Loading...
Sebelum Menyelamatkan Dunia
06/09/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy 


Sebelum berbicara tentang bagaimana menyelamatkan dunia, manusia perlu belajar menikmati keindahan manusia lain.

Kalimat ini terdengar sederhana, namun, tidak mudah bagi seseorang untuk melihat keindahan di luar cermin dirinya sendiri. Kita sering begitu bersemangat berbicara tentang kebenaran, kebaikan, agama, peradaban, bahkan tentang bagaimana seharusnya dunia berjalan. Kita ingin orang lain berubah, masyarakat diperbaiki, zaman diselamatkan. Tetapi tanpa sadar, kita lupa bahwa di hadapan kita bukan sekadar “masalah” yang harus diselesaikan, melainkan manusia yang mempunyai pengalaman, sejarah, keyakinan, luka, kebudayaan, dan keindahannya sendiri.

Barangkali salah satu penyakit manusia adalah terlalu cepat menjadi hakim dan terlalu lambat menjadi pembelajar.

Kita mudah menemukan kesalahan pada kelompok lain. Yang berbeda dari kita segera diberi jarak. Yang tidak sama dengan keyakinan kita dianggap keliru. Padahal, menerima bahwa manusia lain memiliki sesuatu yang baik tidak serta-merta membuat kita kehilangan keyakinan sendiri.

Kita tidak menjadi lebih kecil karena belajar dari peradaban lain. Justru kita menjadi lebih manusiawi ketika mampu melihat kebenaran dan keindahan di luar kelompok kita sendiri.

Tetapi untuk sampai ke sana dibutuhkan kerendahan hati. Kita harus bersedia keluar sebentar dari ruang nyaman yang dibangun oleh identitas kita sendiri. Bukan untuk meninggalkannya, melainkan untuk melihat dunia dari jendela yang lebih luas.

Di sinilah saya teringat pada Goethe.

Seorang intelektual besar Eropa yang justru membuka dirinya kepada dunia Islam melalui karya-karya Hafiz. Ia membaca, mengagumi, dan berdialog dengan kebudayaan yang bukan berasal dari lingkungan tempat ia tumbuh. Pertemuan itu tidak membuat Goethe berhenti menjadi orang Eropa. Sebaliknya, perjumpaan dengan dunia lain memperluas cakrawala kemanusiaannya.

Barangkali begitulah seharusnya sebuah peradaban bertemu dengan peradaban lain: bukan selalu dengan pertanyaan, “Apa yang salah dari mereka?”, tetapi juga dengan kesediaan bertanya, “Apa yang indah dari mereka, dan apa yang dapat saya pelajari?”

Sebab tidak semua perjumpaan harus berakhir dengan keseragaman.

Kita boleh tetap berbeda. Bahkan mungkin perbedaan itu memang diperlukan. Tetapi perbedaan tidak semestinya membuat kita kehilangan kemampuan untuk mengagumi.

Kita bisa berbeda agama, berbeda bangsa, berbeda tradisi, berbeda mazhab, bahkan berbeda pandangan tentang kehidupan. Namun kita masih bisa melihat keberanian pada orang yang berbeda dari kita. Kita bisa menghargai kejujurannya, mengagumi kecerdasannya, menikmati puisinya, belajar dari pemikirannya, atau sekadar tersentuh oleh kebaikan hatinya.

Mungkin di situlah kemanusiaan menemukan salah satu bentuknya yang paling sederhana.

Sebelum ingin menyelamatkan dunia, belajarlah terlebih dahulu melihat manusia.

Sebelum sibuk menunjukkan kesalahan orang lain, belajarlah menemukan keindahan yang mungkin selama ini luput dari pandangan kita.

Sebab bisa jadi dunia tidak kekurangan orang yang ingin menyelamatkannya. Dunia justru kekurangan manusia yang bersedia memahami manusia lain.

Dan mungkin, dari situlah sebuah dialog peradaban sesungguhnya bermula: bukan ketika kita berhasil membuat orang lain menjadi seperti kita, tetapi ketika kita mampu berkata,

“Aku berbeda denganmu, tetapi aku tetap dapat melihat keindahan dalam dirimu.”

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb 


Gresik,  6 September 2026

Ahmad Chuvav Ibriy