Loading...
POLISEMI: SATU KATA, BANYAK MAKNA
07/08/2026 Admin Yayasan Bagikan:

(Humor Ngutangi) 

Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy 


Dalam kajian semantik (ilmu tentang makna), polisemi adalah gejala ketika satu kata memiliki lebih dari satu makna yang masih saling berkaitan. Kata tersebut tetap berasal dari akar yang sama, tetapi maknanya berkembang sesuai konteks pemakaian.


Salah satu contoh menarik dalam bahasa Jawa adalah kata ngutangi.


Contoh percakapan:

A: "Sampeyan bisa ngga ngutangi aku?"

Kalimat tersebut sebenarnya bermaksud:

"Apakah Anda bisa meminjami saya uang?"

Namun, lawan bicara sengaja memahami kata ngutangi dengan makna lain, yaitu:

"Memakaikan kutang (BH) kepada seseorang."

Akibatnya, muncullah jawaban yang mengundang tawa:

"Waduh, enggak bisa Mbak. Wedi diantemi bojone sampeyan." (Waduh....Takut dipukuli suami Anda!).

Bahkan dilanjutkan dengan kalimat:

"Biasane yo kutangan dewe toh Mbak, kok ndadak njaluk tulung aku?" (Biasanya kan memakai BH sendiri, kenapa tiba-tiba minta tolong saya).


Humor itu muncul karena satu kata, ngutangi, memiliki dua kemungkinan makna:

Memberikan pinjaman (utang) kepada orang lain.

Memakaikan kutang (BH) kepada seseorang.

Lawan bicara sengaja memilih makna kedua sehingga terjadi kesalahpahaman yang lucu.

Peristiwa seperti ini menunjukkan bahwa makna kata tidak hanya ditentukan oleh kamus, tetapi juga oleh konteks, situasi, dan maksud penuturnya. Dalam komunikasi sehari-hari, manusia biasanya mampu memilih makna yang tepat berdasarkan konteks. Akan tetapi, jika konteks diabaikan atau sengaja dipelesetkan, muncullah ambiguitas yang sering menjadi bahan humor.


Catatan Penting

Polisemi berbeda dengan homonimi. Pada polisemi, berbagai makna masih memiliki hubungan asal-usul atau perkembangan makna. Sementara pada homonimi, dua kata hanya kebetulan sama bentuk dan pengucapannya, tetapi berasal dari asal yang berbeda dan tidak memiliki hubungan makna.

Dengan demikian, contoh ngutangi di atas sangat baik digunakan untuk menjelaskan bahwa bahasa bukan hanya persoalan tata bahasa, melainkan juga persoalan makna, konteks, dan penafsiran. Sering kali, humor lahir bukan karena kata-katanya salah, melainkan karena maknanya sengaja digeser dari konteks yang sebenarnya.

Pertanyaan berikut : Apakah Polisemi ini identik dengan Badī' Musyākalah dalam Ilmu Balaghah?

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb 

Bersambung......