Loading...
Politik Jangan Menunggangi Agama
04/03/2026 Admin Yayasan Bagikan:


Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Ketika konflik geopolitik mulai diseret ke wilayah teologis, itu artinya kita sedang berdiri di tepi jurang yang berbahaya. Pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, yang mengaitkan isu nuklir Iran dengan narasi keagamaan, menjadi alarm keras bagi dunia internasional.

Perseteruan antara negara adalah persoalan kebijakan, strategi, dan kepentingan. Ia harus dibaca dalam kerangka diplomasi, keamanan regional, dan hukum internasional. Namun ketika agama disebut dalam nada peyoratif atau dijadikan justifikasi retorik, konflik berubah wajah. Ia tak lagi sekadar pertarungan kepentingan negara, melainkan berpotensi menjadi benturan identitas dan keyakinan.

Inilah titik rawannya.

Agama adalah ruang sakral bagi miliaran manusia. Ia bukan instrumen retorika politik. Mengaitkan kebijakan suatu rezim dengan ajaran agama secara umum akan menimbulkan generalisasi yang tidak adil. Kritik terhadap pemerintah sah dalam politik internasional. Tetapi menyentuh simbol dan keyakinan teologis membuka luka kolektif yang jauh lebih dalam. Di kawasan Timur Tengah, sejarah telah menunjukkan bagaimana framing “perang ideologi” atau “perang agama” seringkali memperpanjang konflik dan memperluas lingkaran kebencian. Dunia hari ini terlalu rapuh untuk disulut oleh bahasa yang tidak terukur.

Sebagai pemimpin negara adidaya, setiap kata yang diucapkan pejabat tinggi di bawah pemerintahan Donald Trump bukan sekadar opini pribadi. Ia adalah sinyal diplomatik. Ia membentuk persepsi global. Dan persepsi, dalam geopolitik, bisa sama kuatnya dengan rudal.

Kita perlu mengingatkan semua pihak:

Konflik politik harus tetap berada di wilayah politik.

Sengketa keamanan harus dibahas dalam kerangka hukum internasional.

Agama tidak boleh dijadikan kambing hitam dalam perseteruan negara.

Jika dunia membiarkan agama dipakai sebagai justifikasi permusuhan, maka yang terjadi bukan sekadar eskalasi militer, tetapi polarisasi peradaban. Dan polarisasi itu tidak mengenal batas negara.

Opini ini bukan pembelaan terhadap kebijakan mana pun. Ini adalah seruan moral. Bahwa dalam situasi global yang sensitif, para pemimpin dunia dituntut bukan hanya tegas, tetapi juga bijak dalam memilih kata.

Politik tanpa etika melahirkan kekacauan.

Agama tanpa kebijaksanaan melahirkan fanatisme.

Dan ketika keduanya dipertemukan dalam retorika konflik, yang lahir adalah api yang sulit dipadamkan.

Dunia membutuhkan diplomasi yang dingin, bukan bahasa yang membakar.


Gresik,  15 Ramadhan 1447 H/4 Maret 2026