Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy
https://www.facebook.com/share/r/1Dkg9Aambf/
Ceramah Prof. Mahfudz mengingatkan kita agar tidak sewenang-wenang saat memimpin. Kekuasaan bukan tameng untuk kebal hukum, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt dan sejarah. Hari ini mungkin ada yang merasa “diisolasi” karena memilih jalan kebaikan, tetapi waktu adalah saksi: betapa banyak orang yang dahulu berbuat zalim, setelah belasan tahun akhirnya dituntut oleh hukum dan kehinaan pun menjemputnya.
Allah Swt berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan.” (QS. an-Naḥl: 90)
Keadilan adalah fondasi kepemimpinan. Tanpanya, kekuasaan berubah menjadi tirani. Dalam ayat lain Allah Swt mengingatkan:
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Āli ‘Imrān: 140)
Tak ada kekuasaan yang abadi. Pergiliran waktu adalah sunnatullah.
Rasulullah Saw bersabda:
“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ”
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam al-Ghazali mengingatkan:
فسادُ الرعايا بفسادِ الملوك، وفسادُ الملوك بفسادِ العلماء
“Rusaknya rakyat karena rusaknya pemimpin, dan rusaknya pemimpin karena rusaknya ulama.”
Maka pesan moralnya jelas: jangan pernah merasa aman dalam kezaliman, dan jangan pernah putus asa dalam kebaikan. Jika hari ini kebenaran membuat kita tersisih, tetaplah istiqamah. Karena di sisi Allah Swt, ukuran bukanlah popularitas atau kekuasaan, melainkan keadilan dan amanah. Kepemimpinan sejati bukan tentang seberapa lama kita berkuasa, tetapi seberapa bersih kita mempertanggungjawabkannya.
Jabatan tidak pernah menghapus tanggungan jawab; ia justru melipatgandakannya. Di dunia, mungkin ada kekuasaan yang bisa mengatur narasi dan membungkam kritik. Tetapi di hadapan Allah ﷻ, tidak ada protokoler, tidak ada ajudan, tidak ada kekebalan hukum. “فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ” (QS. az-Zalzalah: 7–8). Setiap butir kebaikan dan keburukan akan diperlihatkan. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa pemimpin yang menipu rakyatnya diharamkan baginya surga (HR. Muslim). Karena itu, jangan pernah menukar amanah dengan ambisi, atau keadilan dengan kepentingan. Kekuasaan hanyalah titipan waktu; pertanggungjawabannya adalah urusan akhirat yang tak mengenal kadaluwarsa.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Gresik, 7 Ramadhan 1447 H./25 Februari 2026 M.
Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik JATIM