Loading...
Ramadhan, Sekolah Karakter Bangsa (Puisi)
20/02/2026 Admin Yayasan Bagikan:

(Puisi Esai)

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik

Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik, Jawa Timur

Ramadhan datang lagi—

bukan sekadar kalender yang berganti,

bukan sekadar lampu-lampu masjid yang menyala lebih lama,

bukan sekadar baliho ucapan selamat

dengan senyum para pejabat

yang dipasang lebih besar dari wajah rakyatnya.

Ramadhan adalah sekolah.

Sekolah tanpa gedung megah,

tanpa ruang ber-AC,

tanpa protokoler.

Ia mendidik dalam sunyi,

mengajar tanpa mikrofon,

mengoreksi tanpa kamera.

Dan bangsa ini—

yang gaduh oleh pidato,

yang riuh oleh janji,

yang sibuk oleh strategi—

justru kekurangan murid

yang mau duduk tenang di kelasnya.

Pertama, Ramadhan mengajarkan integritas.

Dalam hadits qudsi Allah berfirman:

“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Puasa adalah rahasia.

Ia tidak membutuhkan saksi.

Tidak perlu tepuk tangan.

Tidak perlu unggahan media sosial.

Seseorang bisa saja berpura-pura jujur di hadapan publik,

tetapi tidak ada yang tahu

apakah ia setia pada puasanya

kecuali dirinya dan Tuhannya.

Di sinilah karakter dilahirkan:

ketika tidak ada kamera,

ketika tidak ada wartawan,

ketika tidak ada auditor.

Wahai para elite negeri ini,

berapa banyak keputusan yang lahir

di ruang tertutup

tanpa rasa diawasi oleh Yang Maha Melihat?

Ramadhan mengajarkan:

pengawasan Allah lebih tajam

daripada laporan keuangan,

lebih detail daripada sidang etik,

lebih pasti daripada opini publik.

Integritas bukan soal citra.

Ia soal takut.

Takut mengkhianati amanah.

Kedua, Ramadhan mendidik empati.

Nabi Muhammad Saw

adalah manusia paling dermawan,

dan di bulan Ramadhan

beliau lebih dermawan

daripada angin yang berhembus.

Angin tidak memilih

siapa yang ia sejukkan.

Angin tidak bertanya

apa partainya,

apa golongannya.

Ia memberi—

karena memberi adalah tabiatnya.

Tetapi kekuasaan sering kali

justru mempersempit dada.

Kursi membuat jarak.

Protokol membuat sekat.

Apakah para pemimpin kita

masih merasakan lapar

seperti rakyat yang antre bantuan?

Apakah kebijakan lahir dari empati

atau dari tabel-tabel yang steril dari air mata?

Puasa membuat kita lapar

agar kita belajar adil.

Puasa membuat kita haus

agar kita belajar peduli.

Jika Ramadhan tidak melunakkan hati,

maka mungkin yang berpuasa

hanya tubuhnya,

bukan jiwanya.

Ketiga, Ramadhan adalah bulan sabar.

Nabi menyebutnya

syahrus shabr—

bulan kesabaran.

Sabar bukan berarti diam,

bukan berarti tunduk pada kezaliman.

Sabar adalah kemampuan menahan diri

dari amarah yang berlebihan,

dari keputusan yang gegabah,

dari kata-kata yang melukai.

Namun yang sering kita saksikan

justru rivalitas yang dipertontonkan,

ego yang dipelihara,

narasi yang saling menjatuhkan.

Bangsa ini butuh pemimpin

yang tenang,

bukan yang gemar memantik kegaduhan.

Puasa melatih kita

menahan lisan,

menahan ambisi,

menahan hasrat untuk selalu benar.

Apakah kelas kesabaran ini

sudah benar-benar diikuti

oleh para pemegang kuasa?

Keempat, Ramadhan menanamkan kesadaran hisab.

Nabi bersabda:

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan ihtisab,

diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Iman—

keyakinan bahwa setiap amal dicatat.

Ihtisab—

kesadaran bahwa setiap jabatan akan dihisab.

Kekuasaan bukan warisan.

Ia titipan.

Ia bukan hak istimewa,

melainkan beban pertanggungjawaban.

Suatu hari,

tidak ada lagi ajudan,

tidak ada lagi podium,

tidak ada lagi tepuk tangan.

Yang ada hanya pertanyaan:

apa yang engkau lakukan

dengan amanah itu?

Ramadhan adalah sekolah karakter bangsa.

Ia menawarkan kurikulum:

integritas dalam sunyi,

empati dalam kebijakan,

kesabaran dalam kepemimpinan,

dan tanggung jawab dalam setiap keputusan.

Tetapi sekolah ini

tidak memaksa siapa pun untuk lulus.

Ia hanya membuka pintu.

Jika para elite memilih menjadikannya

sekadar panggung religius tahunan,

maka bangsa ini akan terus pandai berbicara

tetapi miskin teladan.

Dan jika Ramadhan berlalu

tanpa perubahan watak,

maka yang selesai hanyalah puasanya—

bukan pelajarannya.

Ramadhan telah membuka kelasnya.

Pertanyaannya sederhana:

siapakah yang sungguh-sungguh

menjadi muridnya?


Gresik, 2 Ramadhan 1447 H./20 Februari 2026