Loading...
Pada Akhirnya, Kita Tinggalkan Milik Kita
11/09/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Esai Renungan 

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Ada sesuatu yang sering kita lupakan tentang hidup: kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa, tetapi kemudian menghabiskan sebagian besar usia untuk mengumpulkan sesuatu yang pada akhirnya juga harus kita tinggalkan.

Kita mengumpulkan uang.

Rumah.

Tanah.

Jabatan.

Gelar.

Nama baik.

Bahkan kadang-kadang kita mengumpulkan pujian manusia seolah-olah tepuk tangan mereka dapat membuat kita abadi.

Padahal Allah sudah mengingatkan:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”

Kematian bukan kemungkinan.

Ia kepastian.

Yang tidak pasti hanyalah kapan ia datang.

Kita boleh membuat rencana untuk sepuluh tahun mendatang. Membeli rumah, menyiapkan pendidikan anak, membangun usaha, menabung untuk masa tua.

Tetapi tidak seorang pun dapat memastikan bahwa ia akan sampai pada hari esok.

Mungkin karena itu Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia melihat waktu dengan lebih serius.

Allah bersumpah dengan waktu:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian.”

Menarik.

Allah tidak mengatakan manusia berada dalam kesibukan.

Tidak pula sekadar berada dalam kesulitan.

Tetapi berada dalam kerugian.

Sebab waktu terus berkurang, sementara manusia sering merasa waktunya masih panjang.

Hari ini kita berkata, “Nanti.”

Nanti saya minta maaf.

Nanti saya pulang.

Nanti saya menemui orang tua.

Nanti saya memperbaiki ibadah.

Nanti saya bersedekah.

Nanti saya berubah.

Kita begitu percaya kepada kata “nanti”, padahal tidak pernah ada janji bahwa “nanti” akan menjadi milik kita.

Imam al-Ghazali mengingatkan manusia tentang betapa mahalnya waktu. Harta yang hilang masih mungkin dicari kembali. Kesehatan yang menurun kadang masih dapat dipulihkan. Tetapi satu detik yang telah berlalu tidak mungkin dibeli kembali dengan seluruh kekayaan dunia.

Waktu adalah modal yang diam-diam habis.

Dan manusia baru sering menyadarinya ketika modal itu hampir tidak tersisa.

Kita sering takut kehilangan harta.

Tetapi jarang takut kehilangan umur.

Padahal harta yang hilang mungkin kembali.

Umur tidak.


Ada pula sesuatu yang lebih aneh dalam hidup.

Kita mengetahui bahwa semua akan ditinggalkan, tetapi tetap saja kita bertengkar demi sesuatu yang kelak tidak kita bawa.

Kita berebut jabatan.

Berselisih karena tanah.

Sakit hati karena nama tidak disebut.

Marah karena tidak dihormati.

Bahkan sesama saudara dapat bermusuhan karena harta warisan.

Padahal kelak harta itu berpindah tangan.

Rumah yang kita bangun mungkin ditempati orang lain.

Kursi yang kita perebutkan akan diduduki orang lain.

Jabatan yang membuat kita merasa penting akan diberikan kepada orang lain.

Nama kita perlahan dilupakan.

Al-Qur’an menyebut kehidupan dunia sebagai sesuatu yang sementara:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Dunia bukan berarti tidak penting.

Ia penting.

Tetapi ia bukan tujuan terakhir.

Dunia adalah tempat menanam, bukan tempat memanen seluruh hasil.

Mungkin inilah yang ingin dijelaskan para ulama ketika berbicara tentang zuhud.

Zuhud bukan berarti tidak memiliki dunia.

Zuhud adalah ketika dunia berada di tangan, tetapi tidak menguasai hati.

Seseorang boleh kaya, tetapi tidak diperbudak kekayaan.

Boleh memiliki jabatan, tetapi tidak mabuk jabatan.

Boleh memiliki rumah besar, tetapi tidak menjadikan rumah itu lebih besar daripada hatinya.

Sebab persoalannya bukan berapa banyak yang kita miliki.

Persoalannya: berapa banyak yang memiliki kita.


Jalaluddin Rumi mempunyai cara yang indah dalam melihat kematian.

Kematian, dalam pandangan spiritual, bukan sekadar sebuah pintu yang tertutup. Ia adalah perpindahan menuju kehidupan yang lain.

Karena itu orang beriman tidak memandang kematian dengan cara yang sama seperti orang yang merasa hidupnya hanya berhenti di dunia.

Allah berfirman:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Sedangkan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”

Lebih baik.

Dan lebih kekal.

Kalimat ini sederhana, tetapi dapat mengubah cara kita memandang hidup.

Jika dunia hanya sementara, mengapa kita menjadikannya segala-galanya?

Jika akhirat lebih kekal, mengapa kita mempersiapkan dunia dengan begitu serius tetapi mempersiapkan akhirat dengan begitu santai?

Untuk membeli rumah, kita menghitung bertahun-tahun.

Untuk membeli kendaraan, kita menghitung cicilan.

Untuk pendidikan anak, kita membuat perencanaan.

Untuk masa pensiun, kita menyiapkan tabungan.

Tetapi untuk kehidupan setelah kematian?

Sering kali kita berkata:

“Semoga Allah mengampuni.”

Tentu kita berharap kepada rahmat Allah.

Tetapi harapan tanpa amal mudah berubah menjadi angan-angan.


Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ، وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ

“Yang mengikuti mayit ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua kembali, sedangkan satu tetap bersamanya.”

Keluarga mengantarkan sampai makam.

Harta berhenti di rumah.

Tetapi amal ikut masuk ke dalam kubur.

Betapa singkat perjalanan itu.

Pagi masih ada seseorang di rumah.

Siang kabar kematian datang.

Sore tubuh dimandikan.

Malam mungkin sudah berada di dalam tanah.

Orang-orang kemudian pulang.

Lampu kamar dinyalakan.

Kursi tetap berada di tempatnya.

Piring masih tersusun.

Baju masih tergantung.

Nomor telepon masih tersimpan.

Tetapi orangnya sudah tidak ada.

Di situlah kita memahami bahwa manusia sebenarnya bukan pemilik.

Kita hanya penerima titipan.

Anak adalah titipan.

Pasangan adalah titipan.

Kesehatan adalah titipan.

Harta adalah titipan.

Bahkan tubuh kita sendiri adalah titipan.

Dan setiap titipan pada akhirnya akan diminta kembali.


Imam Ibn ‘Athaillah pernah mengingatkan dalam al-Hikam:

مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْءٌ مِثْلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانَ فِكْرَةٍ

“Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati daripada menyendiri sejenak untuk memasuki medan perenungan.”

Barangkali kita memang membutuhkan waktu untuk berhenti.

Bukan berhenti bekerja.

Tetapi berhenti sejenak dari kebisingan.

Duduk sendirian.

Memandang langit.

Mengingat orang-orang yang dulu pernah bersama kita.

Mengingat orang tua yang mungkin sudah tidak ada.

Mengingat teman yang dahulu sering tertawa bersama.

Mengingat guru yang pernah menegur kita.

Lalu bertanya kepada diri sendiri:

Kalau malam ini aku dipanggil Allah, apa yang sebenarnya sudah kupersiapkan?

Bukan berapa banyak uang di rekening.

Bukan berapa banyak orang mengenal nama kita.

Bukan berapa banyak jabatan yang pernah kita duduki.

Tetapi:

Berapa hati yang pernah kita bahagiakan?

Berapa kesalahan yang telah kita minta maaf?

Berapa hak orang lain yang telah kita kembalikan?

Berapa kali kita menolong tanpa berharap dipuji?

Berapa banyak air mata yang kita keringkan?

Berapa banyak doa yang diam-diam kita panjatkan untuk orang lain?

Dan yang paling penting:

Bagaimana hubungan kita dengan Allah?


Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ

“Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara…”

Sedekah jariyah.

Ilmu yang bermanfaat.

Anak saleh yang mendoakannya.

Mungkin di sinilah kita menemukan jawaban tentang apa yang layak ditinggalkan.

Bukan sekadar nama.

Tetapi manfaat.

Bukan sekadar monumen.

Tetapi kebaikan yang terus berjalan.

Seseorang mungkin tidak dikenal oleh banyak orang setelah kematiannya.

Tetapi jika ilmu yang diajarkannya membuat seseorang menjadi baik, ia masih hidup melalui ilmu itu.

Jika sedekahnya menjadi masjid tempat orang bersujud, ia masih memiliki bagian dari kebaikan itu.

Jika ia mendidik anaknya menjadi manusia saleh, doa anak itu menjadi hadiah yang menembus kesunyian kuburnya.

Barangkali inilah bentuk kehidupan yang lebih panjang daripada umur biologis.

Tubuh berhenti.

Tetapi kebaikan terus bergerak.


Al-Ghazali mengajak manusia tidak tertipu oleh dunia.

Rumi mengajak manusia melihat cinta sebagai jalan pulang.

Ibn ‘Athaillah mengajak hati mengenal Allah di balik segala keadaan.

Para ulama dan orang-orang saleh mengajarkan satu hal yang sama dalam bahasa yang berbeda:

Jangan sampai kita sibuk memiliki kehidupan, tetapi lupa menjalani kehidupan.

Sebab hidup bukan hanya tentang mendapatkan.

Ada saatnya melepaskan.

Bukan hanya tentang memiliki.

Ada saatnya kehilangan.

Bukan hanya tentang datang.

Ada saatnya pergi.

Dan bukan hanya tentang lahir.

Ada saatnya wafat.

Allah berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.”

Perhatikan.

Allah tidak mengatakan:

“Siapa yang paling banyak hartanya.”

Tidak pula:

“Siapa yang paling terkenal.”

Tetapi:

أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Siapa yang paling baik amalnya.

Maka barangkali ukuran keberhasilan hidup bukan seberapa tinggi kita naik.

Tetapi seberapa baik kita menggunakan kesempatan ketika berada di atas.

Bukan seberapa banyak yang kita kumpulkan.

Tetapi seberapa banyak yang dapat kita manfaatkan untuk kebaikan.

Bukan berapa lama kita hidup.

Tetapi apa yang kita lakukan dengan umur yang diberikan Allah.


Pada akhirnya, kita semua akan sampai di tempat yang sama.

Raja dan rakyat.

Kiai dan santri.

Orang kaya dan orang miskin.

Yang dipuji dan yang dicaci.

Yang terkenal dan yang tidak dikenal.

Kuburan tidak bertanya berapa jumlah pengikut kita.

Tanah tidak peduli dengan jabatan.

Maut tidak mengenal gelar.

Di sana manusia kembali menjadi dirinya sendiri.

Seorang hamba.

Tanpa atribut.

Tanpa pengawal.

Tanpa kekayaan.

Tanpa kekuasaan.

Yang tersisa adalah amal dan rahmat Allah.

Karena itu jangan menunggu kematian untuk mulai hidup dengan benar.

Jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai kehadiran.

Jangan menunggu kuburan untuk memahami bahwa waktu adalah nikmat.

Pulanglah sebelum rumah menjadi kenangan.

Mintalah maaf sebelum kesempatan tertutup.

Peluklah orang yang masih dapat dipeluk.

Teleponlah orang tua selagi mereka masih dapat menjawab.

Berbuat baiklah ketika tangan masih kuat.

Bersedekahlah ketika harta masih berada di tangan.

Belajarlah ketika akal masih terang.

Bertaubatlah ketika pintu masih terbuka.

Sebab kita tidak tahu kapan kalimat terakhir akan selesai.

Kita tidak tahu kapan langkah terakhir akan berhenti.

Kita tidak tahu kapan napas terakhir berubah menjadi kenangan bagi orang lain.

Dan ketika hari itu tiba, mungkin kita tidak lagi membutuhkan banyak hal.

Tidak membutuhkan rumah besar.

Tidak membutuhkan pujian.

Tidak membutuhkan tepuk tangan.

Kita hanya membutuhkan satu hal yang dahulu sering kita abaikan:

rahmat Allah.

Maka selama pagi masih datang, bersyukurlah.

Selama napas masih berembus, bertaubatlah.

Selama orang-orang yang kita cintai masih berada di sekitar kita, cintailah mereka dengan baik.

Selama tangan masih dapat bergerak, lakukan kebaikan.

Selama hati masih dapat menangis, menangislah di hadapan Allah.

Karena hidup ini memang sementara.

Tetapi yang kita kerjakan di dalamnya tidak semuanya sementara.

Ada amal yang terus mengalir.

Ada ilmu yang terus menerangi.

Ada doa yang terus naik.

Ada kebaikan yang terus tumbuh.

Dan ada perjumpaan yang dijanjikan Allah kepada orang-orang beriman.

Maka kematian bukan alasan untuk takut menjalani hidup.

Kematian adalah alasan untuk tidak menyia-nyiakan hidup.

Kita tidak memiliki selamanya.

Kita hanya memiliki umur yang sedang berjalan.

Dan setiap detik yang berlalu sebenarnya sedang membawa kita semakin dekat kepada satu kepastian:

kita akan pulang.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan pulang.

Tetapi:

Ketika saat pulang itu tiba, dalam keadaan seperti apa kita ingin menghadap Allah?

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝٢٧

ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً ۝٢٨

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ۝٢٩

وَادْخُلِي جَنَّتِي ۝٣٠

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

(QS. Al-Fajr: 27–30)

Wallāhu al-Musta'ān 

Gresik, 11 September 2026