Loading...
SLIP OF TONGUE
16/08/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy 

Sabqul lisan, kesleo lisan, atau slip of tongue tentu bisa terjadi pada siapa saja, termasuk seorang Presiden. Tetapi kalau keseleo lisan terjadi berulang kali, barangkali orang-orang terdekat beliau perlu memberi perhatian lebih serius pada persiapan setiap pidato. Bukan untuk membatasi spontanitas Presiden, apalagi mencari-cari kesalahan, melainkan memastikan angka, data, istilah, dan pesan utama benar-benar dipersiapkan dengan baik. Sebab, satu kalimat yang keliru dari seorang kepala negara bisa menjadi berita besar dan menimbulkan tafsir ke mana-mana. Kasus ucapan Rp700.000 per kilogram untuk upah mengupas bawang, misalnya, boleh saja disebut slip of tongue. Tetapi jika slip of tongue terlalu sering, mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya lisannya, melainkan juga naskah, briefing, dan orang-orang yang bertugas menyiapkan pidato beliau.

Ada yang mulai memplesetkan Prabowonomics menjadi “Prabowo No Mic”—Prabowo tanpa mikrofon. Tentu ini bukan ajakan untuk menjauhkan Presiden dari rakyat atau membatasi komunikasi beliau. Ini sekadar sindiran bahwa, ketika keseleo lisan terlalu sering terjadi, orang-orang terdekat Presiden justru perlu lebih selektif dalam menentukan kapan mikrofon diberikan dan kapan briefing diperketat. Karena yang dibutuhkan bukan Presiden yang tidak boleh bicara, melainkan Presiden yang setiap kali bicara tidak membuat orang-orang di belakangnya sibuk menjelaskan apa yang sebenarnya beliau maksud.

Saran untuk orang-orang dekat Pak Presiden: jangan biarkan beliau terlalu sering “keseleo” di depan mikrofon. Kalau ada yang memplesetkan Prabowonomics menjadi “Prabowo No Mic”, jangan buru-buru dianggap sebagai ejekan. Bisa jadi itu justru bentuk perhatian dari orang-orang yang ingin menjaga marwah Presiden. Presiden tentu tetap harus bicara, tetap harus dekat dengan rakyat, tetapi setiap ucapan seorang kepala negara memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar daripada ucapan orang biasa. Karena itu, naskah, angka, data, dan briefing sebelum pidato harus benar-benar diperhatikan. Dan kalau ada yang bertanya, mengapa saya cerewet soal ini? Jawabannya sederhana: justru karena saya cinta Presiden. Kritik ini bukan untuk menjatuhkan beliau, tetapi agar setiap kali Presiden berbicara, yang menjadi bahan pembicaraan adalah gagasan besarnya—bukan keseleo lisannya.

Jangan pernah lelah mencintai Indonesia ! 


Gresik, 16 Agustus 2026


AHMAD CHUVAV IBRIY