Loading...
Pesantren Transformatif Abad Kedua: Jangan Sampai Kehilangan Ruhnya
10/08/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Gagasan tentang transformasi pesantren menyambut abad kedua Nahdlatul Ulama patut diapresiasi. Pesantren memang tidak boleh berhenti pada nostalgia kejayaan masa lalu. Dunia telah berubah. Kecerdasan buatan, digitalisasi, perubahan ekonomi global, geopolitik, dan pergeseran otoritas keagamaan ke ruang digital menghadirkan tantangan baru yang tidak mungkin dijawab hanya dengan cara-cara lama.

Karena itu, gagasan agar santri menguasai sains, teknologi, bahasa internasional, ekonomi, bahkan kecerdasan buatan merupakan keniscayaan. Pesantren harus mampu melahirkan generasi yang menguasai masa depan.

Namun, ada satu pertanyaan yang tidak boleh luput: ketika pesantren bertransformasi, apa yang sesungguhnya hendak ditransformasikan?

Jangan sampai transformasi pesantren hanya berarti mengubah kurikulum kitab kuning menjadi kurikulum teknologi, menambah laboratorium digital, mengirim santri ke universitas dunia, lalu mengukur keberhasilan pesantren berdasarkan berapa banyak lulusannya menjadi profesional, pengusaha, diplomat, ilmuwan, atau ahli teknologi.

Semua itu penting. Tetapi belum cukup.

Sebab pesantren bukan sekadar lembaga pencetak human capital. Pesantren adalah lembaga pembentukan manusia.

Bukan Museum, tetapi Juga Bukan Sekadar Laboratorium Teknologi

Ada anggapan bahwa tradisi pesantren merupakan sesuatu yang harus diperbarui karena dianggap tidak lagi sesuai dengan zaman. Pandangan semacam ini perlu diluruskan.

Tradisi pesantren memang harus dikembangkan, tetapi tidak berarti harus ditinggalkan. Kitab kuning, sorogan, bandongan, musyawarah, bahtsul masail, sanad keilmuan, adab kepada guru, dan kehidupan kolektif santri bukanlah artefak masa lalu yang harus disimpan di museum.

Justru di sanalah terdapat DNA pendidikan pesantren.

Pesantren selama berabad-abad telah menunjukkan kemampuan beradaptasi. Ia menerima perubahan tanpa harus kehilangan identitas. Karena itu, prinsip al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah tidak semestinya dipahami sebagai ajakan meninggalkan yang lama demi yang baru. Ia adalah prinsip keseimbangan: mempertahankan warisan yang baik sekaligus mengambil sesuatu yang lebih baik.

Maka, pesantren abad kedua harus mampu mempertemukan kitab turats dengan kecerdasan buatan, fikih dengan teknologi, tasawuf dengan kesehatan mental generasi muda, akhlak dengan media sosial, serta tradisi keilmuan Islam dengan perkembangan sains modern.

Yang berubah adalah cara dan instrumennya. Ruh pendidikannya jangan sampai hilang.

Jangan Hanya Menghasilkan Santri yang Mendunia

Kita tentu patut bangga jika kelak lahir dari pesantren ahli AI, ilmuwan, diplomat, ekonom, dokter, insinyur, dan profesional yang mampu berkiprah di tingkat internasional.

Tetapi pesantren juga harus bertanya: siapa yang akan menjadi ulama? Siapa yang akan menjadi guru madrasah? Siapa yang mendampingi masyarakat desa? Siapa yang mengurus masjid, madrasah, majelis taklim, dan problem keagamaan umat?

Jangan sampai seluruh orientasi pendidikan pesantren diarahkan untuk menghasilkan elite profesional, sementara akar sosial pesantren justru semakin tercerabut.

Santri ideal abad kedua bukan hanya mereka yang mampu berdiri di forum internasional, tetapi juga yang mampu duduk bersila bersama petani, nelayan, pedagang kecil, dan masyarakat desa.

Pesantren harus mampu melahirkan santri yang mendunia tanpa tercerabut dari bumi tempat ia berpijak.

Fardhu Kifayah Peradaban, Tetapi Jangan Melupakan Fardhu ‘Ain

Gagasan bahwa penguasaan sains dan teknologi merupakan bagian dari fardhu kifayah peradaban sangat menarik. Umat Islam memang membutuhkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak terus menjadi konsumen peradaban.

Tetapi jangan sampai terjadi inversi prioritas.

Santri yang menguasai coding tetapi kehilangan kejujuran bukanlah keberhasilan pesantren. Santri yang fasih berbahasa asing tetapi kehilangan adab kepada orang tua dan guru juga bukan representasi keberhasilan pendidikan pesantren. Santri yang memahami ekonomi global tetapi tidak memahami amanah dan halal-haram justru dapat menjadi masalah baru.

Karena itu, sains harus dipertemukan dengan akhlak, teknologi dengan tanggung jawab, kecerdasan dengan kebijaksanaan, dan kompetensi dengan spiritualitas.

Pesantren tidak cukup mencetak orang pintar. Ia harus mencetak manusia yang baik.

Transformasi Juga Harus Menyentuh Para Pendidik

Blueprint pesantren abad kedua juga jangan hanya berbicara tentang bagaimana santri harus berubah. Pertanyaan yang sama harus diarahkan kepada para pendidik.

Bagaimana kiai dan ustaz menghadapi generasi yang lahir bersama internet? Bagaimana mereka memahami kecerdasan buatan, media sosial, psikologi generasi Z dan Alpha, serta perubahan cara belajar?

Pesantren membutuhkan guru yang menguasai pedagogi modern tanpa kehilangan kapasitasnya sebagai murabbi. Teknologi boleh berubah, tetapi hubungan guru-murid yang dibangun atas dasar adab, keteladanan, dan sanad keilmuan harus tetap menjadi jantung pendidikan.

Di sinilah pesantren mempunyai keunggulan yang sulit ditiru sekolah modern.

Abad Kedua Harus Menjadi Transformasi Ruh, Bukan Sekadar Transformasi Kurikulum

Maka, agenda besar pesantren abad kedua NU seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan: Apa yang harus dikuasai santri?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “Manusia seperti apa yang hendak kita lahirkan?”

Jika jawabannya hanya manusia kompetitif, sekolah modern mungkin dapat melakukannya.

Tetapi jika yang hendak dilahirkan adalah manusia yang alim, berakhlak, kompeten, adaptif, mandiri, memiliki kepedulian sosial, menguasai teknologi, tetapi tetap memiliki sanad dan orientasi pengabdian kepada umat, maka pesantrenlah yang memiliki modal sejarah paling kuat untuk melakukannya.

Pesantren abad kedua memang harus berani berubah. Tetapi perubahan itu jangan sampai membuat pesantren kehilangan dirinya sendiri.

Kita membutuhkan santri yang fasih membaca kitab dan mampu membaca algoritma; memahami fikih sekaligus teknologi; memiliki kecakapan global tetapi tetap berakar pada tradisi; mampu menggenggam dunia tetapi tidak kehilangan adab.

Sebab masa depan pesantren bukanlah ketika pesantren berhasil menjadi seperti lembaga pendidikan modern lainnya.

Masa depan pesantren justru ketika ia berhasil menjadi pesantren yang lebih maju tanpa berhenti menjadi pesantren.

Di situlah transformasi pesantren menemukan maknanya: bukan meninggalkan masa lalu demi masa depan, melainkan membawa kekayaan tradisi menuju masa depan dengan cara yang lebih cerdas, relevan, dan bermartabat.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb 

Ahmad Chuvav Ibriy 

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM