikan atas organisasi. Mereka memperoleh amanah untuk mengurus dan melayani. Sebab NU bukan perusahaan yang sahamnya dimiliki para pemegang suara. NU juga bukan partai politik yang setelah pemilihan mengenal istilah kubu pemenang dan kubu yang kalah.

NU adalah jam’iyah para ulama. Di dalamnya ada tradisi keilmuan, pesantren, sanad, adab, dan khidmah yang telah dibangun para muassis jauh sebelum para pengurus hari ini hadir.

Karena itu, kemenangan dalam sebuah kontestasi organisasi semestinya melahirkan tawadhu, bukan rasa berkuasa.

Di sinilah ujian sesungguhnya justru dimulai setelah Muktamar. Sebab memenangkan sebuah kontestasi mungkin lebih mudah daripada mengelola kemenangan dengan bijaksana.

Ada kecenderungan yang terkadang muncul dalam banyak organisasi: setelah seseorang atau sebuah kelompok memenangkan pertarungan, muncul perasaan bahwa ruang organisasi menjadi milik mereka. Orang-orang yang berada di barisan pemenang merasa memiliki legitimasi lebih besar, sementara mereka yang berbeda pilihan dipandang sebagai kelompok yang harus menyesuaikan diri.

Cara pandang semacam ini mungkin biasa dalam politik praktis. Tetapi apakah pantas menjadi budaya dalam jam’iyah yang para kiai sendiri mengajarkan tawadhu, ukhuwah, dan penghormatan kepada perbedaan?

NU tidak boleh menjadi milik para pemenang.

Yang menang memang memperoleh mandat. Tetapi mandat itu bukan cek kosong untuk melakukan apa saja. Mandat adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada warga NU, tetapi juga kepada Allah SWT.

Karena itu, setelah Muktamar, tidak semestinya ada lagi pembelahan antara “kami” dan “mereka”. Mereka yang kemarin berbeda pilihan tetap warga NU. Mereka yang mendukung calon yang tidak terpilih tetap bagian dari keluarga besar NU. Bahkan kritik dari mereka tidak otomatis harus dipandang sebagai upaya mengganggu kepemimpinan.

Sebaliknya, kritik yang disampaikan dengan niat menjaga organisasi justru harus dipandang sebagai bagian dari mekanisme amar ma’ruf dalam kehidupan jam’iyah.

Di sinilah pentingnya kebesaran hati para pemenang.

Pemimpin yang besar bukan yang hanya mampu mengumpulkan orang-orang yang mendukungnya, tetapi yang mampu merangkul orang-orang yang kemarin berbeda dengannya.

Apalagi NU memiliki tradisi ukhuwah yang sangat kuat. Perbedaan pilihan dalam Muktamar seharusnya selesai ketika keputusan telah diambil. Setelah itu, semuanya kembali menjadi satu barisan dalam menjalankan khidmah.

Jangan sampai Muktamar hanya menghasilkan pergantian kepemimpinan, tetapi tidak menghasilkan kedewasaan organisasi.

NU juga harus menunjukkan kepada publik bahwa kontestasi internal tidak harus berujung pada perebutan ruang kekuasaan. Justru karena NU adalah organisasi yang lahir dari pesantren dan tradisi kiai, kemenangan seharusnya semakin mendekatkan seseorang kepada sikap rendah hati.

Ada pelajaran sederhana dari dunia pesantren: semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar tuntutan adabnya.

Maka sekarang saatnya para pemenang menunjukkan kualitas kemenangannya. Bukan dengan memperlihatkan siapa yang kalah, bukan pula dengan mempersempit ruang bagi mereka yang berbeda pilihan, tetapi dengan membuka pintu selebar-lebarnya untuk semua kader NU.

Sebab pada akhirnya, yang diuji bukan lagi kemampuan memenangkan Muktamar, melainkan kemampuan mengurus NU setelah Muktamar.

Dan di situlah ukuran kemenangan yang sesungguhnya.

Yang menang memperoleh amanah, bukan memperoleh NU. NU milik seluruh warga Nahdlatul Ulama.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb 


Gresik, 9/9/2026

Ahmad Chuvav Ibriy


https://www.facebook.com/share/p/1J4XDATPpM/