Loading...
Retak yang Dikembalikan
22/01/2026 Admin Yayasan Bagikan:

 Puisi Esai tentang Hati yang Kecewa dan Belajar Pasrah

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

 

Pengantar :

Aku bukan Dwipangga, apalagi Chairil Anwar.

Aku tidak menulis untuk menantang zaman, juga tidak mengejar gelegar kata. Aku hanya seorang pejalan yang sering tersesat, lalu menemukan jejak-jejak cahaya dalam sunyi. Perjalananku lebih banyak ditemani bisikan al-Ghazali yang menenangkan akal, nyanyian Ibn al-Farid yang melunakkan rasa, dan tuntunan al-Qusyairi yang menjaga adab di hadapan Tuhan. Jika kata-kataku terdengar lirih, itu karena aku menulis bukan dari menara keyakinan, melainkan dari lantai kerendahan; bukan untuk memikat dunia, tetapi untuk menenangkan hati agar tetap setia berjalan menuju-Nya.

 

 

Kegagalan pernah menimpa siapa saja.

Ia tidak memilih korban.

Ia datang kepada yang rajin berdoa

dan yang lalai sekaligus.

Kepada yang merasa sudah benar

dan yang sejak awal ragu.

Karena itu, gagal bukan tanda Allah menjauh.

Ia justru sering menjadi bahasa-Nya

yang paling jujur.

Ia tidak berteriak.

Kecewa tidak selalu gaduh.

Kadang ia hanya duduk lama di sudut hati,

memandangi harapan yang runtuh perlahan,

tanpa suara, tanpa saksi.

Banyak orang menyembunyikan gagal

di balik senyum dan kalimat “tidak apa-apa”.

Padahal di dalam dada

ada runtuhan yang belum dibereskan.

Ada doa yang terasa kembali tanpa jawaban.

Jika engkau sedang di titik itu,

ketahuilah:

engkau tidak sendiri.

Dan engkau tidak sedang dikutuk.

Ia pernah percaya.

Pernah berharap pada manusia,

pada sistem, pada janji, pada arah

yang katanya pasti.

Ia menyusun rencana seolah waktu bisa dipaksa,

seolah hasil dapat ditagih.

Tapi hidup—

selalu punya cara sendiri

untuk merapuhkan keyakinan

yang lupa menyebut nama Allah

di awal sandaran.

Kecewa datang bukan sebagai musuh,

melainkan sebagai guru yang keras.

Ia memaksa kita duduk,

menyimak ulang niat,

dan bertanya dengan suara gemetar:

“Selama ini, aku bersandar kepada siapa?”

Pertanyaan itu menyakitkan.

Namun justru di sanalah kejujuran dimulai.

Bukan rencananya yang salah,

melainkan sandarannya yang keliru.

Kita menggantungkan ketenangan

pada makhluk yang juga sedang berjuang

menyelamatkan dirinya sendiri.

Manusia—

sebaik apa pun niatnya,

tetap terbatas oleh lelah, ego, dan lupa.

Sementara Allah

tidak pernah menjanjikan hidup tanpa jatuh,

hanya menjanjikan makna

bagi mereka yang mau belajar bangkit dengan sadar.

Jika hari ini engkau gagal,

jangan buru-buru menuduh dirimu lemah.

Bisa jadi Allah sedang memindahkan hatimu

dari sandaran palsu

kepada sandaran yang sejati.

Kecewa lalu berubah wajah.

Ia bukan lagi hukuman,

melainkan penjernih.

Ia membersihkan doa dari pamrih,

membersihkan usaha dari kesombongan,

membersihkan iman dari sekadar kebiasaan.

Pada malam yang panjang,

saat tidak ada yang bisa dihubungi

selain air mata,

engkau belajar satu kalimat sederhana

yang dulu sering diucapkan

namun jarang dihayati:

“Semua dari Allah.”

Bukan pasrah yang menyerah,

melainkan pasrah yang sadar.

Bahwa apa yang diambil-Nya

bukan untuk mempermalukan,

melainkan untuk menyelamatkan

arah hidupmu yang hampir salah jalan.

Hati yang gagal tidak perlu dipaksa kuat.

Ia hanya perlu dipulangkan.

Karena pulang bukan berarti kalah,

melainkan berhenti melawan

kebijaksanaan yang lebih luas

dari logika manusia.

Engkau mungkin tidak langsung berhasil.

Tidak langsung tenang.

Tapi jika engkau tetap bertahan,

tetap jujur pada luka,

dan tetap menyebut nama-Nya

di sela napas yang berat—

ketahuilah:

Allah tidak pernah terlambat.

Yang terlambat hanyalah pemahaman kita

tentang waktu-Nya.

Dan pada akhirnya,

yang gagal hari ini

bisa jadi sedang disiapkan

menjadi manusia

yang lebih rendah hati,

lebih bening imannya,

dan lebih lembut terhadap sesama yang jatuh.

Karena hati yang dikembalikan kepada Allah

tidak selalu utuh seperti semula,

tetapi selalu lebih tahu

ke mana ia harus bersandar.

 

Tidak semua yang luput kemarin layak disesali.

Ada hal-hal yang memang harus pergi agar hati belajar melepaskan. Kegagalan hari kemarin bukan untuk diulang dalam ratap, melainkan untuk ditinggalkan dengan sadar. Bukan dilupakan karena lari, tetapi dilepaskan karena paham: apa yang bukan jatah kita, tak akan pernah betah tinggal di genggaman.

Saat orang lain tampak sampai, kita sering mengira diri tertinggal. Padahal sukses yang terlihat belum tentu sedang membawa bahagia, dan kegagalan yang kita rasakan belum tentu sedang menjatuhkan derajat. Kita merasa gagal bukan karena hidup berhenti, tetapi karena apa yang kita kejar ternyata bukan yang Allah berikan. Dan di situlah rasa perih itu lahir—perih karena membandingkan takdir sendiri dengan takdir orang lain.

Maka biarlah hari ini kita bersimpuh.

Bukan sebagai orang kalah, tetapi sebagai hamba yang kembali. Bersimpuh kepada Allah yang Maha Mengetahui mengapa sesuatu diraih orang lain, dan mengapa ia luput dari kita. Di hadapan-Nya, kegagalan kehilangan wajah buruknya; ia hanya berubah menjadi jeda, menjadi belokan, menjadi cara lain untuk diselamatkan dari arah yang keliru.

Tidak meraih bukan berarti tidak layak.

Tidak sampai bukan berarti tidak dipilih. Bisa jadi Allah sedang menunda agar hati tidak rusak oleh hasil yang belum sanggup ditanggung. Maka tenanglah. Lupakan kegagalan kemarin sebagaimana malam yang telah berlalu. Ambil hikmahnya, serahkan sisanya. Karena yang benar-benar gagal hanyalah mereka yang berhenti bersimpuh, bukan mereka yang belum sampai.

Ya Allah, jika hari ini yang tersisa hanya letih dan rasa gagal, maka terimalah ia sebagai jalan pulang. Jangan Kau biarkan hati kami terpaut pada apa yang tidak Kau takdirkan, dan jangan Kau beratkan jiwa dengan penyesalan atas apa yang telah Kau ambil. Ajari kami ridha tanpa kehilangan harap, sabar tanpa mematikan ikhtiar, dan pasrah tanpa merasa hampa. Jika orang lain Kau beri sampai, cukupkan kami dengan tenang; jika orang lain Kau beri hasil, cukupkan kami dengan yakin. Karena bagi kami, cukuplah Engkau yang menjaga hati ini agar tetap hidup, tetap tunduk, dan tetap percaya bahwa segala yang terjadi—adalah cara-Mu mencintai kami.

Amin, yā Mujības Sāilìn

Gresik, 21 Januari 2026

Ahmad Chuvav Ibriy

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik

Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM