Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan penuh slogan dan pidato. Momentum ini mestinya menjadi waktu untuk bertanya dengan jujur: sedang ke mana arah bangsa ini dibawa? Ketika nilai tukar rupiah terus melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.600 terhadap dolar Amerika, pertanyaan itu menjadi semakin relevan, terutama bagi generasi muda yang sedang menatap masa depan dengan penuh kecemasan.
Bagi sebagian elite, angka pelemahan rupiah mungkin hanya dianggap fluktuasi ekonomi biasa. Namun bagi rakyat kecil dan anak-anak muda yang sedang mencari pekerjaan, angka itu memiliki arti yang jauh lebih nyata. Harga kebutuhan pokok bisa naik, biaya pendidikan semakin berat, peluang usaha mengecil, dan perusahaan-perusahaan mulai berhitung untuk mengurangi biaya produksi. Dalam situasi seperti ini, yang paling rentan bukan para pejabat atau pemilik modal besar, tetapi generasi muda yang baru lulus sekolah, kuliah, atau pesantren dan sedang mencari tempat berpijak dalam kehidupan.
Hari ini banyak anak muda hidup dalam suasana ketidakpastian. Mereka tumbuh dengan janji bonus demografi, tetapi berhadapan dengan lapangan kerja yang sempit. Mereka didorong untuk sekolah tinggi, tetapi setelah lulus justru kebingungan mencari pekerjaan yang layak. Tidak sedikit sarjana yang akhirnya bekerja serabutan, menjadi pekerja informal, atau bahkan menganggur dalam waktu lama. Di desa-desa, banyak anak muda mulai kehilangan harapan. Sebagian memilih merantau tanpa kepastian, sebagian lagi tenggelam dalam media sosial, judi online, pinjaman digital, hingga budaya instan yang merusak mentalitas kerja keras.
Yang lebih memprihatinkan, generasi muda hari ini juga mengalami krisis keteladanan. Mereka melihat para pemimpin negeri sering lebih sibuk membuat pencitraan daripada memberi arah. Pernyataan-pernyataan yang keluar kadang terasa jauh dari realitas kehidupan rakyat. Ketika rupiah melemah dan ekonomi terasa berat, rakyat justru disuguhi komentar-komentar yang terkesan meremehkan keadaan. Padahal anak muda membutuhkan kejujuran, keseriusan, dan keberanian pemimpin dalam menghadapi persoalan bangsa, bukan sekadar narasi penghibur yang mengabaikan kenyataan di lapangan.
Anak muda belajar bukan hanya dari buku sekolah, tetapi juga dari perilaku elite negara. Ketika mereka melihat korupsi terus terjadi, hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas, pejabat gemar bermewah-mewahan di tengah kesulitan rakyat, maka yang rusak bukan hanya ekonomi, tetapi juga moral generasi. Mereka bisa kehilangan keyakinan bahwa kerja keras dan kejujuran benar-benar dihargai di negeri ini. Dalam jangka panjang, ini jauh lebih berbahaya daripada sekadar melemahnya nilai tukar rupiah.
Kebangkitan bangsa sejatinya dimulai dari keteladanan. Dahulu para tokoh pergerakan nasional hidup sederhana, berpikir besar, dan menjadikan rakyat sebagai pusat perjuangan. Mereka tidak membangun citra melalui media sosial, tetapi membangun kesadaran melalui pendidikan, organisasi, dan pengorbanan. Mereka memahami bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas manusia, bukan sekadar proyek pembangunan atau statistik pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional tahun ini seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Negara tidak cukup hanya membangun jalan, gedung, atau infrastruktur fisik, tetapi juga harus membangun harapan generasi muda. Anak-anak muda membutuhkan pekerjaan yang layak, pendidikan yang terjangkau, dan ruang untuk berkembang. Mereka membutuhkan iklim sosial yang sehat, bukan suasana politik yang penuh kegaduhan dan permusuhan tanpa akhir.
Kita juga perlu jujur bahwa tidak semua persoalan bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Masyarakat, dunia pendidikan, pesantren, tokoh agama, dan keluarga memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk mental generasi muda. Anak muda harus diajarkan bahwa kehidupan tidak dibangun dengan budaya instan. Mereka perlu dibekali daya tahan, kemampuan berpikir kritis, akhlak, dan keberanian menghadapi kenyataan hidup. Sebab bangsa yang kuat tidak lahir dari generasi yang mudah menyerah atau hanya pandai mengeluh.
Namun demikian, negara tetap memiliki tanggung jawab utama untuk menciptakan sistem yang adil. Sebab sekuat apa pun mental anak muda, mereka akan sulit berkembang jika peluang kerja semakin sempit, biaya hidup terus naik, dan akses ekonomi hanya dikuasai kelompok tertentu. Kebangkitan bangsa tidak akan pernah terwujud jika generasi mudanya justru hidup dalam rasa putus asa.
Pada akhirnya, Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya tentang mengenang sejarah masa lalu, tetapi tentang menyelamatkan masa depan. Dan masa depan itu hari ini sedang dipertaruhkan di hadapan generasi muda Indonesia. Mereka sedang melihat, menilai, dan belajar dari apa yang dilakukan para pemimpin negeri ini. Apakah mereka mendapatkan teladan tentang kesederhanaan, kejujuran, keberanian, dan pengabdian? Ataukah justru menyaksikan kegaduhan, pencitraan, dan perebutan kepentingan yang semakin menjauh dari penderitaan rakyat?
Jika bangsa ini sungguh ingin bangkit, maka yang pertama kali harus dibangkitkan adalah kejujuran dalam melihat keadaan, keberanian memperbaiki kesalahan, dan keteladanan moral dari para pemimpinnya. Sebab tanpa itu semua, kebangkitan hanya akan tinggal menjadi slogan tahunan, sementara generasi muda terus berjalan sendirian menghadapi masa depan yang semakin gelap.
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM