Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Ramadhan selalu hadir dengan dua wajah. Di satu sisi ia riuh
oleh tradisi: takjil, tarawih, dan baliho ucapan religius para pejabat. Di sisi
lain, ia menyimpan pesan sunyi yang jauh lebih mendalam: pembentukan karakter.
Jika hari ini bangsa kita menghadapi krisis kepercayaan terhadap elite,
sesungguhnya yang retak bukan sekadar sistem, melainkan watak.
Pertanyaannya, apakah Ramadhan hanya menjadi seremoni spiritual, atau benar-benar menjadi sekolah karakter bangsa?
Pertama, Ramadhan mendidik integritas yang paling mendasar:
kejujuran di ruang sunyi. Dalam hadits qudsi Allah Swt berfirman, “Puasa itu
untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari-Muslim). Para
ulama menjelaskan, puasa istimewa karena paling tersembunyi dari riya’. Orang
bisa saja berpura-pura shalat atau bersedekah, tetapi puasa adalah kejujuran
batin. Ia melatih integritas yang tak terlihat publik.
Di sinilah relevansinya bagi kepemimpinan nasional.
Integritas sejati bukan ketika kamera menyala, tetapi ketika tidak ada yang
mengawasi. Korupsi, manipulasi anggaran, konflik kepentingan—semua itu lahir
dari kegagalan menjaga amanah dalam ruang sunyi. Ramadhan mendidik elite untuk
memiliki muraqabah, kesadaran bahwa pengawasan Allah Swt jauh lebih
nyata daripada pengawasan lembaga apa pun.
Kedua, Ramadhan adalah madrasah empati dan kedermawanan.
Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw adalah manusia paling
dermawan, dan di bulan Ramadhan beliau lebih dermawan daripada angin yang
berhembus (HR. Bukhari). Gambaran ini bukan hiperbola, tetapi standar
kepemimpinan. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin luas seharusnya manfaat
yang ia tebarkan.
Namun yang sering kita saksikan justru sebaliknya: kekuasaan
mempersempit empati. Kebijakan kadang terasa jauh dari denyut rakyat kecil.
Padahal puasa mengajarkan rasa lapar kolektif—merasakan apa yang dirasakan
mereka yang hidup dalam keterbatasan setiap hari. Ramadhan mendidik pemimpin
untuk tidak sekadar mengelola angka, tetapi merawat manusia.
Ketiga, Rasulullah Saw menyebut Ramadhan sebagai syahrus
shabr (bulan kesabaran). Sabar bukan berarti pasif, tetapi kemampuan
mengendalikan diri. Bangsa ini hari-hari ini mudah terpecah oleh provokasi,
diseret oleh narasi emosional, bahkan dipertontonkan rivalitas elite yang sarat
ego. Padahal kepemimpinan membutuhkan ketenangan, bukan kegaduhan. Puasa
melatih pengendalian lisan, pengendalian amarah, dan kedewasaan mengambil
keputusan.
Keempat, Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan
dengan iman dan ihtisab, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR.
Bukhari-Muslim). Iman melahirkan keyakinan moral; ihtisab melahirkan keikhlasan
dan orientasi akhirat. Jika dua hal ini tertanam dalam jiwa pemimpin, maka
jabatan tidak lagi dipandang sebagai hak istimewa, melainkan amanah yang akan
dihisab.
Ramadhan sesungguhnya telah menyediakan kurikulum lengkap
bagi pembentukan karakter bangsa: integritas, empati, kesabaran, dan tanggung
jawab. Tetapi kurikulum itu hanya efektif jika para elite bersedia menjadi
muridnya.
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, juga tidak
kekurangan strategi pembangunan. Yang mendesak adalah keteladanan moral dari
atas. Jika Ramadhan hanya berhenti pada seremoni dan pencitraan, maka kita
sedang menyia-nyiakan madrasah agung yang setiap tahun Allah Swt hadirkan.
Ramadhan adalah sekolah karakter bangsa. Tinggal kita
bertanya dengan jujur: sudahkah para pemimpin belajar sungguh-sungguh di
dalamnya?
Gresik, 2 Ramadhan 1447 H./20 Februari 2026
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik Anggota ; Anggota
Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM