Loading...
TAHAJUD DAN KERESAHAN NEGERIKU (SERI 2)
29/07/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Ketika Rakyat Menjadi Penonton di Rumahnya Sendiri

Puisi Esai

Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy 


Malam kembali menyelimuti bumi.

Bintang-bintang bertebaran,

namun cahaya terasa redup

di hati mereka yang memikul beban hidup.

Di sebuah rumah sederhana,

seorang kiai kembali terjaga.

Bukan karena insomnia.

Bukan karena usia.

Tetapi karena negeri ini

terlalu sering hadir dalam mimpinya.


Ia berwudhu.

Lalu berdiri menghadap kiblat.

Membuka lembar demi lembar kegelisahan

yang tak pernah selesai dibaca.

---


"Ya Allah...

Aku datang lagi malam ini.

Bukan membawa urusan pribadiku.

Aku datang membawa suara-suara

yang tak pernah sampai ke meja kekuasaan."

Suaranya bergetar.

Seperti ranting tua

yang digoyang angin musim kemarau.

Ia melihat rakyat kecil

yang semakin pandai menahan lapar.

Pandai menahan kecewa.

Pandai menahan tangis.

Karena hidup telah mengajari mereka

bahwa mengeluh pun

tidak selalu menghadirkan perubahan.


---

Ya Allah...

Di negeri yang katanya kaya,

masih banyak anak-anak

yang belajar di ruang bocor.


Masih banyak orang tua

yang harus memilih:

membeli obat

atau membeli beras.

Masih banyak pemuda

yang menggenggam ijazah

namun kehilangan arah.

Sedangkan sebagian yang lain

melenggang tanpa kesulitan,

karena nama keluarga,

karena koneksi,

karena kedekatan dengan lingkaran kuasa.


Apakah keadilan kini

harus memiliki kartu anggota?

---

Kiai itu menengadah.

Air matanya jatuh perlahan.

Ia teringat janji-janji.

Janji yang pernah diucapkan

di atas panggung-panggung megah.


Janji yang disambut tepuk tangan.

Janji yang ditulis media.

Janji yang kini

menguap bersama waktu.

Rakyat diberi harapan.

Kemudian diminta bersabar.

Lalu diminta memahami keadaan.

Dan akhirnya diminta diam.


"Ya Allah,

jangan biarkan kesabaran rakyat

ditafsirkan sebagai kelemahan."

---


Dalam sujudnya,

ia melihat gedung-gedung tinggi.

Jalan-jalan besar.

Proyek-proyek raksasa.

Angka-angka pertumbuhan.

Laporan-laporan keberhasilan.

Namun di balik semua itu,

ia masih mendengar suara lirih:

"Harga naik..."

"Pekerjaan sulit..."

"Usaha sepi..."

"Hidup semakin berat..."

Seakan ada dua negeri

yang hidup berdampingan.

Satu negeri berada dalam laporan.

Satu negeri berada dalam kenyataan.

---

Ya Allah...

Mengapa suara rakyat

sering hanya dicari saat pemilihan?


Setelah itu,

mereka kembali menjadi angka.

Menjadi statistik.

Menjadi objek survei.

Menjadi penonton

di rumahnya sendiri.

Sedangkan keputusan-keputusan besar

ditentukan jauh dari suara mereka.

Bukankah negeri ini dibangun

atas nama rakyat?

Mengapa rakyat justru

sering menjadi tamu?

---

Kiai itu menghela napas panjang.

Malam semakin tua.

Namun kegelisahan belum juga tidur.

Ia teringat para pejabat

yang berlomba membangun citra.

Saling memuji.

Saling mengangkat nama.

Saling menciptakan tepuk tangan.

Sementara kritik

dianggap gangguan.

Masukan dianggap serangan.

Perbedaan dianggap permusuhan.

Padahal kebenaran

tidak selalu datang

dari orang yang mengangguk.

Kadang ia datang

dari mereka yang berani berkata:

"Ada yang harus diperbaiki."

---


"Ya Allah...

Jika negeri ini sedang diuji,

kuatkan rakyatnya.

Jika para pemimpinnya sedang lupa,

ingatkan hatinya.

Jika mereka sedang tersesat oleh pujian,

kembalikan mereka pada amanah.

Jika mereka sedang mabuk kekuasaan,

sadarkan mereka bahwa jabatan

hanyalah titipan sementara."

Karena tidak ada kursi

yang abadi.

Tidak ada kekuasaan

yang kekal.

Tidak ada kemegahan

yang mampu melawan kematian.

---


Menjelang Subuh,

kiai itu menutup doanya.

Sajadahnya basah.

Matanya sembab.

Namun harapannya tetap menyala.

Ia percaya,

Allah mendengar

apa yang tidak didengar manusia.

Allah melihat

apa yang disembunyikan kekuasaan.

Allah mengetahui

apa yang luput dari catatan dunia.


Dan ketika keadilan manusia

terkadang terlambat datang,

keadilan Allah

tak pernah salah alamat.

Maka ia pun berbisik:


"Ya Allah...

jangan biarkan negeri ini

kehilangan nurani.

Karena ketika nurani mati,

hukum menjadi dagangan.

Kekuasaan menjadi tujuan.

Dan rakyat menjadi korban.

Tetapi ketika nurani hidup,

keadilan akan menemukan jalannya,

meski harus menembus gelapnya malam."


Ya Muqallibal Qulub,

tetapkan hati kami

di jalan kebenaran.

Aamiin.


Ponpes Al-Amin

29 Juli 2026

AHMAD CHUVAV IBRIY

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik 

Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik