Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Pengantar :
Aku bukan Dwipangga, apalagi Chairil Anwar.
Aku tidak menulis untuk menantang zaman, juga tidak
mengejar gelegar kata. Aku hanya seorang pejalan yang sering tersesat, lalu
menemukan jejak-jejak cahaya dalam sunyi. Perjalananku lebih banyak ditemani
bisikan al-Ghazali yang menenangkan akal, nyanyian Ibn al-Farid yang melunakkan
rasa, dan tuntunan al-Qusyairi yang menjaga adab di hadapan Tuhan. Jika
kata-kataku terdengar lirih, itu karena aku menulis bukan dari menara
keyakinan, melainkan dari lantai kerendahan; bukan untuk memikat dunia, tetapi
untuk menenangkan hati agar tetap setia berjalan menuju-Nya.
Kegagalan pernah menimpa siapa saja.
Ia tidak memilih korban.
Ia datang kepada yang rajin berdoa
dan yang lalai sekaligus.
Kepada yang merasa sudah benar
dan yang sejak awal ragu.
Karena itu, gagal bukan tanda Allah menjauh.
Ia justru sering menjadi bahasa-Nya
yang paling jujur.
Ia tidak berteriak.
Kecewa tidak selalu gaduh.
Kadang ia hanya duduk lama di sudut hati,
memandangi harapan yang runtuh perlahan,
tanpa suara, tanpa saksi.
Banyak orang menyembunyikan gagal
di balik senyum dan kalimat “tidak apa-apa”.
Padahal di dalam dada
ada runtuhan yang belum dibereskan.
Ada doa yang terasa kembali tanpa jawaban.
Jika engkau sedang di titik itu,
ketahuilah:
engkau tidak sendiri.
Dan engkau tidak sedang dikutuk.
Ia pernah percaya.
Pernah berharap pada manusia,
pada sistem, pada janji, pada arah
yang katanya pasti.
Ia menyusun rencana seolah waktu bisa dipaksa,
seolah hasil dapat ditagih.
Tapi hidup—
selalu punya cara sendiri
untuk merapuhkan keyakinan
yang lupa menyebut nama Allah
di awal sandaran.
Kecewa datang bukan sebagai musuh,
melainkan sebagai guru yang keras.
Ia memaksa kita duduk,
menyimak ulang niat,
dan bertanya dengan suara gemetar:
“Selama ini, aku bersandar kepada siapa?”
Pertanyaan itu menyakitkan.
Namun justru di sanalah kejujuran dimulai.
Bukan rencananya yang salah,
melainkan sandarannya yang keliru.
Kita menggantungkan ketenangan
pada makhluk yang juga sedang berjuang
menyelamatkan dirinya sendiri.
Manusia—
sebaik apa pun niatnya,
tetap terbatas oleh lelah, ego, dan lupa.
Sementara Allah
tidak pernah menjanjikan hidup tanpa jatuh,
hanya menjanjikan makna
bagi mereka yang mau belajar bangkit dengan sadar.
Jika hari ini engkau gagal,
jangan buru-buru menuduh dirimu lemah.
Bisa jadi Allah sedang memindahkan hatimu
dari sandaran palsu
kepada sandaran yang sejati.
Kecewa lalu berubah wajah.
Ia bukan lagi hukuman,
melainkan penjernih.
Ia membersihkan doa dari pamrih,
membersihkan usaha dari kesombongan,
membersihkan iman dari sekadar kebiasaan.
Pada malam yang panjang,
saat tidak ada yang bisa dihubungi
selain air mata,
engkau belajar satu kalimat sederhana
yang dulu sering diucapkan
namun jarang dihayati:
“Semua dari Allah.”
Bukan pasrah yang menyerah,
melainkan pasrah yang sadar.
Bahwa apa yang diambil-Nya
bukan untuk mempermalukan,
melainkan untuk menyelamatkan
arah hidupmu yang hampir salah jalan.
Hati yang gagal tidak perlu dipaksa kuat.
Ia hanya perlu dipulangkan.
Karena pulang bukan berarti kalah,
melainkan berhenti melawan
kebijaksanaan yang lebih luas
dari logika manusia.
Engkau mungkin tidak langsung berhasil.
Tidak langsung tenang.
Tapi jika engkau tetap bertahan,
tetap jujur pada luka,
dan tetap menyebut nama-Nya
di sela napas yang berat—
ketahuilah:
Allah tidak pernah terlambat.
Yang terlambat hanyalah pemahaman kita
tentang waktu-Nya.
Dan pada akhirnya,
yang gagal hari ini
bisa jadi sedang disiapkan
menjadi manusia
yang lebih rendah hati,
lebih bening imannya,
dan lebih lembut terhadap sesama yang jatuh.
Karena hati yang dikembalikan kepada Allah
tidak selalu utuh seperti semula,
tetapi selalu lebih tahu
ke mana ia harus bersandar.
Tidak semua yang luput kemarin layak disesali.
Ada hal-hal yang memang harus pergi agar hati belajar
melepaskan. Kegagalan hari kemarin bukan untuk diulang dalam ratap, melainkan
untuk ditinggalkan dengan sadar. Bukan dilupakan karena lari, tetapi dilepaskan
karena paham: apa yang bukan jatah kita, tak akan pernah betah tinggal di
genggaman.
Saat orang lain tampak sampai, kita sering mengira diri
tertinggal. Padahal sukses yang terlihat belum tentu sedang membawa bahagia,
dan kegagalan yang kita rasakan belum tentu sedang menjatuhkan derajat. Kita
merasa gagal bukan karena hidup berhenti, tetapi karena apa yang kita kejar
ternyata bukan yang Allah berikan. Dan di situlah rasa perih itu lahir—perih
karena membandingkan takdir sendiri dengan takdir orang lain.
Maka biarlah hari ini kita bersimpuh.
Bukan sebagai orang kalah, tetapi sebagai hamba yang
kembali. Bersimpuh kepada Allah yang Maha Mengetahui mengapa sesuatu diraih
orang lain, dan mengapa ia luput dari kita. Di hadapan-Nya, kegagalan
kehilangan wajah buruknya; ia hanya berubah menjadi jeda, menjadi belokan,
menjadi cara lain untuk diselamatkan dari arah yang keliru.
Tidak meraih bukan berarti tidak layak.
Tidak sampai bukan berarti tidak dipilih. Bisa jadi Allah
sedang menunda agar hati tidak rusak oleh hasil yang belum sanggup ditanggung.
Maka tenanglah. Lupakan kegagalan kemarin sebagaimana malam yang telah berlalu.
Ambil hikmahnya, serahkan sisanya. Karena yang benar-benar gagal hanyalah
mereka yang berhenti bersimpuh, bukan mereka yang belum sampai.
Ya Allah, jika hari ini yang tersisa hanya letih dan rasa
gagal, maka terimalah ia sebagai jalan pulang. Jangan Kau biarkan hati kami
terpaut pada apa yang tidak Kau takdirkan, dan jangan Kau beratkan jiwa dengan
penyesalan atas apa yang telah Kau ambil. Ajari kami ridha tanpa kehilangan
harap, sabar tanpa mematikan ikhtiar, dan pasrah tanpa merasa hampa. Jika orang
lain Kau beri sampai, cukupkan kami dengan tenang; jika orang lain Kau beri
hasil, cukupkan kami dengan yakin. Karena bagi kami, cukuplah Engkau yang
menjaga hati ini agar tetap hidup, tetap tunduk, dan tetap percaya bahwa segala
yang terjadi—adalah cara-Mu mencintai kami.
Amin, yā Mujības Sāilìn
Gresik, 21 Januari 2026
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik
Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten
Gresik JATIM